11. SURAT HUD
تَفْسِيرُ سُورَةِ هُودٍ
Makkiyyah,
123 Ayat. Kecuali ayat 12, 17 Dan 114 Madaniyyah. Turun sesudah Surat Yunus
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ
الْبَزَّارُ، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ عِكْرِمة
قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَا شَيّبك؟ قَالَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ،
وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ "
Al-Hafiz
Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Hisyam
Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari
Ikrimah yang mengatakan bahwa Abu Bakar r.a. pernah mengatakan bahwa ia pernah
bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang ubannya (yakni kesusahannya). Maka
Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban (susah) oleh surat Hud,
surat Al-Waqi'ah, surat An-Naba, dan surat At-Takwir.
قَالَ أَبُو عِيسَى
التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا
مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ
عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
قَدْ شِبْتَ؟ قَالَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ،
وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
"وَفِي رِوَايَةٍ: " هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا ".
Abu
Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad
ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Hisyam, dari Syaiban,
dari Abu Ishaq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Abu Bakar
pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah
beruban." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban oleh surat
Hud, surat Waqi'ah, surat Mursalat, surat An-Naba, dan surat At-Takwir. Menurut
riwayat lain disebutkan, "Oleh surat Hud dan saudara-saudaranya."
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ:
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ الْحَسَنِ،
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَلَّامٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي
حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا: الْوَاقِعَةُ،
وَالْحَاقَّةُ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ " وَفِي رِوَايَةٍ: " هُودٌ
وَأَخَوَاتُهَا "
Imam
Tabrani mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad telah
menceritakan kepada kami Hajjaj ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami
Sa'id ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Muhammad, dari Abu
Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Aku telah dijadikan beruban oleh surat Hud dan saudara-saudaranya,
yaitu Al-Waqi'ah, Al-Haqqah, dan Izasy Syamsu Kuwwirat (At-Takwir). Menurut
riwayat lain hanya disebutkan surat Hud dan saudara-saudaranya.
Imam
Tabrani telah meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Mas'ud dengan lafaz yang
semisal. Untuk itu, Al-Hafiz Abul Qasim Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani
mengatakan di dalam kitab Mu’jamul Kabir-nya bahwa:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ طَارِقٍ
الرَّائِشِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا شَيَّبَكَ؟ قَالَ: " هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ "
telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan
kepada kami Ahmad ibnu Tariq Ar-Rabisyi, telah menceritakan kepada kami Amr
ibnu Sabit, dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a., bahwa Abu Bakar
pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa Engkau beruban?" Maka
Rasulullah Saw. bersabda: (Karena) surat Hud dan surat Al- Waqi'ah.
Amr
ibnu Sabit, hadisnya tidak dapat dipakai; dan Abu Ishaq tidak menjumpai masa
Ibnu Mas'ud.
Hud, ayat 1-4
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan
nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
{الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ
حَكِيمٍ خَبِيرٍ (1) أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ
وَبَشِيرٌ (2) وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ
فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
(3) إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (4) }
Alif Lam Ra, (inilah)
suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara
terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi
Mahatahu, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad)
adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian dari-Nya;
dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian, dan bertobatlah
kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada
waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang
yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling,
maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa di hari kiamat. Kepada
Allah-lah kembali kalian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dalam
permulaan surat Al-Baqarah telah disebutkan perihal huruf-huruf Hijaiyah yang
ada pada permulaan surat-surat Al-Qur'an, yaitu dengan keterangan yang tidak
perlu untuk diulangi lagi dalam bab ini, dan hanya kepada Allah-lah kami
memohon taufik.
Firman
Allah Swt.:
{أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ}
yang
ayat-ayatnya disusun dengan rapi. (Hud:
1)
Lafaznya
tersusun rapi, sedangkan maknanya terinci. Dengan demikian, Al-Quran menjadi
sempurna ditinjau dari segi bentuk dan maknanya.
Demikianlah
menurut makna yang diriwayatkan oleh Mujahid dan Qatadah serta dipilih oleh
Ibnu Jarir.
Firman
Allah Swt.:
{مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ}
dari
sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi
Mahatahu. (Hud: 1)
Yakni
yang diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dalam semua ucapan dan
hukum-Nya, lagi Mahawaspada mengenai akibat segala urusan.
{أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ}
agar
kalian tidak menyembah selain Allah. (Hud:
2)
Artinya,
Al-Qur'an yang muhkam dan mufassal ini diturunkan agar hanya
Allah sematalah yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Ayat ini pengertiannya
sama dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ
رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ}
Dan
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh
kamu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya:
25)
{وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ}
Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Tagut.” (An-Nahl: 36)
*******************
Adapun
firman Allah Swt.:
{إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ}
Sesungguhnya
aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian dari-Nya.
(Hud: 2)
Maksudnya,
sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian dari azab Allah jika
kalian menentang-Nya, dan sebagai pembawa berita gembira dengan pahala yang
berlimpah jika kalian taat kepada-Nya.
Di
dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menaiki Bukit Safa, lalu
memanggil semua puak kabilah Quraisy yang terdekat, kemudian yang masih ada
hubungan famili dengannya, hingga mereka berkumpul, lalu Rasulullah Saw.
bersabda:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ،
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تُصَبِّحُكُمْ ، أَلَسْتُمْ
مُصَدِّقِيَ؟ " فَقَالُوا: مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا. قَالَ:
"فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٌ شَدِيدٌ"
Hai
orang-orang Quraisy, bagaimanakah penilaian kalian jika aku beritakan kepada
kalian bahwa pasukan berkuda akan menyerang kalian di waktu pagi. Apakah kalian
akan percaya kepadaku? Mereka
menjawab, "Kami belum pernah melihat engkau berbuat suatu kedustaan."
Maka Rasulullah Saw. bersabda: Maka sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan kepada kalian di hadapan azab yang keras.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ
كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}
dan
hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian, dan bertobatlah kepada-Nya.
(Jika kalian mengerjakan yang
demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus)
kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan
memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
(Hud: 3)
Artinya,
aku perintahkan kalian untuk memohon ampun kepada Allah dari segala dosa dan
bertobat darinya kepada Allah Swt. di masa mendatang, dan hendaklah kalian
terus-menerus dalam keadaan seperti itu.
{يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا}
niscaya
Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian. (Hud: 3)
Yakni
di dunia ini.
{إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي
فَضْلٍ فَضْلَهُ}
sampai
kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap
orang yang mempunyai keutamaan (balasan)
keutamaannya. (Hud: 3)
Yaitu
di akhirat nanti. Demikianlah menurut penafsiran Qatadah, perihalnya sama dengan
makna ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ
أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Barang
siapa yang mengerjakan amal saleh—baik laki-laki maupun perempuan— dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik. (An-Nahl: 97), hingga akhir ayat.
Di
dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Sa'd:
"وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ
نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ، إِلَّا أجِرْت بِهَا، حَتَّى مَا
تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ"
Dan
sesungguhnya engkau, tidak sekali-kali mengeluarkan suatu nafkah dengan
mengharapkan rida dan pahala Allah, melainkan engkau akan mendapat pahala
balasannya, hingga makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.
Ibnu
Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Musayyab ibnu Syarik,
dari Abu Bakar, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Mas'ud r.a. sehubungan dengan
firman-Nya: dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai
keutamaan (balasan) keutamaannya. (Hud: 3) Bahwa barang siapa yang
melakukan suatu keburukan, maka dicatatkan atasnya satu keburukan; dan barang
siapa yang mengerjakan suatu amal kebaikan, maka dicatatkan untuknya sepuluh
pahala kebaikan. Jika ia disiksa karena perbuatan buruk yang pernah
dilakukannya di dunia, maka tersisalah baginya sepuluh pahala kebaikan (di
akhirat). Jika ia tidak disiksa di dunia karena suatu amal keburukannya itu,
maka akan diambil satu pahala kebaikan dari sepuluh pahala kebaikannya,
sehingga yang tersisa baginya ada sembilan pahala kebaikan. Kemudian Ibnu
Mas'ud mengatakan, "Binasalah orang yang satuannya mengalahkan
puluhannya," Yakni keburukannya menghabiskan pahala kebaikannya yang
sepuluh kali lipat itu.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ
عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ}
Jika
kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari
kiamat. (Hud: 3)
Di
dalam makna ayat ini terkandung ancaman yang keras bagi orang yang berpaling
dari perintah-perintah Allah Swt. dan mendustakan rasul-rasul-Nya, karena
sesungguhnya azab Allah pasti akan mengenainya di hari kiamat kelak tanpa
terelakkan lagi.
{إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ}
Kepada
Allah-lah kembali kalian. (Hud: 4)
Artinya,
kalian akan dikembalikan hanya kepada Allah di hari kiamat kelak.
{وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}
dan
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Hud:
4)
Yakni
Dia Mahakuasa terhadap apa yang dikehendaki-Nya, seperti berbuat baik kepada
kekasih-kekasih-Nya dan menyiksa musuh-musuhNya; juga Mahakuasa untuk
menghidupkan semua makhluk di hari kiamat kelak. Di dalam ayat ini terkandung
pengertian tarhib (peringatan), sebagai kebalikan dari bagian
pertamanya yang mengandung targib (anjuran).
Hud, ayat 5
{أَلا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ
صُدُورُهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ
مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (5) }
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan
diri darinya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya
dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka
lahirkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Ibnu
Abbas mengatakan bahwa mereka tidak suka bila menghadapkan kemaluan mereka ke
arah langit di saat mereka melakukan senggama (jimak). Lalu Allah Swt.
menurunkan ayat ini.
Imam
Bukhari meriwayatkan melalui jalur Ibnu Juraij, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu
Ja'far, bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka
memalingkan dada mereka. (Hud: 5), hingga akhir ayat. Lalu aku bertanya,
"Hai Ibnu Abbas, apakah yang dimaksud dengan memalingkan dada
mereka?" Ibnu Abbas menjawab, "Lelaki yang sedang menyetubuhi
istrinya, lalu ia merasa malu; atau dia sedang membuang hajatnya, lalu merasa
malu," maka turunlah firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka
memalingkan dadanya. (Hud: 5)
Menurut
lafaz yang lain, Ibnu Abbas mengatakan bahwa dahulu ada orang-orang yang merasa
malu bila membuang hajatnya karena akan kelihatan dari langit, begitu pula bila
mereka menyetubuhi istri-istri mereka dengan menghadap ke arah langit. Maka
turunlah ayat ini berkenaan dengan mereka.
Kemudian
Imam Bukhari mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah
menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Ibnu
Abbas membaca firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan dadanya
untuk menyembunyikan diri darinya. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti
dirinya dengan kain. (Hud: 5)
Imam
Bukhari dan lain-lainnya meriwayatkan melalui Ibnu Abbas, bahwa makna
firman-Nya, "Yastagsyuna," ialah 'menutupi kepala mereka
dengan kainnya'.
Menurut
riwayat lain, dalam tafsir ayat ini disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengartikannya
dengan pengertian ragu kepada Allah dan mengerjakan keburukan-keburukan. Hal
yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya. Dengan
kata lain, mereka memalingkan dadanya di kala mengucapkan sesuatu atau
mengerjakan sesuatu, dengan dugaan bahwa dengan berbuat demikian mereka dapat
menyembunyikan dirinya dari Allah Swt. Maka Allah memberitahukan kepada mereka
bahwa di waktu mereka menutupi dirinya dengan kain saat mereka tidur di malam
hari: Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Hud: 5) Yakni
perkataan yang mereka sembunyikan. dan apa yang mereka lahirkan.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Hud: 5) Maksudnya,
Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati mereka, yakni semua niat
buruk dan rahasia mereka.
Alangkah
baiknya apa yang dikatakan oleh Zuhair ibnu Abu Salma dalam Mu'allaqah-nya yang
terkenal itu, yaitu:
فَلا تَكْتُمُنَّ اللَّهَ مَا فِي نُفُوسِكُمْ ... لِيُخْفَى، فَمَهْمَا
يُكتم اللَّهُ يَعْلم ...
يُؤخَر فيوضَع فِي
كِتَابٍ فَيُدخَر ... لِيَوْمِ حِسَابٍ، أَوْ يُعَجل فَيُنْقمِ
Jangan sekali-kali kalian
menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati kalian dari Allah, dengan maksud
agar Allah tidak mengetahuinya. Betapapun kamu sembunyikan dari Allah, Dia Maha
Mengetahui. Dia menangguhkan, lalu mencatatnya di dalam kitab catatan (amal) untuk
disimpan buat (dibeberkan nanti) pada hari perhitungan, atau Dia
menyegerakan pembalasan-Nya (di dunia).
Penyair
Jahiliah ini telah mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta, memiliki
pengetahuan tentang segala yang terinci, juga tentang hari kembali (hari
kiamat), hari pembalasan, dan catatan amal perbuatan di dalam kitab-kitab
catatan amal yang akan dibeberkan di hari kiamat nanti.
Abdullah
ibnu Syaddad mengatakan, "Apabila salah seorang dari mereka bersua dengan
Rasulullah Saw., maka ia memalingkan dadanya dan menutupi kepalanya (agar
tersembunyi) dari Nabi Saw. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya berkenaan
dengan hal tersebut."
Akan
tetapi, bila damir dikembalikan kepada Allah (bukan kepada Nabi Saw.)
adalah lebih utama, karena firman selanjutnya mengatakan:
{أَلا حِينَ
يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ}
Ingatlah,
di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang
mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan. (Hud: 5)
Ibnu
Abbas membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
أَلا إِنِّهُمْ تَثْنوني
صُدُورُهُم"
Ingatlah,
sesungguhnya mereka memalingkan dadanya. (Hud:
5)
Lafaz
sudurahum dibaca rafa' hingga menjadi suduruhum, yakni tasnuna
suduruhum, karena dianggap menjadi fa'il; bacaan ini dekat dengan
makna yang dimaksud.
**************************************
Akhir juz 11
**************************************
Rev. 09.05.2013
Hud, ayat 6
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي
الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا
وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (6) }
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).
Allah
Swt menceritakan bahwa Dialah yang menjamin rezeki makhlukNya, termasuk semua
hewan yang melata di bumi, baik yang kecil, yang besarnya, yang ada di daratan,
maupun yang ada di lautan. Dia pun mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Dengan kata lain, Allah mengetahui sampai di mana
perjalanannya di bumi dan ke manakah tempat kembalinya, yakni sarangnya; inilah
yang dimaksud dengan tempat penyimpanannya.
Ali
ibnu Abu Talhah dan lain-lainnya telah menceritakan dari Ibnu Abbas sehubungan
dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud:
6) Yakni tempat berdiamnya binatang itu (sarangnya) dan tempat
penyimpanannya. (Hud: 6) bila telah mati.
Diriwayatkan
dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat
berdiam binatang itu. (Hud: 6) Maksudnya, di dalam rahim. dan tempat
penyimpanannya. (Hud: 6) di dalam tulang sulbi, seperti yang terdapat pada
surat Al-An'am.
Hal
yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ad-Dahhak, dan sejumlah ulama.
Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan pendapat-pendapat ulama tafsir dalam ayat ini,
juga menyebutkan pendapat mereka tentang ayat dalam surat Al-An'am tersebut.
Makna
yang dimaksud ialah bahwa semuanya itu telah tercatat di dalam suatu Kitab yang
ada di sisi Allah yang menerangkan kesemuanya itu. Perihalnya sama dengan makna
yang terkandung di dalam firman-Nya:
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا
طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي
الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ}
Dan
tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat
(juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab,
kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An'am:38)
{وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي
ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}
Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan
bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Al-An'am: 59)
Hud, ayat 7-8
{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ
مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ
مُبِينٌ (7) وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَى أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ
لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ أَلا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ
وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (8) }
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan
adalah singgasana-Nya (sebelum
itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik
amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah), "Sesungguhnya
kalian akan dibangkitkan sesudah mati, " niscaya orang-orang yang kafir
itu akan berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Dan
sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu
yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, "Apakah yang
menghalanginya?” Ingatlah, di waktu azab itu datang kepada mereka tidaklah
dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya
mereka selalu memperolok-olokkannya.
Allah
Swt. menceritakan tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, bahwa Dialah Yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), dan bahwa 'Arasy-Nya
sebelum itu berada di atas air.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو
مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ جَامِعِ بْنِ شَدَّاد، عَنْ صَفْوَانَ
بْنِ مُحْرِزْ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ".
قَالُوا: قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا. قَالَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا
أَهْلَ الْيَمَنِ". قَالُوا: قَدْ قَبِلْنَا، فَأَخْبِرْنَا عَنْ أَوَّلِ
هَذَا الْأَمْرِ كَيْفَ كَانَ؟ قَالَ: "كَانَ اللَّهُ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ،
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ ذِكْرَ
كُلِّ شَيْءٍ". قَالَ: فَأَتَانِي آتٍ فَقَالَ: يَا عِمْرَانُ، انْحَلَّتْ
نَاقَتُكَ مِنْ عِقَالِهَا. قَالَ: فَخَرَجْتُ فِي إِثْرِهَا، فَلَا أَدْرِي مَا
كَانَ بَعْدِي
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Jami’ ibnu Syaddad, dari Safwan ibnu
Muharriz, dari Imran ibnu Husain yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda, "Terimalah kabar gembira, hai Bani Tamim!" Mereka
berkata, "Engkau telah menyampaikan berita gembira kepada kami, maka
berilah kami." Nabi Saw. bersabda, "Terimalah kabar gembira ini,
hai penduduk negeri Yaman!" Mereka menjawab, "Kami terima, maka
ceritakanlah kepada kami tentang permulaan dari kejadian ini. Bagaimanakah
prosesnya?" Rasulullah Saw. bersabda: Allah telah ada sebelum segala sesuatu
terjadi, dan 'Arasy-Nya berada di atas air, lalu Dia mencatat di dalam Lauh
Mahfuz ketetapan segala sesuatu. Imran ibnu Husain berkata, "Lalu aku
kedatangan seseorang yang mengatakan kepadaku, 'Hai Imran, unta kendaraanmu
telah lepas dari tambatannYa’lalu aku pergi mengejarnya sehingga aku tidak
mengetahui hadis selanjutnya."
Hadis
ini diketengahkan di dalam dua kitab Sahih, yaitu Sahih Bukhari dan
Sahih Muslim dengan teks yang cukup banyak, antara lain seperti berikut:
قَالُوا: جِئْنَاكَ
نَسْأَلُكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَالَ: "كَانَ اللَّهُ وَلَمْ
يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: غَيْرُهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: مَعَهُ
-وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ، ثُمَّ
خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ".
Bahwa
mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk menanyakan
tentang kisah kejadian ini pada awalnya." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Allah
telah ada, dan tiada sesuatu pun sebelum-Nya —menurut riwayat lain disebutkan
tiada sesuatu pun selain-Nya, dan menurut riwayat yang lainnya lagi
disebutkan tiada sesuatu pun bersamaNya— dan 'Arasy-Nya berada di
atas air, lalu Allah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuz kemudian menciptakan
langit dan bumi.
Di
dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ
قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ
بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ"
Sesungguhnya
Allah telah menetapkan takdir-takdir semua makhluk sebelum Dia menciptakan
langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, dan saat itu 'Arasy-Nya
berada di atas air.
Sehubungan
dengan tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا أَبُو
الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ
الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "قَالَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ: أنفِق أُنفقْ عَلَيْكَ". وَقَالَ: "يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغيضها
نَفَقَةٌ، سحَّاءَ الليلَ وَالنَّهَارَ" وَقَالَ "أَفَرَأَيْتُمْ مَا
أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغض مَا فِي
يَدِهِ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَبِيَدِهِ الْمِيزَانُ يَخْفِضُ
وَيَرْفَعُ"
telah
menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib,
telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah
r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah Swt.
berfirman, "Berinfaklah, niscaya Aku memberikan gantinya kepadamu!" Rasulullah
Saw. bersabda pula: Tangan (kemurahan) Allah selalu penuh, tiada
suatu nafkah pun yang dapat menguranginya; Dia selalu memberi sepanjang malam
dan siang hari. Bukankah kalian lihat apa yang telah dinafkahkan-Nya sejak Dia
menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang ada di tangan kanan (kemurahan)-Nya
tidaklah berkurang (karenanya). Dan adalah 'Arasy-Nya berada di atas
air, dan di tangan-Nya terletak mizan (neraca), Dia merendahkan
dan meninggikannya.
قَالَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ،
عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاء، عَنْ وَكِيع بْنِ عُدُس، عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِين
-وَاسْمُهُ لَقِيط بْنُ عَامِرِ بْنِ الْمُنْتَفِقِ العُقَيْلي -قَالَ: قُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟
قَالَ: "كَانَ فِي عَمَاء، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ،
ثُمَّ خَلَقَ الْعَرْشَ بَعْدَ ذَلِكَ"
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ya'la ibnu Ata, dari Waki'
ibnu Adas, dari pamannya (yaitu Abu Razin yang nama aslinya Laqit ibnu Amir
ibnul Munfiq Al-Uqaili), bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.,
"Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan
makhluk-Nya?" Rasulullah Saw. bersabda: Dia berada di awan yang di
bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara (pula), kemudian
sesudah itu Dia menciptakan 'Arasy.
Hadis
ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya, juga
oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya melalui hadis Yazid ibnu Harun
dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Mujahid
mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum
itu) di atas air. (Hud: 7) Yakni sebelum Dia menciptakan sesuatu.
Hal
yang sama telah dikatakan oleh Wahb ibnu Munabbih, Gamrah, Qatadah, Ibnu Jarir,
dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Qatadah
telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum
itu) berada di atas air. (Hud: 7) Allah menceritakan kepada kalian
bagaimana permulaan penciptaan makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan
bumi.
Ar-Rabi'
ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum
itu) berada di atas air. (Hud: 7) Ketika Allah menciptakan langit dan
bumi, Dia membagi air itu menjadi dua bagian; sebagian dijadikan di bawah
'Arasy, dan air itu adalah lautan yang meluap.
Ibnu
Abbas mengatakan, singgasana itu disebut 'Arasy karena ketinggiannya.
Ismail
ibnu Abu Khalid mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'd At-Ta-i berkata,
'Arasy itu berupa yaqut merah."
Muhammad
ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Dialah yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum
itu) di atas air. (Hud: 7) Keadaan 'Arasy-Nya adalah seperti yang
digambarkan oleh Allah Swt. sendiri, karena saat itu tiada lain kecuali air
yang di atasnya terdapat 'Arasy, dan di atas 'Arasy adalah Tuhan Yang memiliki
keagungan dan kemuliaan, kekuasaan dan pengaruh, Yang Memiliki dan Yang
Menguasai, Yang Maha Penyantun lagi Maha Mengetahui, Yang Memiliki Rahmat dan
Nikmat, serta Yang Maha Memperbuat segala yang dikehendakiNya.
Al-A'masy
telah meriwayatkan dari Al-Minhal ibnu Amr ibnu Sa'id ibnu Jubair yang
mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: dan
adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Bunyi
pertanyaan adalah, "Air itu berada di atas apa?" Ibnu Abbas menjawab,
"Berada di atas angin."
*******************
Firman
Allah Swt.:
{لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا}
agar
Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya. (Hud: 7)
Artinya,
Dia menciptakan langit dan bumi agar bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang telah
Dia ciptakan, agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu pun. Dan Allah tidak menciptakan hal tersebut dengan sia-sia, seperti
yang disebutkan dalam ayat lainnya:
{وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا
بَيْنَهُمَا بَاطِلا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ
كَفَرُوا مِنَ النَّارِ}
Dan
Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka
celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shad: 27)
{أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى
اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ}
Maka
apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada
Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia,
Tuhan (yang mempunyai) 'Arasy yang mulia. (Al-Mu’minun: 115-116)
{وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ}
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)
*******************
Adapun
firman Allah Swt.:
{لِيَبْلُوكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا}
agar
Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya. (Hud: 7)
Maksudnya,
untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling banyak amalnya. Dalam
ayat ini tidak disebutkan paling banyak amalnya, melainkan paling baik amalnya.
Dan tiadalah amal itu baik kecuali jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah
Swt. dan sesuai dengan syariat (tuntunan) Nabi Saw. Apabila sesuatu amal
kehilangan salah satu dari kedua syarat tersebut, maka amal itu batil dan gugur
(tidak ada pahalanya).
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ
مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ}
dan
jika kamu katakan (kepada penduduk Mekah), "Sesungguhnya
kalian akan dibangkitkan sesudah mati.” (Hud: 7), hingga akhir ayat.
Allah
Swt. berfirman bahwa jika engkau beritakan—hai Muhammad— kepada orang-orang
musyrik itu bahwa Allah kelak akan menghidupkan kembali mereka sesudah mati,
sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka, padahal mereka mengetahui bahwa
Allah Swt. adalah Yang menciptakan langit dan bumi, seperti yang disebutkan
oleh firman lainnya:
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ
لَيَقُولُنَّ اللَّهُ}
Dan
sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan
mereka," niscaya mereka menjawab, "Allah." (Az-Zukhruf: 87)
{وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ}
Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan
menjawab, "Allah" (Al-'Ankabut:
61)
Sekalipun
mengetahui hal tersebut, mereka ingkar kepada hari berbangkit dan hari kembali
kelak di hari kiamat, padahal bila dinilai dari segi kemampuan jauh lebih mudah
daripada memulai penciptaan, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam
firman-Nya:
{وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ
يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ}
Dan
Dialah yang menciptakan (manusia) dari
permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan
menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah. (Ar-Rum: 27)
{مَا
خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ}
Tidaklah
Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari
dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan mem bangkitkan)
satu jiwa saja. (Luqman: 28)
*******************
Adapun
firman Allah Swt.:
{إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ}
Ini
tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (Hud:
7)
Yakni
mereka berkata dengan nada kafir dan ingkar, "Kami tidak percaya kepadamu
yang mengatakan terjadinya hari berbangkit, dan tiadalah yang menyebutkan hal
tersebut kecuali orang yang telah engkau sihir, lalu ia mengikuti apa yang
engkau katakan."
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ
إِلَى أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ}
Dan
sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang
ditentukan. (Hud: 8)
Allah
Swt. berfirman, "Seandainya Kami tangguhkan azab dan hukuman terhadap
orang-orang musyrik itu sampai kepada suatu waktu yang ditentukan atau waktu
yang telah dibatasi. Lalu Kami janjikan hal itu kepada mereka sampai kepada
batas waktu yang telah ditetapkan, niscaya mereka akan mengatakan dengan nada
mendustakan dan menantang ingin segera diturunkan azab itu. 'Apakah gerangan
yang menyebabkan azab itu ditangguhkan dari kami?
Dikatakan
demikian karena tabiat dan watak mereka telah terbiasa dengan dusta dan ragu,
maka tiada kebiasaan mereka kecuali hanyalah berdusta dan meragukan; mereka
tidak dapat melepaskan tabiatnya.
Lafaz
ummah di dalam Al-Qur'an dan Sunnah digunakan untuk menunjukkan makna
yang beraneka ragam. Adakalanya makna yang dimaksud ialah waktu, seperti dalam
firman-Nya:
{إِلَى أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ}
suatu
waktu yang ditentukan. (Hud: 8)
Juga
dalam surat Yusuf, yaitu:
{وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ
بَعْدَ أُمَّةٍ}
Dan
berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya. (Yusuf:
45)
Adakalanya
menunjukkan makna "imam yang diikuti", seperti yang terdapat di dalam
firman-Nya:
{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا
لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ}
Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada
Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan). (An-Nahl: 120)
Adakalanya
dipakai untuk menunjukkan makna tuntunan dan agama, seperti yang disebutkan
oleh Allah Swt. dalam firman-Nya yang menceritakan perkataan orang-orang musyrik,
bahwa mereka telah mengatakan:
{إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ
وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ}
Sesungguhnya
kami menjumpai bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami
adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Az-Zukhruf:
23)
Adakalanya
pula dipakai untuk menunjukkan makna segolongan manusia, seperti yang
disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ
عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ}
Dan
tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan
orang yang sedang meminumkan (ternaknya).
(Al-Qashash: 23)
{وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ}
Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Tagut itu” (An-Nahl: 36)
{وَلِكُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ
لَا يُظْلَمُونَ}
Tiap-tiap
umat mempunyai rasul maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan
antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit
pun) tidak dianiaya. (Yunus: 47)
Makna
"umat" dalam ayat ini ialah orang-orang yang diutus di kalangan
mereka seorang rasul, baik yang mukmin maupun yang kafir, seperti yang
disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim:
"وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا
نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لَا يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ النَّارَ"
Demi
Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun
dari kalangan umat ini —baik
orang Yahudi ataupun orang Nasrani— yang telah mendengarku, lalu ia
tidak beriman kepadaku, melainkan masuk neraka.
Sedangkan
yang dimaksud dengan "umat pengikut" adalah orang-orang yang percaya
kepada para rasul, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ}
Kalian
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran: 110)
Di
dalam hadis sahih disebutkan:
" فَأَقُولُ:
أُمَّتِي أمتي".
Maka
aku berkata, "Umatku, umatkul"
Lafaz
Ummah ini pun terkadang digunakan untuk menunjukkan pengertian suatu
golongan atau sebagian, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman
Allah Swt.:
{وَمِنْ قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ
بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ}
Dan
di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat (golongan)_yawg
memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, dan dengan yang hak
itulah mereka menjalankan keadilan. (Al-A'raf: 159)
{مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ}
di
antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. (Ali Imran: 113), hingga akhir ayat.
Hud, ayat 9-11
{وَلَئِنْ أَذَقْنَا
الإنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نزعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ
(9) وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ
ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ (10) إِلا الَّذِينَ
صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
(11) }
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami
cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih Dan
jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya,
niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku, "
sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap
bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan
pahala yang besar.
Allah
Swt. menceritakan perihal manusia dan sifat-sifat tercela yang ada pada
dirinya, kecuali bagi orang yang dikasihi oleh Allah dari kalangan
hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahwa manusia itu apabila mendapat musibah
sesudah mendapat nikmat, maka ia akan berputus asa dan merasa terputus dari
kebaikan di masa selanjutnya, serta kafir dan ingkar terhadap keadaan yang
sebelumnya. Seakan-akan dia tidak pernah mengalami suatu kebaikan pun, dan
sesudah itu dia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun. Demikian pula
keadaannya jika ia mendapat nikmat sesudah sengsara, sebagaimana disebutkan
oleh Allah Swt.:
{لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي}
niscaya
dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku." (Hud: 10)
Yaitu
tidak akan ada kesengsaraan dan bencana lagi yang menimpaku sesudah ini.
{إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ}
sesungguhnya
dia sangat gembira lagi bangga. (Hud:
10)
Maksudnya,
merasa sangat gembira dengan nikmat yang ada di tangannya, lalu ia bersikap
angkuh dan sombong terhadap orang lain. Allah Swt. berfirman dalam ayat
selanjutnya.
{إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا}
kecuali
orang-orang yang sabar. (Hud: 11)
Yakni
sabar dalam menghadapi bencana dan kesengsaraan.
{وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}
dan
mengerjakan amal-amal saleh. (Hud:
11)
Yaitu
dalam keadaan sehat dan sejahtera.
{أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ}
mereka
itu beroleh ampunan. (Hud: 11)
Yakni
karena bencana yang telah menimpa mereka.
{وَأَجْرٌ كَبِيرٌ}
dan
pahala yang besar. (Hud: 11)
karena
apa yang telah mereka perbuat di masa makmur dan sejahteranya. Seperti yang
disebutkan di dalam suatu hadis:
"وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ هَمٌّ وَلَا غَمٌّ، وَلَا نَصَب وَلَا وَصَب،
وَلَا حَزَن حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ عَنْهُ بِهَا
مِنْ خَطَايَاهُ
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaanNya,
tidak sekali-kali menimpa seorang mukmin suatu derita dan tidak pula suatu
kesusahan, tidak pula suatu kepayahan, tidak pula suatu penyakit, tidak pula
suatu kesedihan sehingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan
karenanya sebagian dari dosa-dosanya.
Di
dalam kitab Sahihain disebutkan:
"وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ،
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ فَشَكَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ غَيْرِ الْمُؤْمِنِ"
Demi
Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaannya, tidak sekali-kali
Allah memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan melainkan hal itu baik
baginya. Jika dia beroleh kegembiraan, maka dia akan bersyukur, dan bersyukur
itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesedihan, maka ia bersabar, dan
bersabar itu baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang
mukmin.
Karena
itulah dalam firman Allah Swt. disebutkan:
{وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}
Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati
supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-Asr: 1-3)
{إِنَّ
الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا}
Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (Al-Ma’arij: 19), hingga beberapa ayat berikutnya.
Hud, ayat 12-14
{فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ
بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلا أُنزلَ
عَلَيْهِ كَنز أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (12) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ
سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا
أَنَّمَا أُنزلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ (14) }
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang
diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka
akan mengatakan, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dia
seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan
Allah Pemelihara segala sesuatu. Bahkan mereka mengatakan, "Muhammad telah
membuat-buat Al-Qur'an itu." Katakanlah, "(Kalau demikian), maka
datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah
orang-orang yang kalian sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kalian
memang orang-orang yang benar" Jika mereka yang kamu seru itu tidak
menerima seruan kamu (ajakan kamu) itu, maka ketahuilah sesungguhnya
Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan
selain Dia, maka maukah kalian berserah diri (kepada Allah)?
Allah
Swt. berfirman menghibur Rasul-Nya dalam menghadapi pembangkangan kaum musyrik
yang mengatakan apa yang telah mereka katakan terhadap Rasul, seperti yang disebutkan
oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ
الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ لَوْلا أُنزلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ
مَعَهُ نَذِيرًا أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنز أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ
مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا رَجُلا مَسْحُورًا}
Dan
mereka berkata, "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di
pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat
itu memberikan peringatan bersama-sama dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau
(mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?”
Dan orang-orang yang zalim itu berkata, "Kamu sekalian tidak lain
hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir." (Al-Furqan: 7-8)
Lalu
Allah Swt. memerintahkan Rasul-Nya dan memberikan petunjuk kepadanya bahwa
janganlah dadanya merasa sempit karena perlakuan mereka terhadapnya, jangan
pula hal tersebut menghambatnya dan memalingkannya dari menyeru mereka di malam
dan siang hari untuk menyembah Allah Swt. Dalam ayat lainnya disebutkan oleh
firman-Nya:
{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ
بِمَا يَقُولُونَ}
Dan
Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang
mereka ucapkan. (Al-Hijr: 97)
Sedangkan
dalam surat Hud ayat 12 berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى
إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا}
Maka
boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu
dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan.
Yakni
karena perkataan mereka yang demikian itu. Sesungguhnya engkau adalah seorang
pemberi peringatan, dan engkau mempunyai teladan dari saudara-saudaramu dari
kalangan para rasul sebelummu. Karena sesungguhnya mereka didustakan dan
disakiti, tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang kepada mereka
pertolongan dari Allah Swt.
Kemudian
Allah Swt. menyebutkan tentang mukjizat yang terkandung di dalam Al-Qur'an,
bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan hal yang semisal dengan
Al-Qur'an, tidak juga sepuluh surat yang semisal dengannya, tidak pula suatu
surat darinya. Karena kalam Allah berbeda dengan perkataan makhluk, sebagaimana
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat-sifat makhluk, dan Zat Allah tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah, tidak ada
Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain Dia. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ}
Jika
mereka yang kalian seru itu tidak menerima seruan kalian, (Hud: 14)
Maksudnya,
jika mereka tidak menyambut tantangan yang telah kalian serukan kepada mereka,
maka ketahuilah bahwa mereka tidak mampu melakukannya, dan bahwa Al-Qur'an ini
adalah firman Allah yang diturunkan dari sisi-Nya; di dalamnya terkandung ilmu,
perintah, dan larangan-Nya.
{وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ
أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
dan
bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kalian berserah diri (kepada Allah)? (Hud: 14)
Hud, ayat 15-16
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا
لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا
النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) }
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya,
niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang
tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa
yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka
kerjakan.
Sehubungan
dengan ayat ini Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya
orang-orang yang suka riya (pamer dalam amalnya), maka pahala mereka diberikan
di dunia ini. Demikian itu karena mereka tidak dianiaya barang sedikit pun.
Ibnu Abbas mengatakan, "Barang siapa yang beramal saleh untuk mencari
keduniawian, seperti melakukan puasa, atau salat, atau bertahajud di malam hari,
yang semuanya itu ia kerjakan hanya semata-mata untuk mencari keduniawian, maka
Allah berfirman, 'Aku akan memenuhi apa yang dicarinya di dunia, ini sebagai
pembalasannya, sedangkan amalnya yang ia kerjakan untuk mencari keduniawian itu
digugurkan, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi'."
Hal
yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya yang
bukan hanya seorang.
Anas
ibnu Malik dan Al-Hasan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan
orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Mujahid
dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan
orang-orang yang suka riya.
Qatadah
mengatakan, "Barang siapa yang dunia merupakan niat, dambaan, dan
buruannya, maka Allah membalas kebaikannya di dunia ini. Dan bila ia datang ke
akhirat, maka ia tidak lagi memiliki pahala amal kebaikan yang akan diberikan
kepadanya. Adapun orang mukmin, maka amal kebaikannya dibalas di dunia ini, dan
kelak di akhirat dia mendapat pahala dari amalnya itu." Dalam hadis yang marfu’
telah disebutkan hal yang semisal dengan ini.
Allah
Swt. telah berfirman:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا
لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا
مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ
وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا انْظُرْ
كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ
وَأَكْبَرُ تَفْضِيلا}
Barang
siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan bagiannya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi
orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan
memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang
menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh,
sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya
dibatasi dengan baik Kepada masing-masing golongan —baik golongan ini
maupun golongan itu— Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan
kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan
sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan
akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya. (Al-Isra:
18-21)
{مَنْ
كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ
حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ}
Barang
siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu
baginya; dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan
kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun
di akhirat (Asy-Syura: 20)
Hud, ayat 17
{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى
بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ
مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ
الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (17) }
Apakah (orang-orang kafir itu
sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an)
dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari
Allah dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan
rahmat? Mereka itu beriman kepada Al-Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang
Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah
tempat yang diancamkan baginya. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap
Al-Qur'an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu,
tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
Allah
Swt. menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang
telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:
{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ
اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.
Di
dalam hadis Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"كُلُّ مَوْلُودٍ
يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه ويُمَجِّسانه،
كَمَا تُولَدُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ تُحِسُّون فِيهَا مِنْ
جَدْعَاءَ؟ "
Setiap
anak dilahirkan atas fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi. Sama
halnya dengan ternak unta betina yang melahirkan unta dalam keadaan utuh,
apakah kalian melihat adanya kecacatan pada telinganya?
Di
dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Hammad, dari
Rasulullah Saw. yang telah bersabda:
"يَقُولُ اللَّهُ
تَعَالَى: إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاء، فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ
فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ
لَهُمْ"
Allah
Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam
keadaan hanif lalu datanglah setan kepada mereka sehingga setan menyesatkan
mereka dari agamanya. Dan setan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku
halalkan kepada mereka. Dan setan memerintahkan kepada mereka agar
mempersekutukan Aku dengan apa yang Aku tidak menurunkan keterangan
tentangnya.”
Di
dalam kitab Musnad dan kitab Sunan disebutkan seperti berikut:
"كُلُّ مَوْلُودٍ
يُولَدُ عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ، حَتَّى يُعرِب عَنْهُ لِسَانُهُ"
Setiap
anak dilahirkan dalam keadaan memeluk agama (Islam)
ini, sehingga lisannya dapat berbicara mengungkapkan keinginannya.
Tetapi
orang mukmin tetap dalam keadaan fitrah ini.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ}
dan
diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah (Hud:
17)
Maksudnya,
yang disampaikan oleh saksi dari sisi Allah, yaitu apa yang diwahyukan oleh
Allah kepada para nabi, berupa syariat-syariat yang suci sempurna, diagungkan,
dan diakhiri dengan syariat Nabi Muhammad Saw.
Karena
itulah Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, Ibrahim
An-Nakha'i, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya berikut ini : dan diikuti pula
oleh seorang saksi dari Allah (Hud: 17) Menurut mereka, yang dimaksud
adalah Malaikat Jibril a.s.
Diriwayatkan
pula dari Ali r.a., Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa yang dimaksud ialah Nabi
Muhammad Saw. Kedua pendapat tersebut berdekatan maknanya, karena Jibril a.s.
dan Muhammad Saw. masing-masing telah menyampaikan risalah Allah Swt. Malaikat
Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad menyampaikan kepada
umat.
Menurut
pendapat lain, makna yang dimaksud adalah Ali r.a. Tetapi pendapat ini lemah
dan tidak diketahui sumbernya; pendapat yang pertama dan yang kedualah yang
benar.
Seorang
mukmin dengan bekal fitrah yang ada pada dirinya dapat menyaksikan kebenaran
syariat secara global, dan secara rinci tersimpulkan dari syariat itu sendiri.
Kemudian fitrahnya membenarkan dan mengimaninya. Karena itulah Allah Swt.
berfirman:
{أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ
رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ}
Apakah
(orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang
yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti
pula oleh saksi dari Allah. (Hud: 17)
Yakni
Al-Qur'an yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Saw., kemudian Nabi Muhammad
Saw. menyampaikannya kepada umatnya. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى}
dan
sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa. (Hud:
17) Artinya, sebelum Al-Qur'an telah ada kitab Musa, yaitu Taurat.
{إِمَامًا
وَرَحْمَةً}
yang
menjadi pedoman dan rahmat. (Hud:
17)
Allah
menurunkannya kepada umat tersebut sebagai pedoman dan panutan yang mereka
ikuti serta sebagai rahmat dari Allah buat mereka. Maka barang siapa yang
beriman kepadanya (Taurat) dengan sebenarnya, niscaya hal itu akan
membimbingnya untuk beriman kepada Al-Qur'an. Karena itulah dalam firman
selanjutnya disebutkan:
{أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ}
Mereka
itu beriman kepada Al-Qur'an. (Hud:
17)
Kemudian
Allah berfirman mengancam orang yang mendustakan Al-Qur'an atau sesuatu dari
Al-Qur'an, yaitu:
{وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ
فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan
barang siapa di antara mereka (orang-orang
Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur'an, maka nerakalah
tempat yang diancamkan baginya. (Hud: 17)
Maksudnya,
barang siapa dari kalangan penduduk bumi yang kafir kepada Al-Qur'an, baik dari
kalangan orang-orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang ahli kitab, dan
lain-lainnya dari kalangan keturunan anak Adam dengan berbagai warna kulit,
bentuk, dan bangsanya yang telah sampai kepadanya Al-Qur'an, seperti yang
disebutkan oleh firman-Nya:
{لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ}
supaya
dengan Al-Qur'an itu aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada
orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya).
(Al-An'am: 19)
{قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا}
Katakanlah
"Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian
semua." (Al- A'raf: 158)
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan
barang siapa di atara mereka (orang-orang
Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah
tempat yang diancamkan baginya. (Hud: 17)
Di
dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Syu'bah, dari Abu
Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a., bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا
يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ
لَا يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ النَّارَ"
Demi
Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaannya, tiada seorang pun
dari kalangan umat ini yang mendengar tentang aku, baik dia orang Yahudi
ataupun orang Nasrani, lalu ia tidak beriman kepadaku, melainkan pasti masuk
neraka.
Abu
Ayyub As-Sukhtiyani telah meriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan
bahwa tidak sekali-kali ia mendengar suatu hadis dari Nabi Saw. menurut apa
adanya melainkan ia menjumpai yang sesuai dengannya atau yang membenarkannya di
dalam Al-Qur'an. Telah sampai pula kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"لَا يَسْمَعُ بِي
أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَلَا يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، فَلَا
يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ النَّارَ"
Tiada
seorang pun dari kalangan umat ini yang mendengar aku, baik dia orang Yahudi
ataupun orang Nasrani, lalu ia tidak beriman kepadaku melainkan masuk neraka.
Kemudian
ia berkata kepada dirinya sendiri, manakah hal yang membenarkannya dari Kitabullah?
Karena jarang sekali ia mendengar sesuatu hadis dari Rasulullah, melainkan
ia menjumpai hal yang membenarkannya di dalam Al-Qur'an. Akhirnya ia
menjumpainya pada ayat berikut:
{وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ
فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan
barang siapa di antara mereka (orang-orang
Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah
tempat yang diancamkan baginya. (Hud: 17)
Yakni
dari kalangan pemeluk semua agama.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ}
Karena
itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu. (Hud: 17),
hingga akhir ayat.
Artinya,
Al-Qur'an itu benar-benar dari Allah, tiada keraguan dan tiada kebimbangan di
dalamnya. Seperti yang disebutkan pula di dalam firman-Nya:
{الم تَنزيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ
مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Alif
Lam Mim. Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 1-2)
{الم
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ}
Alif
Lam Mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada
keraguan padanya. (Al-Baqarah: 1-2)
Adapun
firman Allah Swt.:
{وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يُؤْمِنُونَ}
tetapi
kebanyakan manusia tidak beriman. (Hud:
17)
Ayat
tersebut sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ
بِمُؤْمِنِينَ}
Dan
sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Yusuf: 103)
{وَإِنْ
تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}
Dan
Jika kamu menuruti kebanyakan
orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah (Al-An'am: 116)
{وَلَقَدْ
صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ}
Dan
sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap
mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. (Saba:
20)
Hud, ayat 18-22
{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ
افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ
الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ
عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا
عِوَجًا وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (19) أُولَئِكَ لَمْ يَكُونُوا
مُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ
يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا
يُبْصِرُونَ (20) أُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا
كَانُوا يَفْتَرُونَ (21) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ
(22) }
Dan siapakah yang lebih
zalim daripada orang y ang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan
dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata Orang-orang inilah
yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan)
atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang
menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya)
jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya
hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk
(mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka
penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu
tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya).
Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari
mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi
orang-orang yang paling merugi.
Allah
Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang mendustakan-Nya, juga tentang
dipermalukan-Nya mereka di hari akhirat kelak di hadapan mata kepala semua
makhluk dari kalangan para malaikat, para rasul, para nabi, serta seluruh umat
manusia dan jin. Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan;
حَدَّثَنَا بَهْز
وَعَفَّانُ قَالَا أَخْبَرَنَا هَمَّام، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ صَفْوَانَ
بْنِ مُحْرِز قَالَ: كُنْتُ آخِذًا بِيَدِ ابْنِ عُمَرَ، إِذْ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ
قَالَ: كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ فِي النَّجْوَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كنَفَه، وَيَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ،
وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، وَيَقُولُ لَهُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا ؟ أَتَعْرِفُ
ذَنْبَ كَذَا ؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا ؟ حَتَّى إِذَا قَرَّره بِذُنُوبِهِ،
وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا
عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. ثُمَّ يُعْطَى
كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ:
{الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ
عَلَى الظَّالِمِينَ}
telah
menceritakan kepada kami Bahz dan Affan; keduanya mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari
Safwan ibnu Muharriz yang mengatakan bahwa ia dalam keadaan memegang tangan
Ibnu Umar di saat-ada seorang lelaki bertanya kepadanya, "Apakah yang
telah engkau dengar dari Rasulullah Saw. tentang najwa (berbisik) di hari
kiamat kelak?" Ibnu Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw.
bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mendekati orang mukmin, lalu meletakkan
perlindungan dan naungan-Nya di atas orang mukmin itu sehingga orang mukmin itu
dalam keadaan tertutup dari pandangan manusia. Lalu Allah menyebutkan semua
dosanya. Allah berfirman kepadanya, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu
dosa itu? Tahukah kamu dosa anu?” Setelah Allah menyebutkan semua dosanya dan
orang mukmin yang bersangkutan merasakan bahwa dirinya pasti binasa, maka Allah
berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu sewaktu di
dunia, dan sesungguhnya Aku sekarang mengampuninya bagimu hari ini."
Kemudian diberikan kepadanya kitab catatan amal-amal kebaikannya. Adapun terhadap
orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi akan berkata, "
Orang-Orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah,
kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.
Imam
Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui
hadis Qatadah dengan sanad yang sama.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا}
(yaitu)
orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan
menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. (Hud: 19)
Maksudnya,
mereka mencegah manusia mengikuti perkara hak, mencegah manusia menempuh jalan
hidayah yang menghantarkan kepada Allah, dan menjauhkan mereka dari surga.
{وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا}
dan
menghendaki (supaya) jalan itu bengkok (Hud:
19) Yakni mereka menghendaki agar jalan manusia itu bengkok, tidak lurus.
{وَهُمْ
بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ}
Dan
mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya hari akhirat. (Hud: 19)
Yaitu
ingkar kepada hari akhirat dan mendustakan kejadian dan keberadaan hari
akhirat.
{أُولَئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي
الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ}
Orang-orang
itu tidak mampu menghalangi Allah untuk (mengazab
mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong
selain Allah. (Hud: 20)
Bahkan
mereka berada di bawah keperkasaan dan kekuatan Allah Swt. serta berada di
dalam genggaman kekuasaan-Nya. Dia Mahakuasa untuk melakukan pembalasan
terhadap mereka di dunia ini sebelum di akhirat.
{يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الأبْصَارُ}
Sesungguhnya
Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim: 42)
Di
dalam kitab Sahihain disebutkan hadis berikut:
"إِنَّ اللَّهَ
ليُملي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أخذَه لَمْ يُفْلته"
Sesungguhnya
Allah benar-benar mencatat (perbuatan)
orang yang aniaya, hingga manakala Allah mengazabnya, maka ia tidak dapat
menyelamatkan (dirinya).
Karena
itulah Allah Swt. berfirman:
يُضَاعَفُ
لَهُمُ الْعَذَابُ
Siksaan
itu dilipatgandakan kepada mereka. (Hud:
20), hingga akhir ayat.
Yakni
dilipatgandakan azab-Nya terhadap mereka. Demikian itu karena Allah telah
menjadikan bagi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi tiadalah
bermanfaat bagi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati mereka; bahkan mereka
tuli, tidak mau mendengar perkara yang hak, buta, tidak mau mengikutinya,
sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt. Allah menceritakan perihal mereka
saat memasuki neraka:
{وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ
نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ}
Dan
mereka berkata, "Sekiranya kami mendengar atau memahami (peringatan itu), niscaya tidaklah kami bersama-sama
dengan penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)
Demikian
pula yang dinyatakan dalam firman Allah Swt. berikut:
{الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ}
Orang-orang
yang kafir dan menghalang-halangi (manusia)
dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan (An-Nahl:
88), hingga akhir ayat.
Karena
itulah mereka selalu disiksa karena meninggalkan tiap-tiap perintah Allah dan
karena mengerjakan tiap-tiap larangan-Nya. Menurut pendapat yang paling sahih,
mereka terkena taklif terhadap semua cabang syariat—baik yang berupa perintah
maupun larangan— bila dikaitkan dengan masalah akhirat.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{أُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ
وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ}
Mereka
itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka
apa yang selalu mereka ada-adakan. (Hud:
21)
Artinya,
mereka merugikan dirinya sendiri, karena pada akhirnya mereka dimasukkan ke
dalam neraka yang panas, dan mereka disiksa di dalamnya tidak pernah berhenti
barang sekejap pun, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya
dalam ayat yang lain, yaitu:
{كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا}
Tiap-tiap
kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya. (Al-Isra: 97)
Adapun
firman Allah Swt.:
{ضَلَّ عَنْهُمْ}
dan
lenyaplah dari mereka. {Hud: 21)
Maksudnya,
hapuslah dari mereka.
{مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ}
apa
yang selalu mereka ada-adakan. (Hud:
21)
Yakni
sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, yaitu berhala-berhala dan
tandingan-tandingan itu. Dan mereka tidak memperoleh suatu manfaat pun dari
sembahan-sembahan itu, bahkan sembahan-sembahan itu menimpakan mudarat yang
sangat besar terhadap mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam
firman-Nya:
{وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ
أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ}
Dan
apabila manusia dikumpulkan (pada
hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (Al-Ahqaf: 6)
{وَاتَّخَذُوا
مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا كَلا سَيَكْفُرُونَ
بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا}
Dan
mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar sembahan-sembahan
itu menjadi pelindung bagi mereka, sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan itu) akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya)
terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh
bagi mereka. (Maryam: 81-82)
Nabi
Ibrahim a.s. telah berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}
Sesungguhnya
berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan
perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini, kemudian di
hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang
lain); dan tempat kembali kalian ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagi
kalian para penolong pun. (Al-'Ankabut: 25)
Allah
Swt. pun berfirman:
{إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ
الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ}
(yaitu)
ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang
mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan
antara mereka terputus sama sekali. (Al-Baqarah: 166)
Demikian
pula dalam ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa mereka rugi dan binasa di
hari kiamat nanti. Karena itulah dalam surat berikut ini disebutkan oleh
firman-Nya:
{لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ
الأخْسَرُونَ}
Pasti
mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. (Hud: 22)
Allah
Swt. menceritakan tentang tempat kembali mereka, bahwa mereka adalah
orang-orang yang paling merugi di hari akhirat nanti karena mereka telah
mengganti ketinggian dengan kerendahan, mengganti nikmat surga dengan panasnya
api neraka, khamr surga dengan air yang sangat panas, bidadari dengan makanan
dari darah dan nanah, gedung-gedung surga dengan jurang-jurang neraka, serta
berada dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi dapat melihat-Nya dengan murka
Tuhan Yang Maha Membalas serta siksaan-Nya. Maka tidaklah aneh bila mereka
adalah orang-orang yang paling merugi kelak di akhirat.
Hud, ayat 23-24
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ
الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (23) مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالأعْمَى
وَالأصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا أَفَلا
تَذَكَّرُونَ (24) }
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni
surga; mereka kekal di dalamnya. Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin) seperti
orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah
kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kalian mengambil
pelajaran (dari perbandingan itu)?
Setelah
menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka, lalu Allah mengiringinya dengan
menyebutkan keadaan orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah orang-orang yang
beriman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang saleh. Dengan demikian,
berarti hati mereka beriman dan anggota tubuh mereka mengerjakan amal-amal
saleh, baik secara lisan maupun perbuatan, misalnya mengerjakan amal ketaatan
dan menjauhi perkara-perkara yang mungkar. Karena itulah mereka mewarisi
surga-surga yang di dalamnya terdapat gedung yang tinggi-tinggi, pelaminan yang
empuk-empuk, buah-buahan yang dekat dipetiknya, hamparan yang tebal-tebal,
bidadari yang cantik-cantik, buah-buahan yang beraneka ragam, makanan yang
lezat-lezat, minuman-minuman yang lezat, dan dapat melihat Pencipta langit dan
bumi. Mereka kekal dalam kenikmatan itu, tidak mati, tidak tua, dan tidak
sakit. Mereka pun tidak tidur, tidak pernah buang hajat, tidak pernah meludah,
dan tidak pernah berdahak, melainkan hanyalah berkeringat saja yang baunya
seperti minyak kesturi.
Kemudian
Allah Swt. membuat perumpamaan tentang orang-orang kafir dan orang-orang
mukmin. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:
{مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ}
Perbandingan
kedua golongan itu. (Hud: 24)
Maksudnya,
perbandingan antara orang-orang yang disebutkan oleh Allah sebagai orang-orang
yang celaka dan orang-orang mukmin yang berbahagia ialah: Orang-orang yang
celaka itu sama halnya dengan orang yang buta dan yang tuli, sedangkan
orang-orang yang berbahagia sama halnya dengan orang yang melihat dan yang
mendengar. Orang kafir buta tidak dapat melihat kebenaran di dunia dan akhirat,
tidak mendapat petunjuk kepada kebaikan dan tidak mengenalnya. Dan ia tuli,
tidak dapat mendengar hujah-hujah sehingga tidak dapat beroleh manfaat darinya,
seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا
لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ}
Kalau
sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan
mereka dapat mendengar. (Al-Anfal:
23), hingga akhir ayat.
Adapun
orang mukmin, maka ia cerdas, cerdik lagi berakal; ia dapat melihat perkara
yang hak dan dapat membedakannya dengan yang batil, lalu mengikuti yang baik
dan meninggalkan yang buruk. Dia pun mendengar hujah-hujah dan dapat
membedakannya dengan hal yang syubhat, maka dia tidak teperdaya oleh
perkara yang batil. Maka apakah sama antara orang ini dan orang itu? (yakni
antara orang mukmin dan orang kafir). Jawabannya, tentu tidak.
{أَفَلا تَذَكَّرُونَ}
Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran (dari
perbandingan itu)? (Hud: 24)
Tidakkah
kalian mengambil pelajaran, kemudian kalian membedakan antara orang-orang
mukmin dan orang-orang kafir itu? Ayat ini semisal dengan ayat lain yang
disebutkan melalui firman-Nya:
{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ
وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ}
Tidak
sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni
surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr:
20)
{وَمَا
يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ وَلا الظُّلُمَاتُ وَلا النُّورُ وَلا الظِّلُّ
وَلا الْحَرُورُ وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ
يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ إِنْ أَنْتَ
إِلا نَذِيرٌ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ
أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ}
Dan
tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (pula)
sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh
dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan
orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa
yang dikehendakinya, dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang
di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat
pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Fathir: 19-24)
Hud, ayat 25-27
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا
نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا
إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26) فَقَالَ
الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا
وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (27) }
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), "Sesungguhnya aku adalah
pemberi peringatan yang nyata bagi kalian, agar kalian tidak menyembah selain
Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab (pada) hari yang
sangat menyedihkan.” Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya,
"Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)
seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu,
melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja,
dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami,
bahkan kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang dusta.”
Allah
Swt. menceritakan tentang Nabi Nuh a.s. Dia adalah rasul Allah yang pertama
yang diutus oleh Allah untuk penduduk bumi dari kalangan kaum musyrik para
penyembah berhala. Nabi Nuh a.s. berkata kepada kaumnya:
{إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ}
Sesungguhnya
aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. (Hud: 25)
Yakni
peringatan yang nyata kepada kalian akan adanya azab Allah jika kalian terus
menyembah berhala selain Allah. Karena itulah dalam firman selanjutnya
disebutkan:
{أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ}
agar
kalian tidak menyembah selain Allah. (Hud:
26)
Firman
Allah Swt.:
{إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ
أَلِيمٍ}
Sesungguhnya
aku takut kalian akan ditimpa azab (pada)
hari yang sangat menyedihkan. (Hud: 26)
Jika
kalian terus-menerus mengerjakan apa yang kalian kerjakan itu —yakni menyembah
berhala— niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang sangat pedih,
sangat menyakitkan lagi sangat berat di hari akhirat kelak.
{فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
قَوْمِهِ}
Maka
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya. (Hud: 27)
Kata
al-mala’ artinya para pemimpin dan para pembesar dari kalangan
orang-orang kafir.
{مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا}
Kami
tidak melihat kamu, melainkan (sebagai)
seorang manusia (biasa) seperti kami. (Hud: 27)
Artinya,
kamu bukanlah seorang malaikat, melainkan hanyalah manusia biasa. Maka mana
mungkin diturunkan wahyu kepadamu, bukannya kepada kami? Kemudian kami melihat
bahwa tiada yang mengikutimu kecuali hanyalah orang-orang yang rendahan dari
kalangan kami, seperti para pedagang, para penjahit, dan lain sebagainya dari
golongan kelas bawah. Tiada yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang
terhormat, tiada pula dari kalangan para pemimpin kami. Kemudian mereka yang
mengikutimu itu tidaklah mempunyai pikiran yang panjang, tidak pula mempunyai
pandangan, melainkan begitu kamu menyeru mereka, lalu mereka kontan mengikutimu
dan menerima seruanmu. Karena itu, dalam firman selanjutnya dinyatakan:
{وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ
هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ}
dan
kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang
hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. (Hud: 27)
Badiyar
ra-yi artinya mudah percaya.
{وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ}
dan
kami tidak melihat kalian memiliki kelebihan apa pun atas kami. (Hud: 27)
Mereka
mengatakan bahwa mereka memandang Nuh tidak mempunyai kelebihan apa pun —baik
dalam hal penampilan, sikap, kekayaan, ataupun keadaan—, lalu apakah gunanya
mereka memasuki agama Nabi Nuh?
{بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ}
bahkan
kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang berdusta. (Hud: 27)
dalam
seruan kalian kepada kami yang mengajak kepada kebajikan, kebaikan, ibadah dan
kebahagiaan di alam akhirat bila kalian semua telah sampai kepadanya. Kalimat
ini merupakan sanggahan orang-orang kafir terhadap Nabi Nuh a.s. dan para
pengikutnya. Hal ini pun menunjukkan kebodohan, keminiman ilmu, dan kedangkalan
otak mereka. Karena sesungguhnya bukanlah merupakan suatu keaiban bagi perkara
yang hak, bila yang mengikutinya adalah orang-orang rendahan; sebab perkara
yang hak itu sendiri merupakan suatu kebenaran, baik yang mengikutinya dari
kalangan orang yang terhormat ataupun orang rendahan. Bahkan sebaliknya,
orang-orang yang mengikuti perkara yang hak itulah orang-orang yang terhormat,
sekalipun keadaan mereka miskin; dan orang-orang yang menolak perkara yang hak
adalah orang-orang yang hina, sekalipun mereka hartawan (kaya).
Kemudian
bila ditinjau dari segi kenyataan, memang orang yang mengikuti perkara yang hak
itu kebanyakannya dari kalangan orang-orang yang lemah, dan kebanyakan
orang-orang terhormat dan orang-orang besar selalu menentangnya, seperti yang
disebutkan oleh firman-Nya:
{وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ
فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا
عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ}
Dan
demikianlah Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun
dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
berkata, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu
agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23)
Heraklius
—Kaisar Romawi— bertanya kepada Abu Sufyan (yakni Sakhr ibnu Harb) tentang
sifat-sifat Nabi Saw., antara lain, "Apakah para pengikutnya dari kalangan
orang-orang yang terhormat (kuat) ataukah dari kalangan orang-orang yang
lemah?" Abu Sufyan menjawab, "Tidak, bahkan dari kalangan orang-orang
yang lemah." Maka Heraklius berkata, "Mereka (orang-orang yang lemah)
itu adalah pengikut-pengikut para rasul."
Perkataan
mereka (orang-orang yang kafir dari kalangan kaum Nabi Nuh) adalah badiyar
ra-yi (mudah percaya), bukanlah suatu cela atau aib. Karena sesungguhnya
perkara hak itu apabila telah jelas, maka tidak ada lagi kesempatan bagi
pendapat—tidak pula bagi pemikiran— untuk berperan. Bahkan perkara yang hak itu
harus diikuti dalam waktu yang sama oleh orang yang cerdik dan pandai, tiada
yang menggunakan pemikirannya dalam hal ini kecuali hanyalah orang yang bodoh dan
pandir. Sesungguhnya risalah yang dibawa oleh para rasul semuanya adalah jelas
dan gamblang. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda:
"مَا دَعَوْتُ أَحَدًا إِلَى الْإِسْلَامِ إِلَّا
كَانَتْ لَهُ كَبْوَة، غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ، فَإِنَّهُ لَمْ يَتَلَعْثَم"
Tidak
sekali-kali aku menyeru seseorang untuk masuk Islam melainkan ada ganjalan pada
dirinya kecuali Abu Bakar, karena sesungguhnya dia tidak kaku.
Yakni
tidak ragu dan tidak menangguh-nangguhkan; karena dia melihat bahwa urusannya
telah jelas dan gamblang, maka dia bersegera menyambutnya dengan cepat dan
spontan.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ}
dan
kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. (Hud: 27)
Mereka
mempunyai pandangan demikian karena mereka buta, tidak dapat melihat perkara
hak, dan tidak dapat mendengarnya serta tidak dapat meresapinya, melainkan
mereka selalu berada dalam keragu-raguannya dan tenggelam di dalam kegelapan
kebodohannya. Mereka adalah orang-orang yang suka membuat-buat kebohongan,
pendusta, kecil, dan hina; di akhirat kelak mereka adalah orang-orang yang
merugi.
Hud, ayat 28
{قَالَ يَا قَوْمِ
أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ
فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ (28) }
Berkata Nuh, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian, jika aku
mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari
sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian. Apa akan kami paksakan
kalian menerimanya, padahal kalian tidak menyukainya?"
Allah
Swt. menceritakan tentang jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap kaumnya dalam hal
tersebut:
{أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ
مِنْ رَبِّي}
bagaimanakah
pikiran kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 28)
Yaitu
bukti yang meyakinkan, perkara yang jelas, dan kenabian yang benar; sebagai
rahmat yang besar dari Allah buat Nabi Nuh sendiri, juga buat mereka.
{فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ}
tetapi
rahmat itu disamarkan bagi kalian. (Hud:
28)
Maksudnya,
disembunyikan dari kalian sehingga kalian tidak mendapat petunjuk untuk
mengetahuinya, tidak pula dapat mengetahui kadarnya, bahkan sebaliknya kalian
bersegera mendustakannya dan membantahnya.
{أَنُلْزِمْكُمُوهَا}
Apa
akan kami paksakan kalian menerimanya. (Hud:
28)
Yakni
apakah kami menekan kalian untuk menerimanya, padahal kalian sendiri tidak
menyukainya?
Hud, ayat 29-30
{وَيَا قَوْمِ لَا
أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا
بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ
قَوْمًا تَجْهَلُونَ (29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ
طَرَدْتُهُمْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (30) }
Dan (dia berkata), "Hai
kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi
seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir
orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan
Tuhannya, tetapi aku memandang kalian suatu kaum yang tidak mengetahui.”Dan (dia
berkata), tlHai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab)
Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran?”
Nuh
a.s. berkata kepada kaumnya, "Aku tidak meminta suatu upah pun dari kalian
sebagai imbalan dari nasihatku kepada kalian ini, sebagai upah yang aku ambil
dari kalian. Sesungguhnya aku hanyalah menginginkan pahala dari Allah
Swt."
{وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا}
dan
aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. (Hud: 29)
Seakan-akan
mereka meminta kepada Nabi Nuh a.s. agar mengusir orang-orang yang telah
beriman dari sisinya, karena mereka malu dan sebagai tahan harga dari mereka
bila mereka duduk bersamaan dengan orang-orang yang lemah pengikut Nabi Nuh
itu. Perihalnya sama dengan apa yang dialami oleh penutup para rasul, yaitu
Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah diminta oleh orang-omng kafir agar mengusir
golongan orang-orang yang lemah dari sisinya. Orang-orang kafir itu pun meminta
kepada Nabi Saw. agar membuat suatu majelis terpisah buat mereka duduk
bersamanya secara khusus. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
{وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ}
Dan
janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan di petang
hari. (Al-An'am: 52), hingga akhir ayat.
{وَكَذَلِكَ
فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ}
Dan
demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang
yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang
yang kaya itu) berkata, "Orang-orang semacam inikah di antara kita
yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman), "Tidakkah
Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?"
(Al-An'am: 53)
Hud, ayat 31
{وَلا أَقُولُ لَكُمْ
عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ
وَلا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ
خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ
الظَّالِمِينَ (31) }
Dan Aku Tidak
mengatakan kepada kalian (bahwa), "Aku mempunyai gudang-gudang
rezeki dan kekayaan dari Allah dan aku tiada mengetahui yang gaib; dan tidak (pula)
aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat. Dan tidak juga aku
mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatan kalian,
Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. ' Allah
lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu
benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.”
Nabi
Nuh a.s. memberitahukan kepada mereka (umatnya) bahwa dirinya adalah utusan
dari Allah yang menyeru mereka untuk menyembah Allah semata—tidak ada sekutu bagi-Nya—
dengan seizin dari Allah yang diberikan kepadanya untuk menyampaikan hal
tersebut. Beliau tidak meminta upah dari mereka atas hal tersebut, bahkan
menyeru setiap orang yang dijumpainya, baik dari kalangan orang yang terhormat
maupun dari kalangan orang jelata. Maka barang siapa yang menerima seruannya,
berarti dia telah selamat.
Nabi
Nuh a.s. memberitahukan pula kepada mereka bahwa tidak ada kekuasaan baginya
untuk mengatur perbendaharaan kekayaan dari Allah, tidak pula dia mengetahui
hal yang gaib, kecuali sebatas apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya.
Beliau bukanlah malaikat, melainkan adalah manusia yang diangkat menjadi rasul
yang dikukuhkan dengan berbagai mukjizat dari sisi-Nya.
Nabi
Nuh a.s. berkata, "Aku tidak mengatakan tentang mereka yang dipandang hina
oleh kalian sehingga kalian remehkan mereka, bahwa mereka tidak mempunyai
pahala di sisi Allah sebagai balasan dari amal mereka. Allah lebih mengetahui
tentang apa yang terkandung di dalam diri mereka. Jika mereka benar-benar beriman
batinnya seperti lahiriahnya, maka bagi mereka pahala yang baik. Dan sekiranya
ada seseorang yang memastikan keburukan bagi mereka sesudah mereka beriman,
niscaya dia adalah orang yang zalim, yang mengatakan apa yang tidak
diketahuinya."
Hud, ayat 32-34
{قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ
جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ
الصَّادِقِينَ (32) قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا
أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ (33) وَلا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ
لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ (34) }
Mereka berkata, "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah
dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka
datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu
termasuk orang-orang yang benar.” Nuh menjawab, "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab
itu kepada kalian jika Dia menghendaki, dan kalian sekali-kali tidak dapat
melepaskan diri.” Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku
hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan
kalian, Dia adalah Tuhan kalian, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.
Allah
Swt. menceritakan tentang kaum Nabi Nuh yang meminta agar siksa, azab, serta
kemurkaan Allah segera ditimpakan kepada mereka, padahal malapetaka itu
sumbernya dari ucapan (lisan).
{قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا
فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا}
Mereka
berkata, "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu
telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami (Hud:
32)
Maksudnya,
engkau telah banyak membantah kami, dan kami tetap tidak akan mengikutimu.
{فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا}
maka
datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami (Hud: 32)
Yaitu
pembalasan Allah dan azab-Nya. Mereka berkata, "Serukanlah kepada Allah
terhadap kami dengan doa yang kamu sukai, datangkanlah dengan segera apa yang
engkau doakan itu agar menimpa kami."
{إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ قَالَ
إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ}
jika
kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Nuh menjawab, "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepada
kalian jika Dia menghendaki, dan kalian sekali-kali tidak dapat melepaskan
diri" (Hud: 32-33)
Yakni
sesungguhnya yang akan mengazab kalian dan yang menyegerakannya atas kalian
hanyalah Allah, tiada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya.
{وَلا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ
أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ}
Dan
tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku memberi nasihat kepada
kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian. (Hud: 34)
Artinya,
tiada manfaatnya bagi kalian penyampaianku, peringatanku, dan nasihatku kepada
kalian.
إِنْ
كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ
sekiranya
Allah hendak menyesatkan kalian. (Hud:
34)
Yakni
jika Dia hendak menyesatkan dan membinasakan kalian.
{هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}
Dia
adalah Tuhan kalian, dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan. (Hud: 34)
Dia
adalah yang memiliki kendali semua urusan, Dialah Yang mengatur dan Hakim Yang
Mahaadil yang tidak akan lalim. Milik-Nyalah semua makhluk dan urusan. Dialah
yang memulai penciptaan dan yang mengembalikannya. Dia adalah Raja dunia dan
akhirat.
Hud, ayat 35
{أَمْ يَقُولُونَ
افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا
تُجْرِمُونَ (35) }
Malahan kaum Nuh itu berkata, "Dia cuma membuat-buat
nasihatnya saja.” Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka
hanya akulah yang memikul dosaku dan aku berlepas diri dari dosa yang kalian
perbuat.”
Ini
adalah kalimat sisipan yang berada di tengah-tengah kisah ini, berkedudukan
menguatkan dan menetapkannya. Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw.,
"Malahan orang-orang kafir yang ingkar itu mengatakan bahwa dia cuma
membuat-buatnya dan merekayasanya dari dirinya sendiri."
{قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ
إِجْرَامِي}
Katakanlah,
"Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku.
(Hud: 35)
Yakni
dosanya aku tanggung sendiri.
{وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ}
dan
aku berlepas diri dari dosa yang kalian perbuat.” (Hud: 35)
Maksudnya,
hal tersebut bukanlah buat-buatan, bukan pula suatu rekayasa, karena aku
benar-benar mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah bagi orang yang berdusta
terhadap-Nya.
Hud, ayat 36-39
{وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ
أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلا تَبْتَئِسْ بِمَا
كَانُوا يَفْعَلُونَ (36) وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلا
تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37) وَيَصْنَعُ
الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ
إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38)
فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ
عَذَابٌ مُقِيمٌ (39) }
Dan diwahyukan kepada Nuh bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman
di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu, janganlah kamu bersedih
hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan
pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku
tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan
ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin
kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, "Jika
kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami (pun) mengejek kalian
sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kalian akan mengetahui
siapa-siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan
ditimpa azab yang kekal.”
Allah
Swt. menceritakan bahwa Dia telah mewahyukan kepada Nuh di saat kaumnya minta
kepadanya agar pembalasan dan azab Allah disegerakan terhadap mereka. Lalu Nabi
Nuh a.s. berdoa kepada Allah yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang
lain, yaitu:
{رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ
الْكَافِرِينَ دَيَّارًا}
Ya
Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu
tinggal di atas bumi. (Nuh: 26)
{فَدَعَا
رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ}
Maka
dia mengadu kepada Tuhannya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan.
Oleh sebab itu, menangkanlah (aku).
(Al-Qamar: 10)
Maka
pada saat itulah Allah menurunkan wahyu kepada Nuh, yaitu firman-Nya:
{أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلا
مَنْ قَدْ آمَنَ}
bahwasanya
sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah
beriman (saja). (Hud: 36)
Karena
itu, janganlah kamu bersedih hati atas mereka dan jangan sekali-kali kamu
menjadi sibuk dengan urusan mereka.
{وَاصْنَعِ الْفُلْكَ}
Dan
buatlah bahtera itu. (Hud: 37)
Yakni
kapal itu.
{بِأَعْيُنِنَا}
dengan
pengawasan Kami. (Hud: 37)
Maksudnya,
di hadapan Kami.
{وَوَحْيِنَا}
dan
petunjuk wahyu Kami. (Hud: 37)
Yaitu
dengan petunjuk dan pengajaran Kami kepadamu tentang apa yang harus kamu
lakukan.
{وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا
إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ}
dan
janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu;
sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Hud:
37)
Sebagian
ulama Salaf mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Nuh agar menanam
pohon-pohonan; setelah besar ditebang, lalu dikeringkan; hal ini memakan waktu
seratus tahun. Kemudian Nabi Nuh menggergaji, menyerutnya, dan menghaluskannya
selama seratus tahun lagi; sedangkan menurut pendapat lain adalah empat puluh
tahun.
Muhammad
ibnu Ishaq telah menceritakan dari kitab Taurat, bahwa Allah Swt. memerintahkan
Nuh untuk membuat bahtera itu dari kayu saj (jati) dengan panjang
delapan puluh hasta dan lebar lima puluh hasta, dan hendaknya bahtera itu dicat
dengan gar (ter) bagian luar dan dalamnya, hendaknya pula dibuatkan
anjungan buat membelah air.
Qatadah
mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh mempunyai panjang tiga ratus hasta dan
lebarnya lima puluh hasta.
Dari
Al-Hasan, disebutkan bahwa panjangnya enam ratus hasta dan lebarnya tiga ratus
hasta. Juga dari Al-Hasan dan Ibnu Abbas, disebutkan bahwa panjangnya seribu
dua ratus hasta dan lebarnya enam ratus hasta. Sedangkan menurut pendapat lain,
panjangnya dua ribu hasta, dan lebarnya seratus hasta.
Semuanya
mengatakan bahwa tinggi bahtera Nabi Nuh adalah tiga puluh hasta, terdiri atas
tiga tingkat, setiap tingkat mempunyai tinggi sepuluh hasta. Tingkatan yang
paling bawah untuk hewan dan binatang liar, yang tengah untuk manusia,
sedangkan yang atas untuk burung-burung. Disebutkan pula bahwa pintunya berada
di bagian tengahnya, bagian atas bahtera itu beratap.
Imam
Abu Ja'far ibnu Jarir telah menyebutkan sebuah asar yang garib melalui
hadis Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Abdullah ibnu
Abbas. Disebutkan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa kaum Hawariyyin
berkata kepada Isa ibnu Maryam, "Sebaiknya engkau mengirimkan seorang
lelaki sebagai wakil dari kita semua untuk melihat bahtera itu, lalu dia akan
menceritakannya kepada kita." Maka Isa ibnu Maryam membawa serta mereka
pergi hingga sampai di sebuah bukit pasir, lalu Isa mengambil segenggam pasir
dengan telapak tangannya dan berkata, "Tahukah kalian, apakah ini?"
Mereka menjawab, "Allah dan utusan-Nya lebih mengetahui." Isa .
menjawab, "Ini adalah mata kaki Ham ibnu Nuh."
Kemudian
Nabi Isa memukul bukit pasir itu dengan tongkatnya seraya bersabda,
"Berdirilah dengan seizin Allah." Tiba-tiba berdirilah Ham seraya
menepiskan pasir yang ada di kepalanya yang telah beruban. Isa bertanya
kepadanya, "Apakah dalam keadaan seperti ini ketika kamu mati?" Ham
ibnu Nuh menjawab, "Tidak, aku meninggal dunia dalam usia yang masih muda.
Tetapi aku menduga bahwa kematian itu merupakan hari kiamat, karena itulah maka
aku beruban."
Isa
bertanya, "Ceritakanlah kepada kami tentang bahtera Nabi Nuh." Ham
ibnu Nuh menjawab, "Panjangnya adalah seribu dua ratus hasta dan lebarnya
enam ratus hasta. Bahtera itu terdiri atas tiga tingkat, salah satunya untuk
hewan dan binatang liar, yang lainnya untuk manusia, dan yang terakhir untuk
burung-burung."
Ham
melanjutkan kisahnya, "Setelah kotoran hewan terlalu banyak, maka Allah
menurunkan wahyu kepada Nuh a.s., memerintahkan kepadanya agar menggelitiki
ekor gajah. Maka Nuh a.s. menggelitikinya, lalu dari ekor gajah itu keluarlah
seekor babi betina yang langsung melahap kotoran tersebut. Dan ketika
tikus-tikus muncul di dalam bahtera itu, mereka menggerogoti kayu-kayu dan tali
temalinya. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nuh a.s., memerintahkannya agar
memukul wajah singa di antara kedua matanya. Maka Nuh a.s. memukulnya, dan
keluarlah burung elang jantan dan betina dari hidung singa itu, lalu keduanya
menyambar tikus-tikus tersebut.
Isa
berkata kepada Ham, "Bagaimanakah Nuh mengetahui bahwa daratan telah
tenggelam?" Ham menjawab, "Nuh a.s. mengutus burung gagak yang
menyampaikan berita kepadanya. Tetapi burung gagak itu menjumpai bangkai, lalu
burung gagak itu hinggap padanya dan memakannya, maka Nuh a.s. berdoa kepada
Allah, semoga burung gagak selalu dicekam rasa takut. Karena itulah burung
gagak tidak biasa tinggal di rumah-rumah.
Kemudian
Nuh a.s. mengirimkan burung merpati, lalu burung merpati itu datang dengan
membawa daun pohon zaitun pada paruhnya dan daun pohon tin pada kakinya. Karena
itulah Nuh a.s. mengetahui bahwa seluruh negeri telah tenggelam. Lalu Nabi Nuh
a.s. mengalungkan ikat pinggangnya pada leher burung merpati dan mendoakannya
agar hidupnya selalu dalam aman dan jinak. Karena itulah maka burung-burung
merpati biasa tinggal di rumah-rumah."
Kaum
Hawariyyin berkata, "Wahai utusan Allah, bolehkah kami membawa Ham ini
kepada keluarga kami dan duduk bersama kami seraya bercerita kepada kami?"
Isa menjawab, "Mana mungkin orang yang tidak mempunyai rezeki dapat
mengikuti kalian?" Maka Nabi Isa berkata kepada Ham, "Kembalilah kamu
seperti semula dengan seizin Allah!" Maka kembalilah Ham dalam bentuk
semulanya, yaitu berupa pasir.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ
عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ}
Dan
mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengejeknya. (Hud:
38)
Mereka
memperolok-olokkannya dan mendustakan apa yang diancamkannya kepada mereka,
yaitu banjir besar.
{قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا
نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ}
Berkatalah
Nuh, "Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun). (Hud: 38), hingga akhir ayat."
Hal
ini mengandung ancaman dan peringatan yang sangat keras.
{مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ}
siapa-siapa
yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya. (Hud: 39)
Yakni
menghinakannya di dunia ini.
{وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ}
dan
yang akan ditimpa azab yang kekal. (Hud:
39)
Yaitu
azab yang kekal dan abadi.
Hud, ayat 40
{حَتَّى إِذَا جَاءَ
أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ
اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا
آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ (40) }
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan
air, Kami berfirman, "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing
binatang sepasang (jantan dan betina), dan
keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan
pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu
kecuali sedikit.
Hal
ini merupakan janji Allah Swt. kepada Nuh a.s. yang menyatakan bahwa apabila
telah datang perintah Allah yang berupa hujan yang berturut-turut tiada
henti-hentinya disertai dengan luapan air yang tak pernah berhenti, bahkan
keadaannya adalah seperti yang diungkapkan oleh Allah dalam ayat lain, yaitu:
{فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ
مُنْهَمِرٍ وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ
قُدِرَ وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا
جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ}
Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan)
air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka
bertemulah air-air, itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan
Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang
berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang
diingkari (Nuh). (Al-Qamar: 11-14)
Adapun
firman Allah Swt.:
{وَفَارَ التَّنُّورُ}
dan dapur telah memancarkan air. (Hud: 40)
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan tannur ialah permukaan bumi.
Dengan kata lain, bumi menjadi mata air yang memancarkan air, sehingga air pun
keluar menyembur dari tempat pemanggangan roti yang merupakan tempat yang
berapi. Yakni bumi memancarkan airnya dari segala tempat. Demikianlah menurut
pendapat jumhur ulama Salaf dan Khalaf.
Dari
Ali ibnu Abu Talib r.a., diriwayatkan bahwa tannur artinya cahaya waktu
subuh dan sinar fajar. Tetapi pendapat yang pertamalah yang paling jelas.
Mujahid
dan Asy-Sya'bi mengatakan bahwa tannur tersebut berada di kota Kufah.
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, tannur adalah sebuah mata air yang
terletak di negeri India. Sedangkan menurut riwayat dari Qatadah, tannur adalah
sebuah mata air yang terletak di Jazirah Arabia yang dikenal dengan nama
"mata air Wardah". Tetapi semua pendapat di atas berpredikat garib
(aneh).
Maka
pada saat itu Allah memerintahkan kepada Nuh a.s. untuk membawa bersamanya ke
dalam bahtera itu dari setiap jenis makhluk yang bernyawa sepasang jodoh.
Menurut pendapat yang lain, juga membawa yang lainnya yang berupa
tumbuh-tumbuhan dari setiap jenis sepasang jodoh.
Menurut
suatu pendapat, burung yang mula-mula dimasukkan ke dalam bahtera Nabi Nuh a.s.
ialah burung beo, dan hewan terakhir yang dimasukkan ke dalam bahtera adalah
keledai. Lalu bergantung iblis pada ekornya; ketika keledai hendak bangkit naik
ke bahtera, iblis memberatkannya karena ia bergantung pada ekor keledai itu.
Maka Nabi Nuh a.s. berkata, "Mengapa kamu, masuklah, celakalah kamu!"
Keledai hendak bangkit, tetapi tidak mampu. Maka Nuh berkata, "Masuklah
kamu, sekalipun iblis ikut bersamamu," hingga masuklah keduanya ke dalam
bahtera itu.
Sebagian
ulama Salaf menyebutkan bahwa mereka merasa keberatan bila singa dibawa masuk
ke dalam bahtera bersama-sama mereka, akhirnya ditimpakan penyakit lemah kepada
singa.
قَالَ ابْنُ أَبِي
حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ كَاتِبُ
اللَّيْثِ، حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ زَيْدِ
بْنِ أَسْلَمَ. عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: "لَمَّا حَمَلَ نُوحٌ فِي السَّفِينَةِ مِنْ كُلِّ
زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ، قَالَ أَصْحَابُهُ: وَكَيْفَ يَطْمَئِنُّ أَوْ: تَطْمَئِنُّ
-اَلْمَوَاشِي وَمَعَهَا الْأَسَدُ؟ فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحُمَّى،
فَكَانَتْ أَوَّلَ حُمَّى نَزَلَتِ الْأَرْضَ، ثُمَّ شَكَوُا الْفَأْرَةَ
فَقَالُوا: الفُوَيسقة تُفْسِدُ عَلَيْنَا طَعَامَنَا وَمَتَاعَنَا. فَأَوْحَى
اللَّهُ إِلَى الْأَسَدِ، فَعَطَسَ، فَخَرَجَتِ الْهِرَّةُ مِنْهُ، فَتَخَبَّأَتِ
الْفَأْرَةُ مِنْهَا
Ibnu
Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan
kepada kami Abdullah Ibnu Saleh (juru tulis Al-Lais), telah menceritakan
kepadaku Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu
Aslam, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Setelah Nuh
membawa serta ke dalam perahunya dari setiap makhluk satu jodoh, teman-temannya
berkata, "Bagaimana ternak-ternak itu dapat tenang bila mereka tinggal
bersama singa?” Maka Allah menimpakan penyakit demam pada singa, dan penyakit
demam itu adalah penyakit demam yang mula-mula ada di bumi. Kemudian mereka
mengadu tentang tikus, mereka berkata, "Binatang perusak ini telah membuat
rusak makanan dan barang-barang kami.” Maka Allah memerintahkan kepada singa
untuk bersin. Lalu bersinlah singa itu, dan keluarlah darinya kucing; maka
tikus-tikus itu bersembunyi dari kucing (karena takut kepadanya).
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ
الْقَوْلُ}
dan
keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya. (Hud: 40)
Yakni
muatkanlah ke dalam bahtera itu seluruh keluargamu, mereka terdiri atas ahli
bait dan kaum kerabat Nuh a.s. Kecuali orang yang telah ditetapkan oleh takdir
Allah dari kalangan mereka, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Allah
dari kalangan mereka. Di antaranya ialah anak lelaki Nabi Nuh sendiri yang
bernama Yam, dia memisahkan dirinya; juga istri Nabi Nuh yang kafir kepada
Allah dan Rasul-Nya.
Firman
Allah Swt.:
{وَمَنْ آمَنَ}
dan
(muatkan pula) orang-orang yang
beriman. (Hud: 40)
Yaitu
dari kalangan kaummu.
{وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ}
Dan
tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit. (Hud: 40)
Maksudnya,
sangat sedikit; padahal masa Nabi Nuh tinggal bersama mereka cukup lama, yaitu
kurang lebih sembilan ratus lima puluh tahun. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas,
bahwa jumlah mereka yang beriman kepada Nabi Nuh ada delapan puluh jiwa
termasuk kaum wanitanya.
Diriwayatkan
dari Ka'bul Ahbar bahwa jumlah mereka yang beriman adalah tujuh puluh dua
orang. Menurut pendapat lainnya adalah sepuluh orang. Menurut pendapat lainnya,
sesungguhnya yang naik ke dalam bahtera itu hanyalah Nuh dan ketiga putranya
(yaitu Sam, Ham, dan Yafis) serta empat orang wanita, yaitu istri dari ketiga
putra Nuh dan istri Yam.
Menurut
pendapat yang lainnya lagi, istri Nuh pun berada bersama mereka di dalam
bahtera itu, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya.
Karena sesungguhnya menurut pendapat yang kuat, istri Nabi Nuh binasa, karena
dia masih memeluk agama kaumnya, sehingga ia tertimpa apa yang menimpa kaumnya.
Perihalnya sama dengan istri Nabi Lut yang ikut tertimpa azab yang menimpa
kaumnya.
Hud, ayat 41-43
{وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا
بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41)
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ
فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42)
قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ
مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ
الْمُغْرَقِينَ (43) }
Dan Nuh berkata, "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan
menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku
benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa
mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan
anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu
berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, "Aku akan
mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh
berkata, " Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah
(saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara
keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Allah
Swt. berfirman menceritakan perihal Nabi Nuh a.s., bahwa dia berkata kepada
orang-orang yang diperintahkan agar dibawa masuk ke dalam bahteranya:
{ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا
وَمُرْسَاهَا}
Naiklah
kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan
berlabuhnya. (Hud: 41)
Yakni
dengan menyebut nama Allah ia dapat berlayar di atas air, dan dengan menyebut
nama Allah pula ia dapat berlabuh di akhir perjalanannya.
Abu
Raja Al-Utaridi membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
"بسْمِ اللهِ
مُجْرِيَها ومُرْسِيهَا".
dengan
menyebut nama Allah yang memberlayarkan dan yang melabuhkannya. (Hud: 41)
Dan
Allah Swt. telah berfirman:
{فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ
عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ
الظَّالِمِينَ وَقُلْ رَبِّ أَنزلْنِي مُنزلا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ
الْمُنزلِينَ}
Apabila
kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka
ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari
orang-orang zalim.” Dan berdoalah, "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada
tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Al-Mu’minun: 28-29)
Karena
itulah maka disunatkan membaca basmalah di saat hendak menaiki
kendaraan, baik kendaraan laut maupun kendaraan darat, sebagaimana yang
disebutkan oleh firman-Nya:
{وَالَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ
لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالأنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ لِتَسْتَوُوا عَلَى
ظُهُورِهِ}
Yang
menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal
dan binatang ternak yang kalian tunggangi, supaya kalian duduk di atas
punggungnya. (Az-Zukhruf: 12-13), hingga akhir ayat.
Sunat
menganjurkan hal tersebut dan menyerukannya, seperti yang akan disebutkan di
dalam tafsir surat Az-Zukhruf.
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ
الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَاشِمٍ الْبَغَوِيُّ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ -وَحَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ
يَحْيَى السَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الحَرشي -قَالَا
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ الْحَسَنِ الْهِلَالِيُّ، عَنْ نَهْشل بْنِ
سَعِيدٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَمَانُ أُمَّتِي مِنَ الْغَرَقِ إذا ركبوا في
السفن أن يقولوا: بسم اللَّهِ الْمَلِكِ، {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
وَالأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ
بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزُّمَرِ: 67] ،
{بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ}
Abul
Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hasyim
Al-Bagawi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar Al-Maqdami,
dan telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya As-Saji, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Al-Harsi, keduanya mengatakan bahwa
telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnul Hasan Al-Hilali, dari Nahsyal
ibnu Sa'id, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah
bersabda: Keamanan umatku dari tenggelam, bila mereka menaiki kapal laut
ialah hendaknya mereka mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah Maha Raja,
dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya —hingga
akhir ayat— dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan
berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
*******************
Firman
Allah Swt.:
{إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ}
Sesungguhnya
Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Hud: 41)
Makna
ayat ini merupakan perimbangan di saat menyebutkan pembalasan azab Allah yang
ditimpakan atas orang-orang kafir dengan menenggelamkan mereka semuanya. Untuk
itu, Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Perihalnya sama dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ
وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ}
Sesungguhnya
Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (Al-A'raf: 167)
وَإِنَّ
رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ
الْعِقَابِ
Sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang
luas) bagi manusia, sekalipun mereka zalim; dan sesungguhnya Tuhanmu
benar-benar sangat keras siksa-Nya. (Ar-Ra'd: 6)
Masih
banyak ayat lain yang menyebutkan antara rahmat dan azab-Nya secara
bergandengan.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ
كَالْجِبَالِ}
Dan
bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. (Hud: 42)
Maksudnya,
bahtera itu berlayar membawa mereka di atas permukaan air yang telah
menggenangi semua daratan di bumi, yang ketinggiannya sampai menutupi
puncak-puncak gunung yang tertinggi, dan lebih tinggi lima belas hasta darinya.
Menurut pendapat lain, tinggi banjir besar itu mencapai delapan puluh mil.
Bahtera
Nabi Nuh itu berlayar di atas permukaan air dengan seizin Allah dan dengan
pengawasan, pemeliharaan, penjagaan, dan karuniaNya. Seperti yang disebutkan
di dalam ayat lain, yaitu:
{إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ
فِي الْجَارِيَةِ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ}
Sesungguhnya
Kami, tatkala air telah naik (sampai
ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera, agar
Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh
telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12)
{وَحَمَلْنَاهُ
عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ
كُفِرَ وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ}
Dan
Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang
terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai
balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah
Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil
pelajaran? (Al-Qamar: 13-15)
*******************
Adapun
firman Allah Swt.:
وَنَادَى
نُوحٌ ابْنَهُ
Dan
Nuh memanggil anaknya. (Hud: 42)
Yang
dimaksud adalah anaknya yang keempat, namanya Yam; dia seorang kafir. Ayahnya
memanggilnya di saat hendak menaiki bahtera dan menyerunya agar beriman serta
naik bahtera bersama mereka sehingga tidak tenggelam seperti yang dialami oleh
orang-orang yang kafir.
{قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ
الْمَاءِ}
Anaknya
menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku
dari air bah! (Hud:
43)
Menurut
suatu pendapat, dia membuat perahu dari kaca untuknya. Akan tetapi, kisah ini
termasuk kisah Israiliyat, hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya. Tetapi
yang di-nas-kan oleh Al-Qur'an ialah bahwa dia berkata: Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! (Hud: 43)
Karena
kebodohannya, dia menduga bahwa banjir itu tidak akan dapat mencapai
puncak-puncak bukit (gunung); dan bahwa seandainya dia mengungsi ke puncak
gunung itu, niscaya dia dapat selamat dari air bah tersebut. Maka ayahnya —Nuh
a.s.— berkata kepadanya:
{لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
إِلا مَنْ رَحِمَ}
Tidak
ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. (Hud: 43)
Yakni
tidak ada sesuatu pun pada hari ini yang dapat melindungi dari azab Allah.
Menurut suatu pendapat, lafaz 'asiman ini bermakna ma'suman, seperti
dikatakan terhadap lafaz ta'im (pemberi makan) dan kasin (pemberi
pakaian) yang artinya mat'um (yang diberi makanan) dan maksuwwun (yang
diberi pakaian).
{وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ
الْمُغْرَقِينَ}
Dan
gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk
orang-orang yang ditenggelamkan.
(Hud: 43)
Hud, ayat 44
{وَقِيلَ يَا أَرْضُ
ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الأمْرُ
وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (44) }
Dan difirmankan,
"Hai bumi, telanlah airmu; dan hai langit (hujan), berhentilah, " dan air pun
disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas
Bukit Judi, dan dikatakan, "Binasalah orang-orang yang zalim.”
Allah Swt. menceritakan bahwa setelah Dia
menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali orang-orang yang ada di dalam
bahtera itu, lalu Allah memerintahkan kepada bumi agar menelan airnya yang
telah dipancarkan darinya dan berkumpul di permukaannya. Allah memerintahkan
pula kepada langit agar menghentikan hujannya.
{وَغِيضَ الْمَاءُ}
dan air pun disurutkan. (Hud: 44)
Yaitu mulai menyurut dan berkurang.
{وَقُضِيَ الأمْرُ}
dan perintah pun diselesaikan. (Hud: 44)
Maksudnya, telah selesai dari membinasakan
seluruh penduduk bumi yang kafir kepada Allah, sehingga tiada sesuatu pun dari
rumah mereka yang tersisa.
{وَاسْتَوَتْ}
dan bahtera pun berlabuh (Hud: 44)
Yakni berlabuhlah bahtera itu bersama orang-orang
yang ada di dalamnya.
{عَلَى الْجُودِيِّ}
di atas bukit Judi. (Hud: 44)
Mujahid mengatakan bahwa Judi adalah nama
sebuah bukit yang terletak di Jazirah Arab. Semua gunung saling meninggikan
dirinya dari banjir pada hari itu agar tidak tenggelam, tetapi Bukit Judi ber-tawadu
(merendahkan dirinya) kepada Allah Swt. Karena itu, ia tidak tenggelam, dan
bahtera Nabi Nuh berlabuh di atasnya.
Qatadah mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh
berlabuh di atasnya selama satu bulan sebelum mereka turun dari bahtera.
Qatadah mengatakan, "Allah membiarkan bahtera Nabi Nuh tetap ada di atas
Bukit Judi, yaitu di salah satu kawasan jazirah, sebagai pelajaran dan
pertanda, hingga dapat dilihat oleh generasi pertama dari kalangan umat ini
(umat Nabi Saw.) Berapa banyak bahtera yang ada sesudahnya, tetapi semuanya
hancur dan menjadi debu."
Ad-Dahhak mengatakan bahwa Al-Judi adalah
sebuah bukit yang terletak di Mausul. Sebagian ulama mengatakan bahwa bukit
yang dimaksud adalah Bukit Tur.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan
kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Rafi', telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, dari Taubah ibnu Salim yang
mengatakan, "Aku melihat Zur ibnu Hubaisy melakukan salatnya di Az-Zawiyah
ketika ia masuk dari pintu gerbang Kindah yang ada di sebelah kananmu. Lalu aku
bertanya kepadanya, Sesungguhnya engkau kulihat sering melakukan salat di sini
pada hari Jumat?' Ia menjawab, 'Telah sampai suatu berita kepadaku bahwa
bahtera Nabi Nuh pernah berlabuh di sini'."
Alba ibnu Ahmar telah meriwayatkan dari Ikrimah,
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Nuh di dalam bahteranya ditemani
oleh delapan puluh orang lelaki berikut istri-istri mereka. Dan sesungguhnya
mereka berada di dalam bahtera itu selama seratus lima puluh hari.
Dan sesungguhnya Allah mengarahkan bahtera ke
Mekah, lalu tawaf di Baitullah selama empat puluh hari, kemudian Allah
mengarahkannya ke Bukit Al-Judi, dan bahtera itu menetap di puncaknya.
Maka Nabi Nuh mengirimkan burung gagak untuk
mendatangkan berita tentang daratan kepadanya. Lalu burung gagak pergi, dan ia
hinggap pada bangkai sehingga membuatnya melalaikan tugasnya. Kemudian Nabi Nuh
mengirimkan burung merpati (untuk mendatangkan berita yang sama), maka burung
merpati kembali dengan membawa daun pohon zaitun dan kedua kakinya berlumuran
lumpur. Sejak saat itu Nabi Nuh a.s. mengetahui bahwa air telah surut, maka ia
turun ke bagian bawah Bukit Al-Judi, yakni di lembahnya.
Nabi Nuh mulai membangun sebuah kota, lalu ia
beri nama Samanin; dan di suatu masa, bahasa mereka terpecah belah
menjadi delapan puluh bahasa, salah satunya adalah bahasa Arab., Sebagian dari
mereka tidak dapat memahami bahasa sebagian yang lain, dan Nabi Nuhlah yang
menjadi juru penerjemahnya di kalangan mereka.
Ka'b Al-Ahbar mengatakan, sesungguhnya bahtera
Nuh a.s. mengelilingi kawasan Timur dan Barat sebelum ia menetap di Bukit
Al-Judi.
Qatadah dan lain-lainnya mengatakan bahwa mereka
menaiki bahtera itu pada tanggal sepuluh Rajab, lalu mereka berlayar selama
seratus lima puluh hari; dan bahtera itu menetap di Bukit Al-Judi selama satu
bulan, sedangkan mereka masih berada di dalamnya. Dan mereka baru keluar dari
bahtera pada hari Asyura bulan Muharam.
Hal yang semisal telah disebutkan di clalam
sebuah hadis marfu diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Disebutkan bahwa mereka
melakukan puasa pada hari mereka keluar dari bahtera itu.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا
عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ حَبِيب الْأَزْدِيُّ، عَنْ أَبِيهِ حَبِيبِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ، عَنْ شُبَيل، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ، وَقَدْ صَامُوا يَوْمَ
عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا الصَّوْمُ؟ قَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي
نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْغَرَقِ، وَغَرِقَ فِيهِ
فِرْعَوْنُ، وَهَذَا يَوْمٌ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الجُودِيّ،
فِصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى، عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنَا
أَحَقُّ بِمُوسَى، وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ". فَصَامَ، وَقَالَ
لِأَصْحَابِهِ: "مَنْ كَانَ أَصْبَحَ مِنْكُمْ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ
صَوْمَهُ، وَمَنْ كَانَ أَصَابَ من غَذاء أَهْلِهِ، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ
يَوْمِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Abu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Habib Al-Azdi,
dari ayahnya (yaitu Habib ibnu Abdullah), dari Syibi, dari Abu Hurairah yang
menceritakan bahwa Nabi Saw. bersua dengan sejumlah orang Yahudi yang sedang
melakukan puasa pada hari Asyura, maka Nabi Saw. bertanya, "Puasa
apakah ini?" Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari saat Allah
menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam dan pada hari yang sama
Fir'aun ditenggelamkan. Dan hari ini adalah hari saat bahtera (Nuh a.s.)
berlabuh di atas Bukit Al-Judi. Maka Nuh dan Musa melakukan puasa pada hari ini
sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah Swt." Maka Nabi Saw.
bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak untuk melakukan
puasa pada hari ini. Nabi Saw. melakukan puasa pada hari itu, dan beliau
bersabda kepada para sahabatnya: Barang siapa yang berpagi hari di antara
kalian dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya. Dan barang
siapa yang telah menyantap sebagian dari makanan keluarganya, maka hendaklah ia
melanjutkan harinya dengan puasa.
Hadis ini garib bila ditinjau dari segi
jalur ini, tetapi sebagian darinya ada syahid yang menguatkannya di
dalam kitab Sahih.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}
dan dikatakan, "Binasalah orang-orang
yang zalim.” (Hud: 44)
Artinya, binasa dan merugilah mereka serta
dijauhkanlah mereka dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya mereka telah binasa
sampai ke akar-akarnya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang masih
hidup.
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir dan Al-Habr Abu
Muhammad ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan di dalam kitab Tafsir-nya masing-masing:
مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ الزَّمْعِيِّ، عَنْ قَائِدٍ
-مَوْلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ -أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ أَحَدًا
لَرَحِمَ أُمَّ الصَّبِيِّ"، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "كَانَ نُوحٌ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، مَكَثَ فِي قَوْمِهِ أَلْفَ
سَنَةٍ [إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا] ، يَعْنِي وَغَرَسَ مِائَةَ سَنَةٍ الشَّجَرَ،
فَعَظُمَتْ وَذَهَبَتْ كُلَّ مَذْهَبٍ، ثُمَّ قَطَعَهَا، ثُمَّ جَعَلَهَا
سَفِينَةً وَيَمُرُّونَ عَلَيْهِ وَيَسْخَرُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: تَعْمَلُ
سَفِينَةً فِي البَرّ، فَكَيْفَ تَجْرِي؟ قَالَ: سَوْفَ تَعْلَمُونَ. فَلَمَّا
فَرَغَ ونَبَع الْمَاءُ، وَصَارَ فِي السِّكَكِ خشِيت أُمُّ الصَّبِيِّ عَلَيْهِ،
وَكَانَتْ تُحِبُّهُ حُبًّا شَدِيدًا، فَخَرَجَتْ إِلَى الْجَبَلِ، حَتَّى
بَلَغَتْ ثُلُثَهُ فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ [ارْتَفَعَتْ حَتَّى بَلَغَتْ
ثُلُثَيْهِ، فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ] خَرَجَتْ بِهِ حَتَّى اسْتَوَتْ عَلَى
الْجَبَلِ، فَلَمَّا بَلَغَ رَقَبَتَهَا رَفَعَتْهُ بِيَدَيْهَا فَغَرِقَا فَلَوْ
رَحِمَ اللَّهُ مِنْهُمْ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ الصَّبِيِّ"
melalui hadis Ya'qub ibnu Musa Az-Zam'i, dari
Qaid pelayan Ubaidillah ibnu Abu Rafi', bahwa Ibrahim ibnu Abdur Rahman ibnu
Abu Rabi'ah pernah bercerita kepadanya bahwa Siti Aisyah r.a. telah
menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Seandainya Allah
merahmati seseorang dari kalangan kaum Nuh, niscaya Dia membelaskasihani ibu
bayi itu. Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya: Nuh a.s. tinggal di
kalangan kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ia menanam pohon
selama seratus tahun, dan pohon-pohon yang ditanamnya itu menjadi besar dan
menjulang tinggi sekali. Lalu Nuh menebangnya dan menjadikannya perahu. Mereka (kaumnya)
melewatinya dan mengejeknya seraya berkata, "Kamu buat perahu di
daratan, bagaimana dapat berlayar?” Nuh menjawab, "Kelak kalian akan
mengetahui.” Setelah Nuh selesai dari pembuatan perahunya, maka
memancarlah air sehingga membanjiri jalan-jalan dan kawasan kota. Maka ibu si
bayi itu takut akan keselamatan anaknya yang sangat dicintainya. Lalu ia keluar
menaiki sebuah gunung hingga mencapai ketinggian sepertiganya. Ketika air
mencapainya, maka ia naik lagi ke atas gunung itu hingga mencapai dua pertiga
ketinggiannya. Dan ketika air bah mencapainya, maka ia naik ke atas puncak
gunung itu. Dan ketika air mencapai lehernya, maka ia mengangkat bayinya dengan
kedua tangannya, tetapi akhirnya keduanya tenggelam. Seandainya Allah
mengasihani seseorang dari mereka, niscaya Dia mengasihani ibu si bayi itu.
Hadis ini garib bila ditinjau dari jalur
ini. Kisah bayi dan ibunya ini telah diriwayatkan dari Ka'b Al-Ahbar, Mujahid
ibnu Jubair dengan alur kisah yang semisal.
Hud, ayat 45-47
{وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ
فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ
أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ
إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ
بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي
وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47) }
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku,
sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah
yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya
dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya
(perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik Sebab itu, janganlah kamu memohon
kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya
Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak
berpengetahuan.” Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung
kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya)
Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh
belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”
Sebuah
permintaan yang penuh dengan rasa berserah diri dan kejujuran dari Nuh a.s.
tentang keadaan anaknya yang ditenggelamkan:
{فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي}
Nuh
berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku." (Hud: 45)
Maksudnya,
sedangkan Engkau telah menjanjikan kepadaku keselamatan seluruh keluargaku, dan
janji-Mu adalah benar, tidak akan diingkari; maka mengapa Engkau
menenggelamkannya. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.
{قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ
أَهْلِكَ}
Allah
berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu." (Hud: 46)
yang
telah Aku janjikan keselamatan mereka, karena sesungguhnya Aku hanya
menjanjikan kepadamu keselamatan orang-orang yang beriman saja dari kalangan
keluargamu. Karena itulah dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ
الْقَوْلُ}
dan
(juga) keluargamu, kecuali orang
yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka.
(Hud: 40 ; Al-Mu’minun: 27)
Putra
Nabi Nuh itu termasuk di antara mereka yang telah ditakdirkan harus
ditenggelamkan karena kekafirannya dan menentang perintah ayahnya sebagai Nabi
Allah. Banyak dari kalangan para imam yang me-nas-kan kekeliruan orang
yang berpendapat bahwa anak yang ditenggelamkan tersebut bukanlah putranya,
dalam tafsir ayat ini. Dan ia mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak zina.
Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, anak yang ditenggelamkan tersebut
adalah anak istri Nabi Nuh, yaitu anak tirinya. Demikianlah menurut riwayat
yang bersumberkan dari Mujahid, Al-Hasan, Ubaid ibnu Umair, Abu Ja'far
Al-Baqir, dan Ibnu Juraij. Sebagian dari mereka berdalilkan kepada firman Allah
Swt. yang mengatakan:
{إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ}
sesungguhnya
(perbuatan)nya perbuatan
yang tidak baik. (Hud: 46)
{فَخَانَتَاهمُا}
lalu
kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim: 10)
Di
antara orang yang mengatakan pendapat tersebut adalah Al-Hasan Al-Basri yang
berdalilkan kepada kedua ayat di atas. Sebagian dari mereka mengatakan anak
istrinya, yakni anak tiri Nuh a.s. Pendapat ini dapat diartikan sependapat
dengan apa yang dimaksudkan oleh Al-Hasan; atau dia bermaksud bahwa anak
tersebut dinisbatkan kepada Nuh a.s. secara majaz, karena anak tersebut
dipelihara di rumah Nuh a.s.
Ibnu
Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf
mengatakan bahwa tidak ada seorang istri nabi yang berbuat zina. Mengenai
firman-Nya yang mengatakan:
{إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ}
sesungguhnya
dia bukanlah termasuk keluargamu. (Hud:
46)
yang
telah Aku janjikan kepadamu keselamatan mereka.
Pendapat
Ibnu Abbas dalam tafsir ayat ini adalah benar, dan tidak ada jalan untuk
menghindar darinya. Karena sesungguhnya Allah Swt. sangat pencemburu dan tidak
akan mungkin Dia biarkan ada seorang istri nabi yang berbuat zina. Karena
itulah Allah Swt. sangat murka terhadap orang-orang yang menuduh hal yang tidak
senonoh terhadap Ummul Mu’minin Siti Aisyah putri Abu Bakar As-Siddiq,
istri Nabi Saw. Dan Dia mengingkari orang-orang mukmin yang mempergunjingkan
hal ini serta menyiarkannya. Untuk itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam
firman-Nya:
{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ
مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ
عَذَابٌ عَظِيمٌ}
Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga.
Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, tetapi hal itu
mengandung kebaikan bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat
balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil
bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang
besar. (An-Nur: 11)
sampai
dengan firman-Nya:
{إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ
وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ
هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ}
(Ingatlah)
di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian
katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan
kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah
besar. (An-Nur: 15)
Abdur
Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah dan
lain-lainnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa anak itu
memang anaknya, hanya dia bertentangan dengan ayahnya dalam hal amal dan niat
(akidah).
Dalam
sebagian qiraatnya Ikrimah mengatakan bahwa sesungguhnya anak itu telah
melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, dan perbuatan khianat (seperti yang
disebutkan di atas) bukanlah pada tempatnya. Telah disebutkan pula di dalam
hadis bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan tersebut.
قَالَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ،
عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ،
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ:
"إِنَّهُ عَمِلَ غَيْرَ صَالِح"، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : {يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا} وَلَا يُبَالِي {إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Syahr ibnu
Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar
Rasulullah Saw. membacakan ayat ini dengan bacaan berikut: Sesungguhnya
perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46) Ia pernah pula mendengar
Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (Az-Zumar: 53) Yakni
tanpa mempedulikannya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Az-Zumar: 53)
قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا:
حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا هَارُونُ النَّحْوِيُّ، عَنْ ثَابِتٍ البُنَاني،
عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَرَأَهَا:
"إِنَّهُ عَمِل غَيْرَ صَالِح"
Imam
Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Waki', telah
menceritakan kepada kami Harun An-Nahwi, dari Sabit Al-Bannani, dari Syahr ibnu
Hausyab, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan
berikut: Sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46)
Imam
Ahmad mengulangi pula riwayat ini dalam kitab Musnad-nya. Ummu Salamah
adalah Ummul Mu’minin, tetapi menurut makna lahiriahnya —hanya Allah
yang lebih mengetahui— dia adalah Asma binti Yazid, karena Asma binti Yazid pun
dijuluki dengan nama panggilan itu (yakni Ummu Salamah).
Abdur
Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Ibnu Uyaynah,
dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari Sulaiman ibnu Qubbah yang mengatakan bahwa ia
pernah mendengar Ibnu Abbas ketika berada di sisi Ka'bah ditanya mengenai
firman Allah Swt.: lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim:
10) Maka Ibnu Abbas menjawab, "Ingatlah, sesungguhnya bukan karena zina,
melainkan si istri tersebut menceritakan kepada orang-orang bahwa suaminya
gila." Dan hal ini tentu saja menunjukkan kepada pengertian perbuatan
khianat. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: sesungguhnya
perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46)
Ibnu
Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ammar Az-Zahabi, bahwa ia
pernah bertanya kepada Sa'id ibnu Jubair mengenai hal tersebut. Maka Sa'id ibnu
Jubair menjawab bahwa dia memang anak Nabi Nuh, Allah tidak pernah berdusta.
Allah
Swt. telah berfirman:
{وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ}
Dan
Nuh berseru memanggil anaknya. (Hud:
42)
Sebagian
ulama mengatakan bahwa tiada seorang istri nabi yang berbuat fasik. Hal yang
sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Maimun ibnu Mahran,
dan Sabit ibnul Hajjaj. Pendapat inilah yang dipilih oleh Abu Ja'far ibnu
Jarir, dan pendapat inilah yang benar, tidak diragukan lagi.
Hud, ayat 48
{قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ
بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ
سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (48) }
Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan
penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu.
Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan
dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”
Allah
Swt. menceritakan firman-Nya kepada Nuh a.s. ketika bahteranya telah berlabuh
di atas Bukit Al-Judi, yaitu ucapan kesejahteraan yang ditujukan kepadanya,
kepada orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kepada seluruh orang mukmin dari
kalangan keturunannya sampai hari kiamat. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad
ibnu Ka'b, bahwa termasuk ke dalam ucapan sejahtera (salam) ini setiap orang
mukmin —baik laki-laki maupun perempuan— sampai hari kiamat nanti. Demikian
pula mengenai azab dan kesenangan sementara, ditujukan kepada setiap orang
kafir laki-laki dan perempuan sampai hari kiamat nanti.
Muhammad
ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah bermaksud menghentikan banjir besar,
Dia mengirimkan angin ke atas permukaan bumi. Maka air pun berhenti, dan semua
sumber air di bumi yang berlimpah lagi besar tertutup, begitu pula semua pintu
langit (yakni hujannya).
Allah
Swt. berfirman:
وَقِيلَ
يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ
Dan
difirmankan, "Hai bumi, telanlah airmu.” (Hud: 44), hingga akhir ayat.
Maka
air pun mulai berkurang dan menyurut serta mengering.
Menurut
dugaan Ahli Kitab Taurat, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di atas Bukit Al-Judi
adalah pada bulan tujuh tanggal tujuh belasnya. Dan pada permulaan bulan
kesepuluh Nuh a.s. melihat puncak-puncak bukit. Setelah berlalu empat puluh
hari, Nuh membuka pintu bahteranya, lalu ia mengirimkan burung gagak untuk
melihat keadaan air, tetapi burung gagak tidak kembali lagi. Lalu Nuh
mengirimkan burung merpati, dan burung merpati itu kembali lagi kepadanya
karena tidak menemukan daratan untuk tempat hinggapnya. Maka Nabi Nuh
mengulurkan tangannya kepada merpati itu dan menangkapnya, lalu memasukkannya
kembali kedalam bahtera.
Kemudian
berlalulah tujuh hari, dan Nuh kembali mengirimkan burung merpati untuk melihat
keadaan daratan. Merpati itu kembali kepadanya pada sore harinya, sedangkan di
paruhnya terdapat daun pohon zaitun. Maka Nuh mengetahui bahwa air telah
menyurut dari permukaan bumi
Nuh
tinggal selama tujuh hari lagi, kemudian ia kembali mengirimkan burung merpati
itu, dan ternyata burung merpati itu tidak kembali, maka Nuh mengetahui bahwa
daratan telah muncul. Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirimkan banjir
besar hingga Nuh mengirimkan burung merpati dan pada tanggal satu bulan pertama
dari tahun berikutnya daratan telah tampak, maka Nuh membuka penutup
bahteranya. Dan pada bulan yang kedua dari tahun berikutnya, yaitu pada tanggal
dua puluh enamnya:
قِيلَ
يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا
Difirmankan,
"Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera.” (Hud: 48), hingga akhir ayat.
Hud, ayat 49
{تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ
الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ
قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49) }
Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang
Kami wahyukan kepadamu (Muhammad);
tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.
Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
bertakwa.
Allah
Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, bahwa kisah ini dan yang serupa dengannya:
{مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ}
di
antara berita-berita penting tentang yang gaib. (Hud: 49)
Yakni
termasuk di antara berita-berita yang gaib di masa lalu, Kami wahyukan kepadamu
dengan apa adanya seakan-akan kamu menyaksikannya sendiri:
{نُوحِيهَا إِلَيْكَ}
Kami
wahyukan kepadamu. (Hud: 49)
Maksudnya,
Kami ajarkan kepadamu tentangnya sebagai wahyu yang Kami turunkan kepadamu:
{مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا
قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا}
tidak
pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula)
kaummu sebelum ini. (Hud: 49)
Yakni
tidaklah kamu —-tidak pula seseorang pun dari kaummu— mengetahui kisah ini
sebelumnya, sehingga berkatalah orang-orang yang mendustakanmu, bahwa sesungguhnya
kamu telah mempelajarinya dari seseorang. Tidak, bahkan Allah-Iah yang
memberitahukannya kepadamu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, seperti juga
yang dikisahkan oleh kitab-kitab para nabi sebelum kamu.
Maka
bersabarlah terhadap pendustaan orang-orang yang mendustakanmu dari kalangan
kaummu, juga bersabarlah dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan
terhadap dirimu. Karena sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan kamu dan
meliputi kamu dengan perhatian Kami, dan Kami jadikan akibat yang terpuji
bagimu dan bagi para pengikutmu di dunia dan di akhirat. Perihalnya sama dengan
apa yang telah Kami lakukan terhadap para utusan lainnya, Kami menolong mereka
dari musuh-musuhnya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman Allah Swt.:
إِنَّا
لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا
Sesungguhnya
Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman. (Al-Mu’min: 51), hingga akhir ayat.
وَلَقَدْ
سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ إِنَّهُمْ لَهُمُ
الْمَنْصُورُونَ
Dan
sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
(yaitu) sesungguhnya mereka
itulah yang pasti mendapat pertolongan. (Ash-Shaffat: 171-172)
Adapun
firman Allah Swt.:
{فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ
لِلْمُتَّقِينَ}
Maka
bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
bertakwa. (Hud: 49)
Hud, ayat 50-52
{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ
هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ
أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ (50) يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا
إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ (51) وَيَا قَوْمِ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ
مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
(52) }
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Kalian
hanya mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepada kalian
bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah
menciptakanku. Maka tidakkah kalian memikirkan(nya)?” Dan (dia
berkata), "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan kalian lalu bertobatlah
kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian, dan Dia
akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, dan janganlah kalian
berpaling dengan berbuat dosa.”
Allah
Swt. telah berfirman, "Dan telah Kami utus,
{إِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا}
kepada
kaum 'Ad saudara mereka Hud. (Hud:
50)
untuk
memerintahkan mereka agar menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan
melarang mereka menyembah berhala-berhala yang mereka ada-adakan dan mereka
jadikan nama-namanya sebagai tuhan-tuhan sembahan mereka. Nabi Hud mengatakan
pula kepada kaumnya bahwa dia tidak mengharapkan suatu upah pun dari mereka
atas nasihat dan penyampaian risalah dari Allah ini, sesungguhnya yang ia
harapkan hanyalah pahala Allah belaka yang telah menciptakannya.
{أَفَلا تَعْقِلُونَ}
Maka
tidakkah kalian memikirkan(nya)?
(Hud: 51)
Yakni
memikirkan orang yang menyeru kepada kalian untuk kebaikan dunia dan akhirat
kalian tanpa upah sedikit pun.
Kemudian
Nabi Hud menganjurkan kaumnya untuk beristigfar, karena dengan istigfar itu
dosa-dosa yang telah lalu dapat dihapuskan, dan hendaknyalah mereka bertobat
dari dosa-dosa tersebut di masa mendatangnya. Barang siapa yang menyandang
sifat ini, niscaya Allah akan memudahkan jalan rezekinya dan semua urusannya,
dan Allah akan selalu memeliharanya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا}
niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian. (Hud: 52; Nuh: 11)
Di
dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:
"مَنْ لَزِمَ
الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مَنْ كُلِّ هَم فَرَجًا، وَمَنْ كُلِّ ضِيقٍ
مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ".
Barang
siapa yang tetap melakukan istigfar, Allah menjadikan baginya kemudahan dari
setiap kesulitan dan dari setiap kesempitan jalan keluarnya, serta Allah
memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duganya.
Hud ayat, 57-60
{فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ
أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا
غَيْرَكُمْ وَلا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
(57) وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ (58) وَتِلْكَ عَادٌ
جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ
جَبَّارٍ عَنِيدٍ (59) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَلا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ
هُودٍ (60) }
Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan
kepada kalian apa (amanat) yang aku
diutus (untuk menyampaikan)«ya kepada kalian. Dan Tuhanku akan mengganti
(kalian) dengan kaum yang lain (dari) kalian; dan kalian tidak
dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha
Pemelihara segala sesuatu. Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud
dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami
selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan
itulah (kisah) kaum Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan
mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan mereka menuruti perintah semua
penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka
selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari
kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka.
Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu.
Nabi
Hud berkata kepada kaumnya, "Jika kalian berpaling dari apa yang aku
sampikan kepada kalian ini yang menganjurkan beribadah kepada Allah, Tuhan
kalian semata—tiada sekutu bagi-Nya—dan hujah untuk itu telah ditegakkan atas
kalian melalui penyampaianku kepada kalian akan risalah Allah yang telah
mengutusku dengan membawanya.
{وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ}
'Dan
Tuhanku akan mengganti kalian dengan kaum yang lain dari kalian.” (Hud: 57)
Kaum
yang menyembah-Nya semata, tidak mempersekutukan-Nya, dan tidak peduli terhadap
kalian, karena sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan mudarat terhadap-Nya
karena kekafiran kalian terhadapNya, bahkan kekafiran kalian itu akibatnya
akan menimpa diri kalian sendiri."
{إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ}
Sesungguhnya
Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Hud: 57)
Yakni
Maha Menyaksikan dan Maha Memelihara semua ucapan dan perbuatan
hamba-hamba-Nya, lalu kelak Dia akan membalaskannya kepada mereka. Jika baik, maka
balasannya baik; dan jika buruk, maka balasannya buruk pula.
{وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا}
Dan
tatkala datang azab Kami. (Hud: 58)
berupa
angin yang sangat dingin dan kencang, maka Allah membinasakan mereka sampai
keakar-akarnya dan menyelamatkan Hud dan para pengikutnya dari azab yang keras
berkat rahmat dan belas kasihan-Nya.
{وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُوا بِآيَاتِ
رَبِّهِمْ}
Dan
itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari
tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka. (Hud: 59)
Mereka
kafir kepada ayat-ayat Tuhannya dan durhaka kepada rasul-rasul Allah. Dikatakan
demikian karena orang yang kafir terhadap seorang nabi, berarti sama saja
dengan kafir kepada semua nabi, sebab pada hakikatnya tidak ada perbedaan di
antara mereka, karena semuanya wajib diimani. Kaum ‘Ad kafir terhadap Nabi Hud,
maka kekufuran mereka disamakan dengan kafir terhadap semua rasul.
{وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ
عَنِيدٍ}
dan
mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (Hud: 59)
Mereka
menolak mengikuti rasul mereka yang benar, dan mereka lebih memilih mengikuti
perintah penguasa yang sewenang-wenang lagi pengingkar kebenaran. Karena itulah
mereka selalu diikuti oleh laknat Allah dan hamba-hamba-Nya yang beriman di
dunia ini setiap kali mereka disebut-sebut. Di hari kiamat kelak mereka akan
dipanggil di hadapan para saksi:
أَلا
إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ
Ingatlah,
sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. (Hud: 60), hingga akhir ayat.
As-Saddi
mengatakan bahwa tidak sekali-kali ada seorang nabi yang diutus sesudah kaum
'Ad, melainkan mereka dilaknati melalui lisan nabi itu.
Hud, ayat 61
{وَإِلَى ثَمُودَ
أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61) }
Dan kepada Samud (Kami utus) saudara mereka. Saleh. Saleh berkata,
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan
selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan
menjadikan kalian pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)."
Allah Swt. berfirman:
{إِلَى ثَمُودَ}
Dan kepada Samud (Kami utus). (Hud: 61)
Mereka adalah orang-orang yang bertempat tinggal
di kota-kota Hajar yang terletak di antara Tabuk dan Madinah. Mereka hidup
sesudah kaum 'Ad, lalu Allah mengutus seorang rasul kepada mereka yang juga
dari kalangan mereka.
{أَخَاهُمْ صَالِحًا}
saudara mereka Saleh. (Hud: 61)
Lalu Nabi Saleh memerintahkah mereka agar
menyembah Allah semata. Karena itu, Saleh a.s. berkata kepada mereka:
{هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ}
Dia telah menciptakan kalian dari tanah. (Hud:
6,1)
Maksudnya, Dia memulai penciptaan kalian dari
tanah; dari tanah Dia menciptakan nenek moyang kalian, yaitu Adam.
{وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا}
dan menjadikan kalian pemakmurnya. (Hud:
61)
Yakni Dia menjadikan kalian sebagai para
pembangun yang memakmurkan bumi dan yang menggarap pemanfaatannya.
فَاسْتَغْفِرُوهُ
Karena itu, mohonlah ampunan-Nya. (Hud:
61)
atas dosa-dosa kalian yang telah lalu.
{ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ}
kemudian bertobatlah kepada-Nya. (Hud: 61)
dalam menjalani masa depan kalian, yakni
janganlah kalian ulangi lagi dosa-dosa itu di masa mendatang.
{إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ}
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya)
lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). (Hud: 61)
Makna ayat tersebut sama dengan apa yang
disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ} الآية
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (Al-Baqarah:
186), hingga akhir ayat.
Hud, ayat 62-63
{قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ
كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ
آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62) قَالَ
يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي
مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ فَمَا
تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ (63) }
Kaum Samud berkata, "Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini
adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami
untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami
betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan
kepada kami." Saleh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian
jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat
dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab
itu, kalian tidak menambah apa pun kepadaku selain dari kerugian.”
Allah
Swt. menceritakan pembicaraan antara Nabi Saleh a.s. dan kaumnya, serta keadaan
kaumnya yang bodoh lagi pengingkar karena mereka mengatakan:
{قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ
هَذَا}
sesungguhnya
kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan. (Hud: 62)
Kami
mengharapkan pendapatmu sebelum kamu mengatakan apa yang telah kamu katakan
itu.
{أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ
آبَاؤُنَا}
apakah
kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? (Hud: 62)
dan
tradisi yang biasa dilakukan oleh para pendahulu kami.
{وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا
إِلَيْهِ مُرِيبٍ}
dan
sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama
yang kamu serukan kepada kami. (Hud:
62)
Yakni
sangat meragukan seruanmu itu.
{قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ
عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي}
Saleh
berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 63)
Maksudnya,
bukti yang meyakinkan dan tanda yang pasti yang membenarkan apa yang aku
sampaikan kepada kalian ini.
{وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ
يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ}
dan
diberi-Nya aku rahmat dari-Nyat maka siapakah yang akan menolongku
dari (azab) Allah jika aku
mendurhakai-Nya. (Hud: 63)
dan
aku tinggalkan seruanku kepada kalian yang mengajak kepada kebenaran dan
menyembah Allah semata. Sekiranya aku meninggalkan hal tersebut, pastilah
kalian tidak dapat memberikan manfaat apa pun kepadaku dan tidak dapat
memberikan tambahan kepadaku.
{غَيْرَ تَخْسِيرٍ}
selain
dari kerugian. (Hud: 63)
Yakni
kerugian yang nyata.
Hud, ayat 64-68:
{وَيَا قَوْمِ هَذِهِ
نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا
تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ (64) فَعَقَرُوهَا فَقَالَ
تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ (65)
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ
الْعَزِيزُ (66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي
دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (67) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلا إِنَّ ثَمُودَ
كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِثَمُودَ (68) }
Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untuk kalian.
Sebab itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian
mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kalian ditimpa azab
yang dekat. Mereka membunuh unta itu, maka berkata Saleh, "Bersuka rialah
kamu sekalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak
dapat didustakan.” Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Saleh beserta
orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan
di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan
suatu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu
mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam
di tempat itu. Ingatlah sesungguhnya kaum Samud mengingkari Tuhan mereka.
Ingatlah, kebinasaan bagi kaum samud.
Kisah
ini telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-A'raf dengan penjelasan yang
terinci sehingga tidak perlu lagi untuk diulangi di sini, dan hanya kepada
Allah-lah kami memohon taufik.
Hud, ayat 69-73
{وَلَقَدْ جَاءَتْ
رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ
أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ
إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا
أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ (70) وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ
فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا
وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ
عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ
وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73) }
Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada
Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, "Selamat."
Ibrahim menjawab, "Selamatlah." Maka tidak lama kemudian Ibrahim
menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan
mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa
takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, "Janganlah kamu takut,
sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum
Lut.” Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu dia tersenyum, maka
Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran) Ishak dan
sesudah Ishak (lahir pula) Ya'qub. Istrinya berkata, "Sungguh
mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang
perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat
itu berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu
adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahli
bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
Allah
Swt. berfirman:
{وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا}
Dan
sesungguhnya telah datang utusan-utusan Kami (Hud:
69)
Mereka
terdiri atas kalangan para malaikat.
إِبْرَاهِيمَ
بِالْبُشْرَى
kepada
Ibrahim dengan membawa berita gembira. (Hud:
69)
Menurut
suatu pendapat, para malaikat itu datang menyampaikan berita gembira kepada
Ibrahim akan kelahiran Ishaq. Menurut pendapat lain, berita gembira tersebut
ialah kebinasaan kaum Lut. Pendapat yang pertama diperkuat oleh firman-Nya yang
mengatakan:
{فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ
الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ}
Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita
gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat)
Kami tentang kaum Lut. (Hud: 74)
Firman
Allah Swt.:
{قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ}
mereka
mengucapkan, "Selamat.” Ibrahim menjawab, "Selamatlah.” (Hud: 69)
Maksudnya,
semoga keselamatan terlimpahkan pula atas kalian. Ulama Bayan mengatakan bahwa
ungkapan ini merupakan ungkapan salam penghormatan yang baik, karena bacaan rafa
menunjukkan pengertian tetap dan selamanya.
{فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ}
maka
tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. (Hud: 69)
Nabi
Ibrahim pergi dengan cepat, lalu segera kembali seraya membawa suguhan dan
jamuan buat tamu-tamunya itu, yaitu berupa sapi muda yang dipanggang. Haniz artinya
dipanggang di atas batu yang dipanaskan. Demikianlah menurut makna yang
diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya
seorang, seperti juga yang disebutkan dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ
سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلا تَأْكُلُونَ}
Maka
dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak
sapi gemuk (yang dibakar), lalu
dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, "Silakan kalian makan.”
(Adz-Dzariyat: 26-27)
Ayat
ini mengandung etika penghormatan kepada tamu dipandang dari berbagai seginya.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ
إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ}
Maka
tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh
perbuatan mereka. (Hud: 70)
Yakni
Nabi Ibrahim merasa keheranan dengan sikap mereka.
{وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً}
dan
merasa takut kepada mereka. (Hud:
70)
Demikian
itu karena malaikat tidak membutuhkan makanan, tidak menginginkannya, tidak
pula pernah memakannya. Melihat sikap mereka yang berpaling dari apa yang
disuguhkannya kepada mereka, tanpa ada rasa keinginan sama sekali, maka pada
saat itu: Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada
mereka. (Hud: 70)
As-Saddi
mengatakan bahwa ketika Allah mengutus sejumlah malaikat untuk membinasakan
kaum Nabi Lut, maka para malaikat itu menyerupakan dirinya sebagai pemuda yang
tampan-tampan; mereka berjalan dan mampir di rumah Nabi Ibrahim, bertamu
kepadanya. Ketika Nabi Ibrahim melihat kedatangan mereka: Maka dia pergi
dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk
(yang dibakar). (Adz-Dzariyat: 26)
Nabi
Ibrahim menyembelih anak sapi, lalu dipanggangnya di atas bara api; setelah
masak, dia menghidangkannya kepada mereka. Nabi Ibrahim duduk bersama mereka,
sedangkan Sarah —istrinya— melayani tamu-tamu itu. Demikian itu terjadi di saat
istrinya berdiri, sedangkan Ibrahim duduk (bersama mereka). Menurut qiraat Ibnu
Mas'ud disebutkan:
"فَلَمَّا قَربه
إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Maka
tatkala Ibrahim menghidangkan suguhannya kepada mereka, Ibrahim berkata,
"Silakan kalian makan.”
Mereka
menjawab, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kami tidak mau memakan sesuatu
makanan kecuali dengan membayar harga (imbalan)nya." Ibrahim berkata,
"Sesungguhnya makanan ini pun ada harganya." Mereka bertanya,
"Apakah harganya?" Ibrahim berkata, "Kalian sebutkan asma Allah
pada permulaannya, kemudian kalian memuji kepada-Nya di akhirnya." Maka
Jibril melihat kepada Mikail seraya berkata, "Orang ini berhak bila
dijadikan oleh Tuhannya sebagai kekasih-Nya." Maka tatkala dilihatnya
tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka. (Hud
: 70)
Tatkala
Ibrahim a.s. melihat bahwa mereka (tamu-tamunya) itu tidak mau menyantap
hidangannya, ia terkejut dan timbullah rasa takut di hatinya terhadap mereka.
Lain halnya dengan Sarah (istri Nabi Ibrahim). Ketika ia melihat bahwa Ibrahim a.s.
telah menghormati mereka, ia bangkit melayani mereka dengan tersenyum ramah
seraya berkata, "Sungguh aneh tamu-tamu kita ini, mereka kita layani
secara langsung sebagai penghormatan kita kepada mereka, tetapi mereka tidak
mau menyantap sajian kita ini."
Ibnu
Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah
menceritakan kepada kami Nasr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Nuh ibnu
Qais, dari Usman ibnu Muhaisin sehubungan dengan kisah tamu-tamu Nabi Ibrahim,
bahwa mereka terdiri atas empat malaikat, yaitu Jibril, Mikail, Israfil dan
Rafa'il. Nuh ibnu Qais mengatakan bahwa Nuh ibnu Abu Syaddad menduga bahwa
ketika mereka masuk ke dalam rumah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim menyuguhkan
kepada mereka anak sapi yang dipanggang, maka Jibril mengusapnya dengan
sayapnya. Lalu anak sapi itu hidup kembali dan bangkit menyusul induknya yang
saat itu induk sapi berada tidak jauh dari rumah Nabi Ibrahim.
*******************
Firman
Allah Swt. yang menceritakan keadaan para malaikat itu:
قَالُوا
لَا تَخَفْ
Malaikat
itu berkata, "Jangan kamu takut!" (Hud:
70)
Yakni
mereka berkata bahwa janganlah kamu takut kepada kami, sesungguhnya kami adalah
para malaikat yang diutus kepada kaum Nabi Lut untuk membinasakan mereka. Maka
Sarah tersenyum mendengar berita gembira akan dibinasakannya mereka, sebab
mereka banyak -menimbulkan kerusakan, dan kekufuran serta keingkaran mereka
sudah terlalu berat. Karena itulah Sarah diberi pembalasan berita gembira,
yaitu dengan kelahiran seorang putra, padahal sudah lama Sarah putus asa dari
mempunyai anak.
Qatadah
mengatakan bahwa Sarah tersenyum dan merasa heran bila suatu kaum kedatangan
azab", sedangkan mereka dalam keadaan lalai.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ}
dan
sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (Hud:
71)
Al-Aufi
telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud dengan fadahikat
ialah fahadat yang artinya 'maka berhaidlah Sarah seketika itu
juga'.
Menurut
Muhammad ibnu Qais, sesungguhnya Sarah tertawa karena dia menduga bahwa
tamu-tamunya itu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang biasa dilakukan
oleh kaum Lut.
Al-Kalbi
mengatakan, sesungguhnya Sarah tertawa hanyalah karena ketika ia melihat Nabi
Ibrahim dicekam oleh rasa takut karena usianya yang sudah lanjut dan keadaannya
yang lemah.
Sekalipun
Ibnu Jarir telah meriwayatkan kedua pendapat di atas berikut sanadnya yang
sampai pada keduanya, tetapi pendapat tersebut tidak usah diperhatikan.
Dan
mengenai pendapat Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa sesungguhnya Sarah
tertawa setelah mendapat berita gembira akan kelahiran Ishaq, hal ini jelas
bertentangan dengan konteks ayat. Karena sesungguhnya berita gembira itu jelas
terjadi setelah Sarah tertawa.
{فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ
إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ}
maka
Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran)
Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (Hud: 71)
Yakni
akan kelahiran putra, kelak putranya itu akan melahirkan anak pula yang
merupakan cucu dan generasi pelanjutnya. Karena sesungguhnya Ya'qub adalah anak
Ishaq, seperti yang disebutkan di dalam ayat surat Al-Baqarah:
{أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ
يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا
نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ
إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ}
Adakah
kalian hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda)
maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kalian sembah
sepeninggalku?*' Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan
nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa
dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 133)
Berdasarkan
ayat inilah orang yang berpendapat bahwa anak yang disembelih itu sesungguhnya
adalah Nabi Ismail. Mustahil bila yang dimaksudkan adalah Ishaq, mengingat
kelahirannya adalah berdasarkan berita gembira yang antara lain menyebutkan
bahwa kelak Ishaq akan mempunyai anak pula, yaitu Ya'qub. Maka mana mungkin
Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya, sedangkan ia masih bayi dan
berita yang menjanjikan akan kelahiran anaknya—yaitu Ya'qub— masih belum
terpenuhi. Janji Allah adalah benar dan tidak akan diingkari. Dengan demikian,
mustahillah bila Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ishaq dalam
keadaan seperti itu (yakni masih kecil dan belum mempunyai anak). Maka dapat
dipastikan bahwa yang dimaksud dengan putra yang disembelih adalah Ismail.
Alasan
tersebut merupakan dalil yang paling baik, paling sahih serta paling jelas.
قَالَتْ يَا
وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا
Istrinya
berkata, "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal
aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah
tua pula?” (Hud: 72), hingga akhir ayat.
Ayat
ini menceritakan tentang ucapan istri Nabi Ibrahim, perihalnya sama dengan apa
yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا
عَجُوزٌ}
Istrinya
berkata, 'Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua?” (Hud:
72)
Dan
Firman-Nya di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 29:
{فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ
فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ}
Kemudian
istrinya datang seraya memekik (tercengang),
lalu menepuk mukanya sendiri dan berkata, "(Aku adalah) seorang
perempuan tua yang mandul.”
Perihalnya
sama dengan wanita lainnya bila merasa terkejut, baik dalam ucapan maupun
sikapnya.
{قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ}
Para
malaikat itu berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?” (Hud: 73)
Para
malaikat itu berkata kepada istri Nabi Ibrahim, "Janganlah kamu merasa
heran tentang kekuasaan Allah, karena sesungguhnya apabila Dia menghendaki
sesuatu tinggal mengatakan kepadanya, 'Jadilah.' Maka jadilah ia. Karena itu,
janganlah kamu merasa heran dengan hal ini, sekalipun kamu sudah lanjut usia
serta mandul dan suamimu pun sudah lanjut usia. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu."
{رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ
أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ}
(Itu
adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahli
bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah (Hud: 73)
Dia
Maha Terpuji dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya, lagi Maha Terpuji dalam
semua sifat dan zat-Nya. Di dalam sebuah hadis yang tertera dalam kitab Sahihain
disebutkan bahwa mereka (para sahabat) bertanya, "Sesungguhnya kami
telah mengetahui cara mengucapkan salam penghormatan kepadamu, maka bagaimanakah
cara mengucapkan salawat untukmu, hai Rasulullah?" Rasulullah Saw.
menjawab:
اللَّهُمَّ صِلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ
إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى [إِبْرَاهِيمَ وَ] آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ"
Katakanlah,
"Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan kepada keluarga
Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarga
Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad,
sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.
Hud, ayat 74-76
{فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ
(74) إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ (75) يَا إِبْرَاهِيمُ
أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ
عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ (76) }
Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira
telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Lut.
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan
suka kembali kepada Allah. Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini,
sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan
didatangi azab yang tidak dapat ditolak.
Allah
Swt menceritakan perihal Ibrahim a.s., bahwa setelah rasa takutnya hilang
terhadap para malaikat —karena mereka tidak mau menjamah makanan—dan setelah
para malaikat itu menyampaikan berita gembira kepadanya akan kelahiran seorang
anak, serta mereka menceritakan kepadanya akan kebinasaan kaum Lut, maka Nabi
Ibrahim berkata seperti apa yang diceritakan oleh Sa'id ibnu Jubair sehubungan
dengan tafsir ayat ini, bahwa ketika Jibril bersama teman-temannya datang
kepada Nabi Ibrahim, mereka berkata kepadanya:
إِنَّا
مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ
Sesungguhnya
kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom)
ini. (Al-'Ankabut: 31)
Maka
Nabi Ibrahim berkata kepada mereka, "Apakah kalian akan menghancurkan
suatu kota yang di dalamnya terdapat tiga ratus orang mukmin?" Mereka
menjawab, "Tidak." Ibrahim berkata, "Apakah kalian akan
membinasakan suatu kota yang didalamnya terdapat dua ratus orang mukmin?"
Mereka menjawab, "Tidak." Ibrahim berkata, "Apakah kalian akan
menghancurkan suatu kota yang di dalamnya terdapat empat puluh orang
mukmin?" Mereka menjawab, "Tidak." Ibrahim berkata, "Tiga
puluh orang mukmin?" Mereka menjawab, "Tidak," hingga sampai
menyebut lima orang mukmin, dan mereka menjawab, "Tidak." Ibrahim
bertanya, "Bagaimanakah pendapat kalian jika di dalamnya terdapat seorang
lelaki muslim, apakah kalian akan menghancurkan merekajuga?" Mereka
menjawab, "Tidak." Maka pada saat itu juga Ibrahim berkata, seperti
yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ
أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ}
"Sesungguhnya
di kota itu ada Lut.” Para malaikat berkata,
"Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh
akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya.”
(Al-'Ankabut: 32), hingga akhir ayat.
Maka
Ibrahim diam —tidak membantah mereka— dan hatinya tenang.
Qatadah
dan lain-lainnya telah mengatakan hal yang semisal dengan pendapat di atas.
Ibnu
Ishaq menambahkan, "Bagaimanakah pendapat kalian jika di dalam kota itu
terdapat seorang yang mukmin?" Mereka menjawab, "Tidak". Ibrahim
berkata, "Jika di dalam kota itu terdapat Lut, berarti dia dapat menolak
azab dari mereka." Para malaikat itu berkata: Kami lebih mengetahui
siapa yang ada di kota itu. (Al-'Ankabut: 32), hingga akhir ayat.
*******************
Adapun
firman Allah Swt.:
{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ
مُنِيبٌ}
Sesungguhnya
Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali
kepada Allah. (Hud: 75)
Ayat
ini memuji Nabi Ibrahim karena sifat-sifat baik yang dimilikinya. Tafsir
mengenainya telah disebutkan jauh sebelum ini.
Firman
Allah Swt.:
يَا
إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ
Hai
Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan
Tuhanmu. (Hud: 76), hingga akhir ayat.
Yakni
sesungguhnya ketetapan Allah telah dilangsungkan terhadap mereka, ketentuan
perintah Tuhan telah berhak mereka terima untuk kebinasaan mereka, dan azab-Nya
yang tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa.
Hud ayat 77-79
{وَلَمَّا جَاءَتْ
رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ
عَصِيبٌ (77) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا
يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ
لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ
رَشِيدٌ (78) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ
وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ (79) }
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Lut, dia merasa
susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata,
"Ini adalah hari yang amat sulit.” Dan datanglah kepadanya kaumnya
dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan
perbuatan-perbuatan yang keji. Lut berkata, "Hai kaumku, inilah
putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. Maka bertakwalah kepada Allah,
dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini.
Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?” Mereka menjawab,
"Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan
terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang
sebenarnya kami kehendaki.”
Allah
Swt. menceritakan kisah datangnya utusan-utusan Allah yang terdiri atas
kalangan para malaikat sesudah mereka memberitahu Nabi Ibrahim bahwa mereka
akan membinasakan kaum Lut pada malam itu juga atas perintah dari Allah Swt.
Mereka
berangkat dari rumah Nabi Ibrahim dan datang kepada Nabi Lut a.s. yang saat itu
menurut suatu pendapat sedang berada di suatu tempat miliknya, sedangkan
menurut pendapat lainnya sedang berada di rumahnya. Mereka datang kepada Lut
dalam rupa yang sangat tampan sebagai ujian dari Allah buat mereka, hanya
Allah-lah yang mengetahui hikmah dan alasan hal tersebut.
Keadaan
mereka yang tampan-tampan itu membuat Lut kerepotan dan merasa sempit dadanya,
serta dia merasa khawatir bila dia tidak menerima mereka sebagai tamu, pasti
akan ada seseorang dari kaumnya yang mau menerima mereka sebagai tamunya, lalu
ia akan berbuat buruk terhadap mereka.
{وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ}
dan
Lut berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit.” (Hud: 77)
Ibnu
Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan, yang dimaksud
dengan 'asib ialah ujian yang sangat berat. Demikian itu karena Lut
mengetahui bahwa dia pasti harus membela mereka dari ulah kaumnya, dan tentu
saja hal itu terasa amat berat baginya.
Qatadah
mengatakan bahwa mereka (para malaikat) itu datang kepada Lut yang saat itu
sedang berada di suatu tempat miliknya, lalu mereka bertamu kepadanya, tetapi
Lut merasa malu kepada mereka. Lalu ia berjalan di hadapan mereka dan berkata
kepada mereka di tengah jalan seperti orang yang berpaling dari mereka agar
mereka pergi darinya, "Demi Allah, hai kalian, aku belum pernah mengetahui
di muka bumi ini suatu penduduk kota yang lebih kotor dan lebih jahat daripada
mereka." Lalu Lut meneruskan jalannya dan kembali mengulangi perkataannya
kepada mereka, hingga ia mengulanginya sebanyak empat kali.
Qatadah
mengatakan bahwa mereka (para malaikat) itu diperintahkan agar jangan
membinasakan kaum Lut sebelum dipersaksikan oleh Nabi mereka akan kejahatan
kaumnya.
As-Saddi
mengatakan bahwa para malaikat keluar dari rumah Ibrahim menuju ke kota kaum
Lut. Mereka baru sampai di Sungai Sodom pada tengah harinya, dan mereka bersua
dengan putri Nabi Lut yang saat itu sedang memberi minum ternak gembalaannya.
Maka mereka bertanya, "Hai gadis, apakah ayahmu ada rumah?" Putri
Nabi Lut menjawab, "Tetaplah kalian di tempat, nanti aku akan datang lagi
kepada kalian." Putri Nabi Lut sengaja memisahkan (menjauhkan) mereka dari
kaumnya, lalu ia datang kepada ayahnya dan berkata, "Hai ayah, susullah
beberapa pemuda yang ada di pintu gerbang kota, aku belum pernah melihat wajah
kaum yang setampan mereka, agar mereka tidak diculik oleh kaummu."
Sebelum
itu kaum Nabi Lut melarang Nabi Lut menerima lelaki sebagai tamunya, tetapi
akhirnya Lut berkata, "Biarlah, aku akan tetap menerima mereka sebagai
tamuku." Lut datang menemui mereka dan tidak memberi tahu seorang pun
tentang kedatangan mereka kecuali hanya keluarganya.
Tetapi
istri Nabi Lut keluar dan memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan para
tamu itu. Maka mereka bergegas datang menuju rumah Nabi Lut.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ}
dengan
bergegas-gegas kepadanya. (Hud: 78)
Artinya,
mereka datang dengan berlari-lari kecil karena gembira mendengar berita
tersebut.
Firman
Allah Swt.:
{وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ
السَّيِّئَاتِ}
Dan
sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. (Hud: 78)
Yakni
hal tersebut telah menjadi tradisi dan kebiasaan mereka, sehingga pada akhirnya
mereka diazab dalam keadaan seperti itu.
Firman
Allah Swt.:
{قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ
أَطْهَرُ لَكُمْ}
Lut
berkata, "Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi
kalian.' (Hud: 78)
Nabi
Lut memberikan petunjuk mereka kepada kaum wanitanya, karena sesungguhnya
kedudukan seorang nabi kepada umatnya sama dengan orang tua kepada anaknya.
Nabi Lut memberikan petunjuk mereka kepada hal yang lebih bermanfaat bagi
mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat, seperti yang disebutkan dalam ayat
lain melalui firman-Nya:
{أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ
الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ
أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ}
Mengapa
kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kalian tinggalkan
istri-istri yang dijadikan oleh Tuhan kalian untuk kalian, bahkan kalian adalah
orang-orang yang melampaui batas. (Asy-Syu'ara:
165-166)
{قَالُوا
أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ}
Mereka
berkata, "Dan bukankah kami telah melarang kalian dari (melindungi) manusia?” (Al-Hijr: 70)
Dengan
kata lain, kaum Lut berkata kepada Lut, "Bukankah kami telah melarangmu
menerima laki-laki sebagai tamumu?"
{قَالَ هَؤُلاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ
فَاعِلِينَ. لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ}
Lut
berkata, "Inilah putri-putriku (kawinlah
dengan mereka) jika kalian hendak berbuat (secara yang halal)."
(Allah berfirman), "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka
terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." (Al-Hijr: 71-72)
Dalam
ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ}
Inilah
putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. (Hud: 78)
Mujahid
mengatakan bahwa mereka bukan putri-putrinya, melainkan kaum wanita dari
kalangan umatnya, karena sesungguhnya setiap nabi adalah bapak umatnya. Hal
yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya
seorang.
Ibnu
Juraij mengatakan bahwa Lut menganjurkan mereka agar mengawini kaum wanitanya
bukan sebagai tawaran secara sifah (yakni untuk berbuat zina dengan
mereka).
Said
ibnu Jubair mengatakan, yang dimaksud dengan anak-anak perempuan dalam ayat ini
ialah kaum wanita dari kalangan umatnya, dan Nabi Lut selaku nabi mereka adalah
sebagai ayahnya. Dalam suatu qiraat disebutkan dengan bacaan berikut mengenai
firman-Nya:
النَّبِيُّ أَوْلَى
بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ )وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ(
Nabi
haruslah lebih diutamakan oleh orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri,
dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka, (sedangkan
Nabi sendiri adalah bapak mereka). (Al-Ahzab: 6)
Hal
yang sama telah diriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, As-Saddi,
Muhammad ibnu Ishaq, dan lain-lainnya.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِ فِي
ضَيْفِي}
maka
bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. (Hud: 78)
Maksudnya,
terimalah apa yang aku perintahkan kepada kalian, yaitu hanya mengawini kaum
wanita saja.
{أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ}
Tidak
adakah di antara kalian seorang yang berakal? (Hud: 78)
Yakni
seorang lelaki yang baik, yang mau menerima apa yang aku perintahkan dan
meninggalkan apa yang aku larang.
{قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي
بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ}
Mereka
menjawab, "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai
keinginan terhadap putri-putrimu.” (Hud:
79)
Artinya,
sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai selera dan
keinginan terhadap kaum wanita kami.
{وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ}
dan
sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki. (Hud: 79)
Dengan
kata lain, kami tidak mempunyai keinginan kecuali terhadap kaum lelaki, dan
kamu mengetahui hal tersebut, maka tiada gunanya engkau mengulangi ucapan itu
kepada kami.
As-Saddi
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan sesungguhnya kamu tentu
mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki (Hud: 79) Sesungguhnya yang
kami kehendaki hanyalah kaum laki-laki (bukan wanita).
Hud, ayat 80-81
{قَالَ لَوْ أَنَّ لِي
بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ (80) قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا
رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ
اللَّيْلِ وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا
مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ (81)
}
Lut berkata,
"Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak kalian) atau
kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku
lakukan)." Para utusan (malaikat) berkata, "Hai Lut,
sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan
dapat mengganggu kamu. Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan
pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah ada seorang pun di antara
kamu yang tertinggal kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang
menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di
waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”
Allah
Swt. berfirman menceritakan perihal Nabi Lut a.s., bahwa sesungguhnya Lut
mengancam mereka melalui ucapannya yang disitir oleh firman Allah Swt.:
لَوْ
أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً
Seandainya
aku mempunyai kekuatan untuk menolak kalian. (Hud:
80), hingga akhir ayat.
Yakni
niscaya aku akan menghajar kalian dan melakukan berbagai macam upaya untuk
mencegah kalian dengan diriku sendiri dan keluargaku.
Karena
itulah di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Amr
ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"رَحْمَةُ اللَّهِ
عَلَى لُوطٍ، لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ -يَعْنِي: اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ -فَمَا بَعَثَ اللَّهُ بَعْدَهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا فِي ثَرْوَةٍ مِنْ
قَوْمِهِ"
Rahmat
Allah terlimpahkan kepada Lut, sesungguhnya dia telah berlindung di bawah
naungan pilar yang kuat, yakni Allah Swt. Maka tidak sekali-kali Allah mengutus
seorang nabi sesudahnya, melainkan berasal dari kalangan terhormat kaumnya.
Maka
pada saat itu juga para malaikat utusan Allah menceritakan kepada Lut tentang
hakikat jati diri mereka, bahwa mereka adalah utusan Allah yang ditujukan
kepadanya dan mereka tidak akan mempunyai kekuatan untuk menimpakan mudarat
kepadanya.
{قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ
لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ}
Para
utusan (malaikat) berkata, "Hai
Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak
akan dapat mengganggu kamu.” (Hud: 81)
Para
malaikat itu pun memerintahkan Lut agar pergi meninggalkan kota itu bersama
keluarganya di akhir malam, dan hendaknya Lut berjalan di belakang keluarganya,
yakni menggiring mereka.
{وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ}
dan
janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh ke belakang. (Hud: 81)
Yakni
apabila kamu mendengar suara azab yang menimpa kaummu, janganlah kamu terkejut
dan takut dengan suara yang menggetarkan itu; tetapi tetaplah berjalan terus,
jangan hiraukan mereka.
{إِلا امْرَأَتَكَ}
kecuali
istrimu. (Hud: 81)
Kebanyakan
ulama tafsir menilai istisna ini dari kalimat yang musbat, yakni
kalimat yang dikecualikannya adalah kalimat positif, yaitu firman-Nya:
{فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ}
Sebab
itu pergilah dengan membawa keluargamu. (Hud:
81)
Dengan
kata lain, pergilah dengan membawa keluargamu dan pengikut-pengikutmu kecuali
istrimu. Hal yang sama disebutkan menurut qiraat Ibnu Mas'ud. Mereka
me-nasab-kan lafaz imra-ah. karena —menurut mereka— istisna dari
kalimat yang musbat itu hukumnya wajib di-nasab-kan.
Ulama
qiraat lainnya dan ulama nahwu mengatakan bahwa istisna ini berasal dari
firman-Nya:
{وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلا
امْرَأَتَكَ}
dan
janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh kecuali istrimu. (Hud: 81)
Karena
itulah mereka memperbolehkan bacaan rafa dan nasab. Mereka
menyebutkan pula bahwa istri Nabi Lut berangkat bersama rombongan Nabi Lut.
Tetapi ketika mendengar suara gemuruh, istri Nabi Lut menoleh ke belakang. Maka
ia menjerit seraya berkata, "Aduhai kaumku!" Lalu datanglah sebuah
batu besar dari langit menimpanya, sehingga matilah ia.
Kemudian
para utusan itu mempercepat kebinasaan kaumnya, sebagai berita gembira
untuknya, karena ia berkata kepada mereka, "Binasakanlah mereka saat
sekarang juga." Maka mereka (para utusan) itu berkata, seperti yang
disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ
الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ}
karena
sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah
subuh itu sudah dekat? (Hud: 81)
Saat
itu juga kaum Lut berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu. Mereka datang ke
rumah Nabi Lut dengan bergegas-gegas dari semua penjuru, sedangkan Nabi Lut
berdiri di depan pintu, menolak mereka dan melarang serta mengusir mereka agar
tidak melakukan kebiasaannya terhadap tamu-tamunya itu. Tetapi sebaliknya kaum
Lut tidak mau menerima perlakuan itu, bahkan mereka mengancam dan menekannya.
Maka pada saat itu . Jibril keluar menghadapi mereka dan memukul wajah mereka
dengan sayapnya, sehingga wajah mereka penuh dengan debu, lalu mereka pergi
tanpa mengetahui jalan yang ditempuhnya. Hal ini diterangkan oleh Allah Swt.
melalui firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
وَلَقَدْ
رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ
Dan
sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar
menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka,
maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al-Qamar: 37)
Ma'mar
telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Huzaifah ibnul Yaman yang mengatakan
bahwa Ibrahim a.s. sering datang kepada kaum Lut dan mengatakan kepada mereka,
"Allah telah melarang kalian melakukan perbuatan yang menyebabkan kalian
akan tertimpa siksa dan azab-Nya." Tetapi mereka tidak menaatinya. Ketika
ketetapan Allah telah tiba, maka para malaikat datang kepada Nabi Lut yang saat
itu sedang bekerja di lahan miliknya, lalu Lut mengundang mereka untuk bertamu
kepadanya. Maka mereka menjawab, "Kami akan menjadi tamu-tamumu malam
ini." Allah telah memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bahwa janganlah ia
mengazab mereka sebelum Lut mempersaksikan mereka sebanyak empat kali
persaksian. Ketika Lut berangkat bersama mereka ke rumahnya untuk menerima
mereka sebagai tamunya, maka Lut menceritakan kejahatan yang dilakukan oleh
kaumnya. Lut berjalan sesaat dengan mereka, lalu ia menoleh kepada mereka dan
berkata, "Tidakkah kalian mengetahui apa yang dilakukan oleh penduduk kota
ini? Aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini manusia yang lebih jahat
daripada mereka. Ke manakah aku akan membawa kalian pergi? Kepada kaumku?
Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk Allah." Jibril menoleh kepada
malaikat lainnya seraya berkata, "Catatlah oleh kalian, ini adalah
persaksian pertama. Kemudian Nabi Lut berjalan sesaat lagi bersama mereka; dan
ketika sampai ditengah kota, Nabi Lut merasa khawatir akan keselamatan mereka
dan merasa malu kepada mereka. Lalu ia berkata, "Tidakkah kalian ketahui
apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini? Aku belum pernah mengetahui
ada manusia yang lebih jahat daripada mereka di muka bumi ini. Sesungguhnya
kaumku adalah manusia yang paling jahat." Jibril menoleh kepada malaikat
lainnya dan berkata, "Catatlah oleh kalian kedua persaksian ini."
Ketika Lut sampai di depan pintu rumahnya, ia menangis karena malu kepada mereka
dan sekaligus merasa khawatir akan keselamatan mereka. Lalu ia berkata,
"Sesungguhnya kaumku adalah makhluk yang paling jahat. Tidakkah kalian
tahu apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini. Aku belum pernah
mengetahui suatu penduduk kota pun di muka bumi ini yang lebih jahat daripada
mereka." Maka Jibril berkata, "Catatlah oleh kalian ketiga persaksian
ini, kini azab pasti diturunkan." Setelah mereka masuk ke dalam rumah,
ternyata istri Nabi Lut yang sudah berusia lanjut lagi berhati buruk itu pergi
dan naik ke atas rumah, ia mengibarkan pakaiannya sebagai isyarat yang
ditujukan kepada kaumnya. Maka orang-orang fasik berlomba-lomba datang dengan
cepat menuju ke arahnya, lalu bertanya, "Apakah yang telah terjadi
denganmu?" Istri Lut berkata, "Lut telah menerima suatu kaum sebagai
tamunya, aku belum pernah melihat wajah yang setampan mereka dan belum pernah
mencium bau yang sewangi bau mereka." Maka mereka bersegera menuju pintu
rumah Nabi Lut, lalu Nabi Lut menutup pintu rumahnya dan menahan mereka dari
dalam, sedangkan mereka mendorong pintu dari luar. Dalam keadaan demikian Nabi
Lut mengingatkan mereka kepada Allah seraya berkata, seperti yang disitir oleh
firman-Nya: Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian. (Hud:
78) Maka Malaikat Jibril bangkit dan menyumbat pintu itu, lalu ia meminta izin
kepada Tuhannya untuk menyiksa mereka, maka Allah mengizinkannya. Lalu Jibril
bangkit dan berubah ujud seperti aslinya di langit, kemudian membeberkan kedua
sayapnya. Jibril mempunyai dua buah sayap, dan pada sayapnya terdapat kain
selendang yang terbuat dari mutiara yang dianyam. Malaikat Jibril mempunyai
gigi seri yang berkilauan, keningnya lebar lagi bercahaya sedangkan (rambut)
kepalanya ikal bergelombang berwarna mutiara yang sangat putih seperti salju,
dan kedua kakinya berwarna kehijau-hijauan. Lalu ia berkata, "Hai Lut, sesungguhnya
kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat
mengganggu kamu.” (Hud: 81) Pergilah kamu, hai Lut, menjauhlah dari pintu
itu dan biarkanlah aku menghadapi mereka. Maka Lut menjauh dari pintu, lalu
Malaikat Jibril keluar menghadapi mereka dan merentangkan sayapnya; ia pukul
wajah mereka dengan sayapnya dengan pukulan yang membuat mata mereka tidak
dapat melihat, sehingga mereka menjadi buta, tidak dapat melihat jalan.
Kemudian Lut diperintahkan untuk pergi bersama keluarganya pada malam itu juga:
Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di
akhir malam. (Hud: 81)
Telah
diriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b, Qatadah, dan As-Saddi hal yang semisal
dengan keterangan di atas.
Hud, ayat 82-83
{فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا
جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ
مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
(83) }
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu
yang di atas ke bawah (Kami
balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar
dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan negeri itu tiadalah
jauh dari orang-orang yang zalim.
Firman
Allah Swt.:
{فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا}
Maka
tatkala datang azab Kami. (Hud: 82)
Hal
itu terjadi di saat matahari terbit.
{جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا}
Kami
jadikan negeri kaum Lut yang bagian atasnya ke bawah (Kami balikkan). (Hud: 82)
Yang
dimaksud adalah kota Sodom, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh
firman-Nya:
فَغَشَّاهَا
مَا غَشَّى
lalu
Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. (An-Najm: 54)
Artinya,
Kami hujani kota itu dengan batu dari tanah liat. Lafaz sijjil menurut
bahasa Persia berarti 'batu dari tanah liat', menurut Ibnu Abbas dan
lain-lainnya. Menurut sebagian ulama adalah dari batu dan tanah liat. Di dalam
ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{حِجَارَةً مِنْ طِينٍ}
batu-batu
dari tanah yang (keras). (Adz-Dzariyat: 33)
Yakni
yang telah mengeras jadi batu sehingga kuat. Sebagian ulama mengatakan tanah
liat yang dibakar. Imam Bukhari mengatakan bahwa sijjil artinya yang
kuat lagi besar. Sijjil dan sijjin mempunyai makna yang sama.
Tamim ibnu Muqbil mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
وَرَجْلَةٍ يَضْربُون
البَيْضَ ضَاحِيةٌ ... ضَرْبًا تواصَت بِهِ الْأَبْطَالُ سِجّينا
Dan mereka memukulkan pelana untanya ke
pedang yang dibawanya dengan pukulan yang membuat pedang itu menjadi keras dan
kuat serta pantas dipakai oleh para pendekar.
Firman
Allah Swt.:
{مَنْضُودٍ}
dengan
bertubi-tubi. (Hud: 82)
Sebagian
ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang dibakar di langit, yakni
yang disediakan khusus untuk itu. Ulama lainnya mengatakan, makna mandud ialah
yang diturunkan secara bertubi-tubi kepada mereka.
Firman
Allah Swt.:
{مُسَوَّمَةً}
yang
diberi tanda. (Hud: 83)
Maksudnya,
pada tiap-tiap batu itu diberi tanda cap nama-nama pemiliknya. Dengan kata
lain, setiap batu tertuliskan nama orang yang akan ditimpa olehnya.
Qatadah
dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: yang diberi tanda. (Hud:
83) yang dilumuri dengan cairan racun berwarna merah. Menurut suatu riwayat,
batu-batu itu diturunkan kepada penduduk kota tersebut, juga kepada penduduk
kota itu yang tersebar di berbagai kampung yang ada di sekitarnya. Ketika salah
seorang penduduk kota itu sedang berbicara dengan orang-orang banyak, tiba-tiba
datanglah batu dari langit menimpanya, maka ia pun roboh dan binasa di hadapan
orang banyak. Batu-batu tersebut mengejar mereka di seluruh negeri, lalu
membinasakannya hingga ke akar-akarnya tanpa ada seorang pun yang tersisa.
Mujahid
mengatakan bahwa Jibril mengambil kaum Lut dari tempat-tempat penggembalaan
ternak dan rumah-rumah mereka, lalu mengangkat mereka bersama ternak dan harta
benda mereka. Jibril mengangkat mereka ke atas langit, sehingga penduduk langit
dapat mendengar lolongan anjing mereka, kemudian mereka dijungkirkan ke tanah.
Jibril mengangkat mereka dengan sayap kanannya, dan tatkala Jibril
menjungkirkannya ke bumi, maka bagian yang mula-mula terjatuh adalah bagian
halaman (pinggiran) kota itu.
Qatadah
mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa Jibril mengambil pilar tengah kota
tersebut, lalu menerbangkannya ke langit sehingga penduduk langit dapat
mendengar lolongan anjing mereka, setelah itu Jibril menghancurkan sebagian darinya
dengan sebagian yang lain. Kemudian sisa-sisa penduduk kota itu dikejar dengan
batu-batu besar yang dijatuhkan dari langit.
Diceritakan
pula kepada kami bahwa mereka mendiami empat kota, pada tiap-tiap kota terdapat
seratus ribu penduduk. Menurut riwayat lain adalah tiga kota besar, antara lain
kota Sodom.
Qatadah
mengatakan, telah sampai suatu riwayat kepada kami bahwa Ibrahim a.s.
menyaksikan penghancuran kota Sodom itu dan ia mengatakan, "Hai penduduk
Sodom, ini adalah hari kehancuran kalian!"
Menurut
riwayat yang lain —dari Qatadah dan lain-lainnya—telah sampai kepada kami suatu
kisah yang mengatakan bahwa ketika Jibril a.s. berada di pagi hari itu, ia
membeberkan sayapnya. Maka beterbanganlah karenanya tanah mereka berikut
isinya yang terdiri atas gedung-gedung-nya, semua hewan ternaknya, batu-batuan,
dan pepohonannya. Lalu Jibril a.s. menggenggamnya dengan sayapnya dan
mengepitnya di dalam sayapnya. Lalu ia terbang ke langit pertama sehingga
penduduk langit mendengar suara manusia dan lolongan anjingnya; jumlah penduduk
kota itu adalah empat juta jiwa. Kemudian Jibril a.s. membalikkannya dan
menjatuhkannya ke tanah dalam keadaan terjungkir, lalu ia menghancurkan
sebagiannya dengan sebagian yang lain. Bagian atas kota itu dibalikkan ke
bawah, lalu diiringi dengan hujan batu dari tanah yang terbakar.
Muhammad
ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa kota-kota kaum Lut ada lima buah, yaitu:
Sodom yang merupakan kota terbesar, lalu Sa'bah, Su'ud, Gomorah, dan Dauha.
Jibril mengangkatnya dengan sayapnya dan membawanya ke langit, sehingga
penduduk langit benar-benar dapat mendengar lolongan anjing serta kokokan ayam
mereka, lalu membalikkannya ke bumi dalam keadaan terjungkir, setelah itu Allah
mengiringinya dengan hujan batu.
Allah
Swt. telah berfirman:
{جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ}
Kami
jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari
tanah yang terbakar. (Hud: 82)
Allah
membinasakan kota itu, dan semua kota yang ada di sekitarnya dimusnahkan.
As-Saddi
mengatakan balivva Malaikat Jibril turun kepada kaum Lut pada pagi harinya,
lalu Jibril mencabut bumi kota itu dari bumi lapis yang ketujuh. Kemudian ia
mengangkatnya ke langit, sehingga penduduk langit pertama dapat mendengar
lolongan anjing dan suara kokok ayam milik mereka, lalu Jibril membalikkannya
dan membinasakan mereka. Yang demikian itu disebutkan di dalam firman-Nya:
{وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى}
dan
negeri-negeri kaum Lut yang telah dihancurkan Allah (An- Najm: 53)
Dan
siapa di antara mereka yang masih belum mati sesudah negeri mereka dijatuhkan
ke bumi, maka Allah menghujaninya dengan batu-batuan sehingga matilah ia.
Barang siapa di antara mereka melarikan diri ke negeri lain, maka batu-batuan
itu mengejarnya ke tempat ia berada. Tersebutlah seseorang yang sedang asyik
berbicara, maka dengan tiba-tiba batu itu menimpanya dan membunuhnya. Yang
demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ}
dan
Kami hujani mereka. (Hud: 82)
Yakni
di kota-kota itu dengan batu dari tanah yang terbakar. Demikianlah menurut
riwayat As-Saddi.
*******************
Firman
Allah Swt.
{وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ}
dan
negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Hud: 83)
Artinya,
azab dan pembalasan Allah itu tidaklah jauh dari orang-orang yang serupa dengan
mereka dalam kezalimannya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam
kitab-kitab Sunan —dari Ibnu Abbas secara marfu— disebutkan:
" مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعَمَلُ عَمَلَ
قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ"
Barang
siapa yang kalian jumpai sedang mengerjakan perbuatan kaum Lut, maka bunuhlah
pelaku dan orang yang dikerjainya.
Imam
Syafi’i —menurut suatu pendapat yang bersumber darinya— dan sejumlah ulama
mengatakan bahwa orang yang melakukan perbuatan kaum Lut harus dibunuh, baik
dia telah muhsan ataupun belum muhsan, karena berdasarkan hadis
di atas.
Lain
halnya dengan Imam Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa si pelaku dijatuhkan dari
tempat yang tinggi (dari ketinggian), kemudian diiringi dengan lemparan batu,
seperti yang dilakukan oleh Allah Swt. terhadap kaum Lut.
Hud, ayat 84
{وَإِلَى مَدْيَنَ
أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ
وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ (84) }
Dan kepada (penduduk)
Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib. Ia berkata, "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagi kalian selain Dia. Dan
janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kalian
dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap
kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."
Allah
Swt. menyebutkan, "Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada penduduk kota
Madyan yang penghuninya terdiri atas suatu kabilah dari kalangan bangsa Arab.
Mereka tinggal di kawasan antara Hijaz dan Syam, dekat dengan Ma'an, suatu kota
yang dikenal dengan nama mereka; kota tersebut dijuluki dengan sebutan kota
Madyan."
Allah
mengutus Nabi Syu'aib kepada mereka. Nabi Syu'aib berasal dari keturunan orang
yang terhormat di kalangan mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{أَخَاهُمْ شُعَيْبًا}
saudara
mereka Syu’aib. (Hud: 84)
Nabi
Syu'aib memerintahkan mereka untuk menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu
bagi-Nya. Nabi Syu'aib pun melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan
mereka.
{إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ }
sesungguhnya
aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu).
(Hud: 84)
Yakni
penghidupan dan rezeki kalian dalam keadaan baik-baik saja, dan sesungguhnya
aku takut bila kenikmatan yang ada pada kalian itu dicabut dari kalian karena
kalian mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt.
{وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ
مُحِيطٍ}
dan
sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat). (Hud: 84)
Maksudnya,
di hari akhirat nanti.
Hud, ayat 85-86
{وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا
الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ (85) بَقِيَّةُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ (86) }
Dan (Syu'aib) berkata.”Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan
timbangan dengan adil, dan janganlah kalian merugikan manusia terhadap hak-hak
mereka dan janganlah kalian membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat
kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kalian
jika kalian orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas
diri kalian.”
Pada
mulanya Nabi Syu'aib melarang mereka melakukan perbuatan mengurangi takaran dan
timbangan bila mereka memberikan hak orang lain. Kemudian Nabi Syu'aib
memerintahkan mereka agar mencukupkan takaran dan timbangan secara adil, baik
di saat mereka mengambil ataupun memberi. Nabi Syu'aib juga melarang mereka
bersikap angkara murka di muka bumi dengan menimbulkan kerusakan. Mereka gemar
merampok orang-orang yang melewati tempat tinggal mereka dan membegalnya.
Firman
Allah Swt.:
{بَقِيَّةُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ}
Sisa
(keuntungan) dari Allah adalah
lebih baik bagi kalian. (Hud: 86)
Ibnu
Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah 'rezeki Allah adalah lebih baik
bagi kalian'. Menurut Al-Hasan, rezeki Allah lebih baik bagi kalian daripada
kalian mengurangi takaran dan timbangan terhadap orang lain. Menurut Ar-Rabi'
ibnu Anas, perintah Allah lebih baik bagi kalian.
Menurut
Mujahid, taat kepada Allah adalah lebih baik bagi kalian. Menurut Qatadah,
bagian kalian dari Allah adalah lebih baik bagi kalian. Abdur Rahman ibnu Zaid
ibnu Aslam mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah 'kebinasaan karena
mendapat azab, dan kelestarian karena mendapat rahmat'.
Abu
Ja'far ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sisa (keuntungan)
dari Allah adalah lebih baik bagi kalian. (Hud: 86) Maksudnya,
keuntungan yang kalian peroleh setelah kalian memenuhi takaran dan timbangan
secara semestinya adalah lebih baik bagi kalian daripada mengambil harta orang
lain. Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini telah diriwayatkan dari
Ibnu Abbas.
Menurut
kami, ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:
{قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ}
Katakanlah,
"Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk
itu menarik hatimu.” (Al-Maidah: 100), hingga akhir ayat.
Adapun
firman Allah Swt.:
{وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ}
Dan
aku bukanlah seorang penjaga atas diri kalian. (Hud: 86)
Yakni
bukanlah sebagai pengawas, bukan pula sebagai penjaga. Dengan kata lain,
kerjakanlah hal tersebut karena Allah Swt. Janganlah kalian melakukannya agar
dilihat oleh orang lain, tetapi ikhlaslah karena Allah Swt.
Hud, ayat 87
{قَالُوا يَا شُعَيْبُ
أَصَلاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ
فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لأنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ (87) }
Mereka berkata, "Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruhmu
agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang
kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu
adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal."
Mereka
menjawab Syu'aib dengan nada memperolok-olok, semoga Allah melaknat mereka.
{أَصَلاتُكَ}
Apakah
sembahyangmu. (Hud: 87)
Menurut
Al-A'masy, makna yang dimaksud ialah apakah kitab bacaanmu.
{تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ
آبَاؤُنَا}
menyuruh
kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami. (Hud: 87)
Yakni
berhala-berhala dan patung-patung.
{أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا
نَشَاءُ}
atau
melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. (Hud: 87)
Lalu
kami tidak lagi melakukan kecurangan dalam takaran hanya karena ucapanmu. Yang
dimaksud adalah harta kami, kami berbuat menurut apa yang kami kehendaki.
Al-Hasan
mengatakan sehubungan dengan firman-Nya : Apakah sembahyangmu menyuruhmu
agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? (Hud: 87)
Yakni demi Allah, sesungguhnya salat Syu'aib benar-benar memerintahkan kepada
mereka agar meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang mereka.
As-Sauri
mengatakan sehubungan firman-Nya: atau melarang kami memperbuat apa yang
kami kehendaki tentang harta kami. (Hud: 87) Yang-mereka maksudkan ialah zakat.
{إِنَّكَ لأنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ}
Sesungguhnya
kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal (Hud: 87)
Ibnu
Abbas, Maimun ibnu Mahran, Ibnu Juraij, Aslam, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa
mereka mengucapkan kalimat tersebut kepada Nabi Syu'aib dengan nada
memperolok-olok. Mereka adalah musuh Allah, semoga Allah melaknat mereka, dan
memang laknat Allah menimpa mereka.
Hud, ayat 88
{قَالَ يَا قَوْمِ
أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا
حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ
أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ
تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (88) }
Syuaib berkata,
"Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata
dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik (patutkah
aku menyalahi perintahNya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan
mengerjakan) apa yang aku larang kalian darinya. 'Aku tidak bermaksud
kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan
tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya
kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.
Nabi
Syu'aib berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, bagaimanakah pendapat kalian:
{إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي}
jika
aku mempunyai bukti dari Tuhanku. (Hud:
88)
Yakni
jika aku berada dalam pengetahuan yang meyakinkan tentang hal yang aku serukan
(kepada kalian):
{وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا}
dan
dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik. (Hud: 88)
Menurut
suatu pendapat, yang dimaksud dengan rezeki dalam ayat ini ialah kenabian.
Menurut pendapat lainnya adalah rezeki yang halal; ke dua-duanya dapat dipakai.
As-Sauri
mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan aku tidak berkehendak menyalahi
kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang kalian darinya. (Hud:
88) Artinya, aku tidak melarang kalian melakukan sesuatu, lalu aku sendiri
melakukannya bila tidak kelihatan oleh kalian.
Hal
yang sama telah di katakan oleh Qatadah sehubungan dengan takwil firman-Nya
berikut ini: Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan)
apa yang aku larang kalian darinya. (Hud: 88) Maksudnya, tidaklah aku
larang kalian dari suatu perkara, lalu aku sendiri mengerjakannya:
{إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا
اسْتَطَعْتُ}
Aku
tidak bermaksud kecuali (mendatangkan)
perbaikan selama aku masih berkesanggupan. (Hud: 88)
Yakni
dalam amar ma'ruf dan nahi munkar-ku kepada kalian. Sesungguhnya
aku hanya bermaksud memperbaiki keadaan kalian semampuku dengan mengerahkan
segala kekuatan yang ada padaku.
{وَمَا تَوْفِيقِي}
Dan
tidak ada taufik bagiku. (Hud: 88)
Yaitu
dalam memperoleh kebenaran yang aku maksudkan.
{إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ}
melainkan
dengan (pertolongan) Allah. Hanya
kepada-Nya aku bertawakal. (Hud: 88)
dalam
semua urusanku.
{وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}
dan
hanya kepada-Nyalah aku kembali. (Hud:
88)
Yakni
aku akan dikembalikan.
Demikianlah
menurut tafsir yang dikemukakan oleh Mujahid.
قَالَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا
أَبُو قَزْعَةَ سُوَيد بْنُ حُجَير الْبَاهِلِيُّ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ،
عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ أَخَاهُ مَالِكًا قَالَ: يَا مُعَاوِيَةُ، إِنْ مُحَمَّدًا
أَخَذَ جِيرَانِي، فانطَلق إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَدْ كَلَّمَكَ وَعَرَفَكَ،
فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَقَالَ: دَعْ لِي جِيرَانِي، فَقَدْ كَانُوا أَسْلَمُوا.
فَأَعْرَضَ عَنْهُ. [فَقَامَ مُتَمَعطًا] فَقَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَئِنْ فَعلتَ
إِنَّ النَّاسَ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ تَأْمُرُ بِالْأَمْرِ وَتُخَالِفُ إِلَى
غَيْرِهِ. وَجَعَلْتُ أَجُرُّهُ وَهُوَ يَتَكَلَّمُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَا تَقُولُ؟ " فَقَالَ: إِنَّكَ
وَاللَّهِ لَئِنْ فَعَلْتَ ذَلِكَ. إِنَّ النَّاسَ لَيَزْعُمُونَ أَنَّكَ لَتَأْمُرُ
بالأمر وتخالف إلى غيره. قال: فقال: "أوَ قد قالوها -أو قائلهم -وَلَئِنْ
فَعَلْتُ ذَلِكَ مَا ذَاكَ إِلَّا عَلَيَّ، وَمَا عَلَيْهِمْ مِنْ ذَلِكَ مِنْ
شَيْءٍ، أَرْسِلُوا لَهُ جِيرَانَهُ
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan
kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abu Quza'ah
(yakni Suwaid ibnu Hujair Al-Bahili), dari Hakim ibnu Mu'awiyah, dari ayahnya,
bahwa saudaranya yang bernama Malik berkata, "Hai Mu'awiyah, sesungguhnya
Muhammad telah menahan tetangga-tetanggaku. Maka berangkatlah engkau kepadanya
karena sesungguhnya dia pernah berbicara denganmu dan dia mengenalmu."
Maka aku (Malik) berangkat bersamanya (Mu'awiyah), lalu Mu'awiyah berkata,
"Lepaskanlah tetangga-tetanggaku demi aku, karena sesungguhnya mereka
telah masuk Islam." Nabi Saw. berpaling dari Mu'awiyah, dan Mu'awiyah
berdiri seraya marah, lalu berkata "Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya
jika engkau melakukan hal itu (tetap menahan mereka), sesungguhnya orang-orang
akan menduga bahwa engkau benar-benar telah memerintahkan sesuatu kepada kami,
tetapi engkau sendiri berbeda dengan melakukan hal lainnya." Lalu aku
(Malik) menariknya (Mu'awiyah) yang masih berbicara. Maka Rasulullah Saw.
bertanya, "Apa yang tadi kamu katakan?" Mu'awiyah berkata,
"Sesungguhnya engkau, demi Allah, seandainya engkau melakukan hal
tersebut, orang-orang pasti akan menduga bahwa engkau telah memerintahkan
kepada suatu hal, lalu engkau sendiri berbeda dengan mengerjakan yang
lainnya." Rasul Saw. bersabda, "Apakah mereka telah mengatakannya?
Sesungguhnya jika aku melakukan hal itu, maka tiada lain akibatnya akan menimpa
diriku dan mereka tidak akan terkena sesuatu akibat pun dari hal tersebut.
Sekarang lepaskanlah tetangga-tetangganya demi dia."
قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَر، عَنْ بَهْز بْنِ
حَكِيمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جده قَالَ: أَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسًا
مِنْ قَوْمِي فِي تُهَمة فَحَبَسَهُمْ، فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِي إِلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقَالَ: يَا
مُحَمَّدُ، عَلَامَ تَحْبِسُ جِيرَتِي؟ فصَمت رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [عَنْهُ] فَقَالَ: إِنَّ نَاسًا لَيَقُولُونَ: إِنَّكَ تَنْهَى
عَنِ الشَّيْءِ وَتَسْتَخْلِي بِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "مَا يَقُولُ؟ " قَالَ: فَجَعَلْتُ أَعْرِضُ بَيْنَهُمَا
الْكَلَامَ مَخَافَةَ أَنْ يَسْمَعَهَا فَيَدْعُو عَلَى قَوْمِي دَعوة لَا
يُفْلِحُونَ بَعْدَهَا أَبَدًا، فَلَمْ يَزَلْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهِ حَتَّى فهمها، فقال: "أو قد قَالُوهَا -أَوْ:
قَائِلُهَا مِنْهُمْ -وَاللَّهِ لَوْ فعلتُ لَكَانَ عَلَيَّ وَمَا كَانَ
عَلَيْهِمْ، خَلُّوا لَهُ عَنْ جِيرَانِهِ"
Imam
Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah
menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Bahz ibnu Hakim, dari ayahnya, dari
kakeknya yang menceritakan bahwa Nabi Saw. menangkap sejumlah orang dari
kalangan kaumku karena suatu tuduhan yang dilancarkan terhadap mereka, lalu
beliau Saw. menahan mereka. Maka datanglah seorang lelaki dari kalangan kaumku
menghadap kepada Rasulullah Saw. yang saat itu sedang berkhotbah. Kemudian
laki-laki itu berkata, "Hai Muhammad, mengapa engkau menahan
tetangga-tetanggaku?" Rasulullah Saw. diam, dan lelaki itu berkata lagi,
"Sesungguhnya sejumlah orang benar-benar ada yang mengatakan bahwa engkau
telah melarang sesuatu dikerjakan, tetapi engkau sendiri mengerjakannya."
Nabi Saw. bersabda, "Apa yang kamu katakan?"Maka aku (lelaki
itu) berpaling dari pembicaraan itu dengan mengatakan pembicaraan lain, karena
takut didengar oleh beliau, yang akhirnya beliau akan mendoakan atas kaumku
suatu doa yang mengakibatkan mereka tidak akan mendapat keberuntungan
selama-lamanya. Rasulullah Saw. terus bertanya sehingga beliau memahaminya,
lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya mereka telah mengatakannya
(atau sebagian dari mereka telah mengatakannya). Demi Allah, seandainya aku
melakukannya, niscaya akibat buruknya akan ditanggung olehku, bukan oleh
mereka. Lepaskanlah tetangga-tetangganya itu!"
Termasuk
ke dalam bab ini ialah hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan
bahwa:
حَدَّثَنَا أَبُو
عَامِرٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ
الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ
قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدٍ وَأَبَا أُسَيْدٍ يَقُولَانِ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا سَمِعْتُمُ الْحَدِيثَ
عَنِّي تَعْرِفُهُ قُلُوبُكُمْ، وَتَلِينُ لَهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ
أَنَّهُ مِنْكُمْ قَرِيبٌ، فَأَنَا أَوْلَاكُمْ بِهِ، وَإِذَا سَمِعْتُمُ
الْحَدِيثَ عَنِّي تُنكره قُلُوبُكُمْ، وَتَنْفُرُ مِنْهُ أَشْعَارُكُمْ
وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ بَعِيدٌ فَأَنَا أَبْعَدُكُمْ
مِنْهُ"
telah
menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu
Bilal, dari Rabi'ah ibnu Abu Abdur Rahman, dari Abdul Malik ibnu Sa'id ibnu
Suwaid Al-Ansari yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Humaid dan Abu
Usaid menceritakan hadis berikut dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Apabila
kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian kenali melalui hati kalian, dan
membuat perasaan serta hati kalian menjadi lembut karenanya, dan kalian
meyakini bahwa hal itu lebih dekat (manfaatnya) kepada kalian, maka aku
adalah orang yang lebih berhak untuk mengerjakannya. Apabila kalian mendengar
suatu hadis dariku yang kalian ingkari melalui hati kalian, dan perasaan serta
hati kalian menolaknya, serta kalian merasa yakin bahwa hal itu lebih jauh (manfaatnya)
dari kalian, maka aku adalah orang yang lebih berhak meninggalkannya.
Sanad
hadis berpredikat sahih. Imam Muslim telah mengetengahkan suatu hadis
dengan sanad yang sama, yang isinya menyebutkan:
"إِذَا دَخَلَ
أَحَدُكُمُ المسجد فليقل: اللهم، افتح لي أبواب رحمتك وإذا خرج فليقل: اللهم، إني
أسألك من فَضْلِكَ"
Apabila
seseorang di antara kalian memasuki masjid, hendaklah ia mengucapkan, "Ya
Allah, bukakanlah bagiku semua pintu rahmat-Mu.” Dan apabila ia keluar dari masjid, hendaklah mengucapkan
doa berikut: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu sebagian dari
kemurahan-Mu.”
Makna
hadis sebelumnya ialah 'manakala sampai kepada kalian suatu kebaikan dariku,
maka aku adalah orang yang paling utama dalam mengerjakannya. Dan manakala
sampai kepada kalian sesuatu yang kalian ingkari, maka aku adalah orang yang
paling berhak dalam meninggalkannya'.
*******************
{وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا
أَنْهَاكُمْ [عَنْهُ] }
Dan
aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan
mengerjakan) apa yang aku larang kalian darinya. (Hud: 88)
Qatadah
telah meriwayatkan dari Urwah, dari Al-Hasan Al-Urni, dari Yahya ibnul Bazzar,
dari Masruq yang menceritakan bahwa seorang wanita datang kepada Ibnu Mas'ud,
lalu bertanya, "Apakah engkau melarang wasilah (menyambung
rambut/memakai wig)?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Ya." Wanita itu
berkata, "Ternyata seseorang dari istri-istrimu melakukannya." Ibnu
Mas'ud menjawab, "Kalau demikian, berarti aku tidak mengamalkan wasiat
seorang hamba yang saleh (Nabi Syu'aib)," yaitu: Dan aku tidak
berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang
kalian darinya. (Hud: 88)
Usman
ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Abu
Sulaiman Ad-Dabbi yang mengatakan bahwa surat-surat dari Umar ibnu Abdul Aziz
sering kami terima yang di dalamnya terkandung perintah dan larangan. Dan pada
setiap akhir suratnya ia selalu menyebutkan bahwa tiada yang dapat saya lakukan
dari hal tersebut melainkan seperti apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang
saleh (Nabi Syu'aib), yaitu:
{وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ
تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}
Dan
tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan)
Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah aku
kembali. (Hud: 88)
Hud, ayat 89-90
{وَيَا قَوْمِ لَا
يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ
قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ (89)
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
(90) }
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kalian) menyebabkan kalian menjadi
jahat hingga kalian ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud
atau kaum Saleh, sedangkan kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari
kalian. Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, kemudian bertobatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Nabi
Syu'aib berkata kepada kaumnya:
{وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي}
Hai
kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kalian) menyebabkan kalian menjadi jahat. (Hud:
89)
Maksudnya,
janganlah sikap antipati dan kebencianku kepada kalian sampai menyebabkan
kalian makin berlanjut dalam mengerjakan kekufuran dan kerusakan yang biasa
kalian lakukan itu, akibatnya kalian akan tertimpa azab seperti yang telah
menimpa kaum Nuh, kaum Hud, kaum Saleh, dan kaum Lut.
Qatadah
telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai kaumku, janganlah
hendaknya pertentangan antara aku (dengan kalian) menyebabkan kalian
menjadi jahat. (Hud: 89) Yakni hendaknya janganlah sikap berbedaku (dengan
kalian) mendorong kalian.
Menurut
As-Saddi, makna yang dimaksudkan yaitu 'pertentangan antara aku dengan kalian
mendorong kalian untuk berkelanjutan dalam kesesatan dan kekufuran, akibatnya
kalian akan tertimpa azab seperti azab yang telah menimpa mereka.
Ibnu
Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Auf Al-Himsi, telah
menceritakan kepada kami Abul Mugirah Abdul Quddus ibnul Hajyaj, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Abu Uyaynah, telah menceritakan kepadaku Abdul Malik ibnu Abu
Sulaiman, dari Ibnu Abu Laila Al-Kindi yang mengatakan, "Ketika aku sedang
bersama tuanku seraya memegang tali kendali unta kendaraannya, saat itu
orang-orang sedang mengepung rumah Usman ibnu Affan. Maka Usman ibnu Affan
muncul dari rumahnya menghadapi kami, lalu membacakan firman-Nya: 'Hai
kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kalian) menyebabkan
kalian menjadi jahat hingga kalian ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh
atau kaum Hud atau kaum Saleh.' (Hud: 89)." Hai kaumku, janganlah
kalian membunuhku. Sesungguhnya jika kalian membunuhku, maka kalian akan
seperti ini. Demikianlah ucapannya seraya menyatukan jari jemari tangannya.
*******************
Firman
Allah Swt.
{وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ}
sedangkan
kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari
kalian. (Hud: 89)
Menurut
suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah zamannya.
Qatadah
mengatakan, makna yang dimaksud ialah 'sesungguhnya kaum Lut telah binasa
kemarin.
Menurut
pendapat lainnya lagi, yang dimaksud dengan tidak jauh adalah tempatnya.
Kedua
pengertian di atas masing-masing dapat dijadikan sebagai takwilnya.
{وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ}
Dan
mohonlah ampun kepada Tuhan kalian. (Hud:
90)
dari
dosa-dosa kalian yang terdahulu.
ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ
kemudian
bertobatlah kepada-Nya. (Hud: 90)
dari
semua perbuatan buruk di masa mendatang.
Firman
Allah Swt.:
{إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ}
Sesungguhnya
Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (Hud:
90)
kepada
orang yang bertobat kepada-Nya.
Hud, ayat 91-92
{قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا
نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلا
رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ (91) قَالَ يَا قَوْمِ
أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ
ظِهْرِيًّا إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (92) }
Mereka berkata, "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti
tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat
kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu,
tentulah kami telah merajam kamu, sedangkan kamu pun bukanlah seorang yang
berwibawa di sisi kami.” Syu’aib menjawab, "Hai kaumku, apakah keluargaku
lebih terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah, sedangkan Allah kalian
jadikan sesuatu yang terbuang di belakang kalian? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kalian
kerjakan.”
Mereka
mengatakan:
{يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا
تَقُولُ}
Hai
Syu’aib, kami tidak banyak mengerti. (Hud:
91)
Maksudnya,
kami tidak banyak memahami perkataanmu itu.
{وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا}
dan
sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah. (Hud: 91)
Sa'
id ibnu Jubair dan As-Sauri mengatakan, Nabi Syu'aib adalah seorang yang tuna
netra. As-Sauri mengatakan bahwa Nabi Syu'aib dijuluki sebagai juru bicara para
nabi.
As-Saddi
mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya kami benar-benar
melihat kamu seorang yang lemah di antara kami. (Hud: 91) Bahwa yang
dimaksud ‘lemah’ ialah karena dia sendirian.
Abu
Rauq mengatakan bahwa mereka bermaksud bahwa dia adalah orang yang hina, karena
kaum kerabatnya tidak memeluk agamanya.
وَلَوْلَا
رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ
kalau
tidaklah karena keluargamu, tentulah kami telah merajam kamu. (Hud: 91)
Yang
dimaksud dengan rahtun ialah kaum, yakni 'seandainya tidaklah karena
kaummu yang kami hormati, niscaya kami akan merajam kamu'. Menurut suatu
pendapat dengan batu, sedangkan menurut pendapat yang lainnya mengatakan dengan
caci maki.
{وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ}
sedangkan
kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. (Hud: 91)
Artinya,
kamu bukanlah orang yang berwibawa di kalangan kami.
{قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ
عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ}
Syu'aib
menjawab, "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandangan
kalian daripada Allah?” (Hud: 92)
Yakni
apakah kalian membiarkan aku karena kaumku, bukan karena menghormati Tuhan Yang
Mahasuci lagi Mahatinggi bila kalian menimpakan keburukan kepada Nabi-Nya.
Sesungguhnya kalian telah menjadikan Allah terlupakan oleh kalian.
{وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا}
di
belakang punggung kalian. (Hud: 92)
Maksudnya,
kalian mengesampingkan-Nya di belakang kalian; karena itulah kalian tidak taat
dan tidak menghormati-Nya.
{إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ}
Sesungguhnya
(pengetahuan) Tuhanku meliputi
apa yang kalian kerjakan. (Hud: 92)
Yakni
Dia mengetahui semua amal perbuatan kalian, dan kelak Dia akan membalaskannya
kepada kalian.
Hud, ayat 93-95
{وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا
عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ
يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ (93)
وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي
دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (94) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلا بُعْدًا
لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ (95) }
Dan (dia berkata), "Hai
kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).
Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan kedatangan azab yang menghinakannya
dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku
pun menunggu bersama kalian.” Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan
Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari
Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur,
lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum
pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan
sebagaimana kaum Samud telah binasa.
Ketika
Nabi Syu'aib merasa putus asa akan sambutan kaumnya kepada seruannya, maka ia
berkata kepada mereka: Hai kaumku,
{اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ}
berbuatlah
menurut kemampuan kalian. (Hud: 93)
Yakni
menurut cara kalian. Di dalam kalimat ini terkandung ancaman yang keras.
{إِنِّي عَامِلٌ}
sesungguhnya
aku pun berbuat (pula). (Hud: 93)
Yaitu
menurut caraku sendiri.
{سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ
يُخْزِيهِ
وَمَنْ
هُوَ كَاذِبٌ}
Kelak
kalian akan mengetahui siapa yang akan kedatangan azab yang menghinakannya dan
siapa yang berdusta. (Hud: 93)
Yakni
aku atau kaliankah?
{وَارْتَقِبُوا}
Dan tunggulah azab (Tuhan). (Hud: 93)
Yakni
tunggulah oleh kalian.
{إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ}
Sesungguhnya
aku pun menunggu bersama kalian. (Hud:
93)
*******************
Allah
Swt. berfirman:
{وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا
شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ
ظَلَمُوا
الصَّيْحَةُ
فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ}
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib
dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami,
dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu
jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. (Hud: 94)
Firman
Allah Swt.:
{جَاثمِيِنَ}
bergelimpangan.
(Hud: 94)
Yaitu
bergeletakan mati tanpa bergerak lagi. Di dalam surat ini disebutkan bahwa azab
yang menimpa mereka adalah pekikan yang mengguntur. Di dalam surat
Al-A'raf disebutkan gempa yang dahsyat, sedangkan di dalam surat Asy-Syu'ara
disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan. Mereka adalah suatu umat
yang berkumpul di hari mereka diazab, sehingga semuanya menerima pembalasan
dari Allah. Dan sesungguhnya pada tiap-tiap konteks disebutkan hal yang sesuai
dengannya. Maka dalam surat Al-A'raf, yaitu ketika mereka mengatakan:
{لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا}
Sesungguhnya
kami akan mengusir kamu, hai Syu’aib, dan orang-orang yang beriman bersamamu
dari kota kami. (Al-A'raf: 88)
Maka
hal yang sesuai dengan konteksnya disebutkan bahwa lalu bumi mengalami gempa
yang hebat yang membinasakan orang-orang yang berbuat aniaya itu di dalam
kotanya, karena mereka bermaksud akan mengusir Nabi mereka dari kotanya'. Dan
dalam surat Hud ini disebutkan bahwa ketika mereka berbuat kurang ajar dalam
ucapan mereka kepada nabinya, maka dikeluarkanlah pekikan yang mengguntur yang
mencabut nyawa mereka semuanya.
Di
dalam surat Asy-Syu'ara disebutkan pula bahwa ketika mereka mengatakan:
{فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ
السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ}
Maka
jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar. (Asy-Syu'ara: 187)
Maka
dalam ayat selanjutnya disebutkan:
{فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ
إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ}
lalu
mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu
adalah azab hari yang besar. (Asy-Syu'ara:
189)
Hal
ini termasuk rahasia yang lembut maknanya, dan hanya kepada Aliahlah kami
memuji dan bersyukur selama-lamanya.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا}
Seolah-olah
mereka belum pernah berdiam di tempat itu. (Hud:
95)
Yakni
seakan-akan sebelum itu mereka belum pernah hidup di rumah mereka.
{أَلا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ
ثَمُودُ}
Ingatlah,
kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud telah binasa. (Hud: 95)
Tempat
tinggal orang-orang Madyan bertetangga-dengan orang-orang Samud, mereka serupa
dalam hal kekufuran dan suka membegal (merampok); kedua-duanya adalah bangsa
Arab.
Hud, ayat 96-99
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا
مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (96) إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ
فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ (97) يَقْدُمُ
قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ
الْمَوْرُودُ (98) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ
الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ (99) }
Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat
yang nyata, kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka
mengikut perintah Fir’aun, padahal sekali-kali perintah Fir’aun bukanlah (perintah)
yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan
mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. Dan
mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di
hari kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.
Allah
Swt. menceritakan tentang Musa yang Dia utus dengan membawa ayat-ayat-Nya dan
mukjizat-mukjizat yang jelas kepada Fir'aun, raja bangsa Qibti dan
pemimpin-pemimpin kaumnya.
{فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ}
tetapi
mereka mengikuti perintah Fir'aun. (Hud:
97)
Yakni
mereka mengikuti metode, jalan, dan cara Fir'aun dalam kesesatannya.
{وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ}
padahal
sekali-kali perintah Fir'aun bukanlah (perintah)
yang benar. (Hud: 97)
Perintah
Fir'aun tidak mengandung kebenaran, tidak pula petunjuk; melainkan hanyalah
kebodohan, kesesatan, kekufuran, dan keingkaran. Sebagaimana mereka mengikuti
Fir'aun di dunia sehingga Fir'aun berada di depan mereka sebagai pemimpin
mereka, maka demikian pula halnya kelak di hari kiamat; Fir'aun berada di depan
mereka menuju neraka Jahanam, lalu dia memasukkan mereka ke dalamnya dan
merasakan azab tempat yang dimasukinya. Sedangkan Fir'aun sendiri memperoleh
bagian yang paling banyak dari azab yang sangat besar itu.
Di
dalam ayat lain disebutkan:
{فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ
فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلا}
Maka
Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. (Al-Muzzammil: 16)
{فَكَذَّبَ
وَعَصَى ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ
الأعْلَى فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الآخِرَةِ وَالأولَى إِنَّ فِي ذَلِكَ
لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى}
Tetapi
Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha
menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya)
lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, "Akulah tuhan
kalian yang paling tinggi " Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat
dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi
orang yang takut (kepada Tuhannya). (An-Nazi'at: 21-26)
*******************
Allah
Swt. berfirman:
{يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ}
Ia
berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam
neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (Hud: 98)
Demikian
pula nasib yang dialami oleh para pemimpin yang diikuti kesesatannya. Mereka
memperoleh bagian azab yang paling besar kelak di hari kiamat, seperti yang
disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
لِكُلٍّ
ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
Masing-masing
mendapat (siksaan) yang berlipat ganda,
tetapi kalian tiddk mengetahui. (Al-A'raf: 38)
Allah
Swt. menceritakan pula perihal orang-orang kafir, bahwa mereka di dalam neraka
mengatakan:
{رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا
وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَ رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ
الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا}
Dan
mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari
jalan (yang benar). Ya Tuhan kami,
berilah kepada mereka azab dua kali lipat " (Al-Ahzab: 67-68), hingga
akhir ayat.
وَقَالَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيْم، حَدَّثَنَا أَبُو الْجَهْمِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ،
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "امْرُؤُ الْقَيْسِ حَامِلُ لِوَاءِ شُعَرَاءِ
الْجَاهِلِيَّةِ إِلَى النَّارِ"
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan
kepada kami Abul Jahm, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang
menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Imru-ul Qais adalah
pemegang panji para penyair Jahiliah (menuju) ke neraka.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ
الْقِيَامَةِ}
Dan
mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. (Hud: 99), hingga akhir
ayat.
Yakni
sebagai tambahan dari azab neraka Kami ikutkan kepada mereka laknat (kutukan)
di dunia.
{وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ
الْمَرْفُودُ}
dan
(begitu pula) di hari kiamat.
Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (Hud: 99)
Mujahid
mengatakan bahwa ditambahkan kepada mereka kutukan pada hari kiamat, sehingga
kutukan yang mereka terima sebanyak dua kali.
Ali
ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman
Allah Swt.: Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (Hud: 99)
Yang dimaksud ialah laknat dunia dan laknat akhirat.
Hal
yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Qatadah. Hal ini semakna dengan
apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى
النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ
الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ}
Dan
Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan
ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari
kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).
(Al-Qashash: 41-42)
{النَّارُ
يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا
آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ}
Kepada
mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya
kiamat. (Dikatakan kepada mereka), "Masukkanlah
Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”(Al-Mu’min: 46)
Hud, ayat 100-101
{ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ
الْقُرَى نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ (100) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ
وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي
يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا
زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ (101) }
Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan
kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih
kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan
Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka
sendiri. Karena itu, tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka
sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang.
Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan
belaka.
Setelah
Allah Swt. menceritakan kisah para nabi dan apa yang terjadi dengan mereka
bersama umatnya masing-masing, lalu disebutkan bagaimana Allah membinasakan
orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin. Maka Allah Swt.
berfirman:
{ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى}
Itu
adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang
telah dibinasakan). (Hud: 100)
Yakni
kisah-kisah penduduknya.
{نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ}
yang
Kami ceritakan kepadamu (Muhammad);
di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya. (Hud:
100)
Maksudnya,
masih terdapat reruntuhan-reruntuhannya.
{وَحَصِيدٌ}
dan
ada (pula) yang telah musnah. (Hud:
100)
Yaitu
hancur dan binasa tanpa bekas.
{وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ}
Dan
Kami tidaklah menganiaya mereka. (Hud:
101)
saat
Kami binasakan mereka.
{وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ}
tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Hud: 101)
karena
mereka mendustakan dan kafir kepada rasul-rasul Kami.
{فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ}
Karena
itu, tiadalah bermanfaat bagi mereka tuhan-tuhan mereka. (Hud: 101)
Yakni
berhala-berhala mereka yang mereka sembah dan mereka seru.
{مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ}
selain
dari Allah, barang sedikit pun. (Hud:
101)
Sembahan-sembahan
mereka itu tidak dapat memberikan sesuatu manfaat pun kepada mereka, tidak pula
dapat menyelamatkan mereka dari kebinasaan.
{وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ}
Dan
sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.
(Hud: 101)
Mujahid,
Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kecuali
kerugian belaka. Dikatakan demikian karena penyebab kebinasaan dan kehancuran
mereka tiada lain karena mereka mengikuti sembahan-sembahan itu. Untuk itulah
mereka dikatakan merugi di dunia dan akhiratnya.
Hud, ayat 103-105
{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً
لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ
يَوْمٌ مَشْهُودٌ (103) وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ (104) يَوْمَ
يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ (105)
}
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu
hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang
disaksikan (oleh segala makhluk). Dan Kami tiadalah mengundurkannya,
melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada
seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka
ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
Allah
Swt. berfirman, "Sesungguhnya dalam pembinasaan Kami terhadap orang-orang
kafir dan penyelamatan Kami terhadap orang-orang mukmin."
لآيَةً
benar-benar
terdapat tanda. (Hud: 103)
Yakni
pelajaran dan nasihat yang menunjukkan kebenaran ancaman Kami kelak di hari
kemudian. Allah Swt. berfirman:
{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ
آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ}
Sesungguhnya
Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan
dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari
kiamat). (Al-Mu’min: 51)
{فَأَوْحَى
إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ}
Maka
Tuhan mewahyukan kepada mereka, "Kami pasti akan membinasakan orang-orang
yang zalim itu.” (Ibrahim: 13), hingga akhir ayat.
Adapun
firman Allah Swt.:
{ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ}
Hari
kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya. (Hud: 103)
Maksudnya,
dari yang pertama hingga yang paling akhir dari mereka semuanya dihimpunkan
pada hari itu. Ayat ini semakna dengan ayat lainnya, yaitu:
{وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ
أَحَدًا}
dan
Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari
mereka. (Al-Kahfi: 47)
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ}
dan
hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh
segala makhluk). (Hud: 103)
Yakni
hari yang sangat besar, dihadiri oleh para malaikat; pada hari itu berkumpul
pula para rasul, dan semua makhluk yang terdiri atas jin, manusia,
burung-burung, binatang-binatang liar serta semua binatang ternak dihimpunkan.
Lalu pada hari itu Tuhan Yang Mahaadil menjalankan hukum-Nya tanpa berbuat
aniaya barang seberat zarrah pun; jika amal perbuatan berupa suatu kebaikan,
maka Dia melipatgandakan pahalanya.
Firman
Allah Swt.:
{وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ}
Dan
Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)
Artinya,
tidak sekali-kali Kami mengundurkan terjadinya hari kiamat melainkan karena
telah ditetapkan oleh Allah dalam takdir-Nya yang terdahulu tentang keberadaan
sejumlah manusia dari keturunan anak Adam, dan telah ditetapkan-Nya masa
tertentu bagi mereka. Apabila masa itu telah mereka lalui dan keberadaan mereka
di dunia telah terpenuhi menurut takdir-Nya, maka barulah hari kiamat terjadi.
Karena itulah dalam firman-Nya disebutkan:
{وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلا لأجَلٍ مَعْدُودٍ}
Dan
Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)
Yaitu
sampai waktu yang tertentu, tidak ditambahi dan tidak dikurangi.
{يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا
بِإِذْنِهِ}
Di
kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan
izin-Nya. (Hud: 105)
Pada
waktu hari kiamat terjadi, tiada seorang pun yang berbicara melainkan dengan
seizin Allah. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui
firman-Nya:
{لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ
الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا}
mereka
tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan
Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba: 38)
{وَخَشَعَتِ
الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا}
dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Thaha:
108), hingga akhir ayat.
Di
dalam hadis Sahihain mengenai syafaat disebutkan:
"وَلَا يَتَكَلَّمُ
يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللهُم سَلّم
سَلِّمْ
Pada
hari itu seorang pun yang berbicara
selain para rasul, dan doa para rasul pada hari itu ialah, "Ya Allah,
selamatkanlah selamatkanlah.”
*******************
Firman
Allah Swt.:
{فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ}
maka
di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105)
Artinya,
di antara mereka yang dihimpunkan pada hari perhimpunan itu ada yang celaka,
ada pula yang berbahagia; perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat
lain melalui firman-Nya:
{فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي
السَّعِيرِ}
Segolongan
masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy-Syura:
7)
Al-Hafiz
Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa telah menceritakan
kepada kami Musa ibnu Hissan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu
Amr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu Sufyan, telah menceritakan
kepada kami Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar, dari Umar yang mengatakan
bahwa ketika ayat berikut diturunkan: maka di antara mereka ada yang celaka
dan ada yang berbahagia. (Hud: 105) Ia bertanya kepada Nabi Saw.,
"Wahai Rasulullah, apakah yang harus kita kerjakan? Apakah yang kita
kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan, ataukah sesuatu yang belum
dirampungkan?" Rasulullah Saw. menjawab:
"عَلَى شَيْءٍ قَدْ
فُرِغَ مِنْهُ يا عمر وجرت به الأقلام، وَلَكِنْ كُلٌّ مُيَسَّرٌ
لِمَا خُلِقَ لَهُ"
Hai
Umar, hal yang kita kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan dan telah
dicatat oleh qalam (pena) takdir, tetapi tiap-tiap
orang diciptakan sesuai dengan bakatnya masing-masing.
Kemudian
Allah Swt. menjelaskan keadaan orang-orang yang celaka dan orang-orang yang
berbahagia. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:
Hud, ayat 106-107
{فَأَمَّا الَّذِينَ
شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا
مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) }
Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya
mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih), mereka kekal di
dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
Mengenai
firman Allah Swt.:
{لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ}
mereka
mengeluarkan dan menarik napas (dengan
merintih). (Hud: 106)
Ibnu
Abbas mengatakan bahwa suara zafir keluar dari tenggorokan, sedangkan syahiq
dari dada, yakni tarikan napas dan pengeluarannya dibarengi dengan
rintihan. Demikian itu karena pedihnya azab yang dialami oleh mereka, semoga
Allah melindungi kita dari siksa neraka.
{خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ
السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ}
mereka
kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi. (Hud: 107)
Imam
Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, termasuk kebiasaan orang-orang Arab bila
hendak menggambarkan sesuatu hal yang kekal dan abadi adalah menyebutkan bahwa
ini kekal selama ada langit dan bumi. Mereka pun mengatakan bahwa dia kekal
selama siang dan malam silih berganti. Hal yang sama dikatakan, "Selama
anak-anak Samir masih begadang," dan "Selama unta masih
menggerak-gerakkan ekornya," semuanya itu menunjukkan pengertian kekal.
Maka Allah Swt. ber-khitab kepada mereka dengan ungkapan yang telah mereka
kenal di antara sesamanya. Untuk itu, Dia berfirman: mereka kekal di
dalamnya selama ada langit dan bumi. (Hud: 107)
Menurut
kami, dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud dengan ungkapan selama
ada langit dan bumi adalah jenisnya; karena di alam akhirat pasti ada langit
dan bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ
وَالسَّمَاوَاتُ}
(Yaitu)
pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian
pula) langit. (Ibrahim: 48)
Karena
itulah Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: selama
ada langit dan bumi. (Hud: 107) Menurutnya adalah langit yang selain dari
langit sekarang ini, dan bumi yang selain dari bumi sekarang ini, yakni selama
masih ada langit dan bumi tersebut.
Ibnu
Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Sufyan ibnu Husain, dari
Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: selama
ada langit dan bumi. (Hud: 107) Bahwa setiap surga mempunyai langit dan
buminya sendiri.
Abdur
Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, "Selama bumi berfungsi sebagai
bumi, dan langit berfungsi sebagai langit."
*******************
Firman
Allah Swt.:
{إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ}
kecuali
jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (Hud:
107)
Ayat
ini semakna dengan firman-Nya:
{النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا
إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ}
Neraka
itulah tempat diam kalian, sedangkan kalian kekal di dalamnya, kecuali kalau
Allah menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu
Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 128)
Ulama
tafsir berbeda pendapat tentang makna yang dimaksud dari istisna ini.
Banyak pendapat yang mereka kemukakan diriwayatkan oleh Syekh Abul Faraj ibnul
Juzi di dalam kitabnya Zadul Maisir, juga oleh ulama tafsir lainnya.
Kemudian dinukil oleh banyak ulama, antara lain oleh Imam Abu Ja'far ibnu Jarir
rahimahullah di dalam kitabnya.
Ibnu
Jarir memilih pendapat yang dinukil dari Khalid ibnu Ma'dan, Ad-Dahhak,
Qatadah, dan Ibnu Sinan. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Ibnu Abbas,
juga Al-Hasan, bahwa istisna dalam ayat ini kembali kepada orang-orang
yang durhaka dari kalangan ahli tauhid, lalu mereka dikeluarkan oleh Allah dari
neraka berkat permohonan syafaat dari para pemberi syafaat—dari kalangan para
malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin— hingga mereka memberikan
syafaatnya kepada orang-orang yang berdosa besar (dari kalangan ahli tauhid).
Kemudian datanglah rahmat Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang,
lalu dikeluarkanlah dari neraka orang-orang (ahli tauhid) yang tidak pernah
mengamalkan suatu kebaikan pun, tetapi di suatu hari ia pernah mengucapkan,*
"Tidak ada Tuhan selain Allah." Seperti yang telah disebutkan oleh
hadis-hadis sahih dari Rasulullah Saw. yang mengandung keterangan tersebut,
diriwayatkan melalui hadis Anas, Jabir, Abu Sa'id, Abu Hurairah, serta para
sahabat lainnya.
Setelah
itu tidak ada lagi seorang pun di dalam neraka kecuali orang-orang yang wajib
menjadi penghuni tetap untuk selama-lamanya dan tidak ada jalan lain baginya
untuk selamat dari neraka. Demikianlah menurut pendapat kebanyakan ulama
terdahulu dan ulama sekarang sehubungan dengan tafsir ayat ini.
Sehubungan
dengan tafsirnya telah diriwayatkan banyak asar dari Amirul Mu’minin Umar ibnul
Khattab, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah ibnu Amr, Jabir, Abu
Sa' id dari kalangan para sahabat; sedangkan dari kalangan para tabi'in ialah
Abu Mijlaz, Asy-Sya'bi, dan yang lainnya.
Telah
diriwayatkan pula pendapat-pendapat yang garib dari Abdur Rahman ibnu
Zaid ibnu Aslam, Ishaq ibnu Rahawaih, serta lain-lainnya dari kalangan para
imam. Di dalam kitab Mu’jamul Kabir ImamTabrani telah disebutkan sebuah
hadis garib melalui Abu Umamah Sada ibnu Ajlan Al-Bahili, tetapi
predikatnya daif; hadis dimaksud berkaitan dengan tafsir ayat ini.
Qatadah
mengatakan bahwa Allah lebih mengetahui apa yang dikecualikan-Nya.
As-Saddi
mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh firman Allah Swt. yang
mengatakan:
{خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا}
mereka
kekal di dalamnya selama-lamanya. (An-Nisa:
169)
Hud, ayat 108
{وَأَمَّا الَّذِينَ
سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ
إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108) }
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga,
mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu
menghendaki (yang lain); sebagai
karunia yang tiada putus-putusnya.
Firman
Allah Swt.:
{وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا}
Adapun
orang-orang yang berbahagia. (Hud:
108)
Mereka
adalah pengikut-pengikut para rasul.
{فَفِي الْجَنَّةِ}
maka
tempatnya di dalam surga. (Hud: 108)
Yakni
tempat tinggal mereka adalah surga.
{خَالِدِينَ فِيهَا}
mereka
kekal di dalamnya. (Hud: 108)
Maksudnya,
mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya.
{مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا
مَا شَاءَ رَبُّكَ}
selagi
masih ada langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). (Hud: 108)
Pengertian
istisna (pengecualian) dalam ayat ini menunjukkan bahwa keabadian mereka
dalam kenikmatan yang mereka alami itu secara prinsip bukanlah merupakan suatu
hal yang wajib (harus), melainkan terserah kepada kehendak Allah Swt. Dialah
yang memberikan karunia kepada mereka selamanya, karena itulah disebutkan bahwa
mereka diilhami oleh Allah untuk selalu bertasbih dan bertahmid, sebagaimana
mereka diilhami untuk bernapas.
Ad-Dahhak
dan Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa ayat ini berkaitan dengan nasib
orang-orang yang durhaka dari kalangan ahli tauhid, yaitu mereka yang berada di
dalam neraka (karena dosa-dosanya), kemudian dikeluarkan dari neraka. Sesudah
itu disebutkan dalam ayat berikutnya:
{عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ}
sebagai
karunia yang tiada terputus-putus. (Hud:
108)
Yakni
tidak pernah terputus. Demikianlah menurut pendapat Mujahid,
Ibnu
Abbas, Abul Aliyah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Dimaksudkan agar
sesudah penyebutan kehendak Allah tidak timbul dugaan yang mengatakan bahwa di
sana ada putusnya atau ada terhentinya atau ada sesuatu. Melainkan telah
diputuskan kekekalan dan tidak adanya keterputusan, seperti yang telah
dijelaskan bahwa azab ahli neraka di dalam neraka kekal adalah karena kehendak Allah.
Juga karena keadilan dan kebijaksanaan-Nya, Dia mengazab mereka. Karena itulah
disebutkan oleh firman-Nya:
{إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ}
Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (Hud: 107)
Dalam
ayat yang lainnya lagi disebutkan:
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ
يُسْأَلُونَ}
Dia
tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.
(Al-Anbiya: 23)
Dalam
surat ini disebutkan pula hal yang menyenangkan hati dan meluruskan makna yang
dimaksud, yaitu melalui firman selanjutnya:
{عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ}
sebagai
karunia yang tiada putus-putusnya. (Hud:
108)
Di
dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis yang mengatakan:
«يؤتى بالموت في صورة كبش أملح فَيُذْبَحُ
بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ فَلَا
مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ»
Kelak
maut akan didatangkan dalam bentuk seekor domba putih, lalu disembelih di
antara surga dan neraka. Kemudian dikatakan, "Hai ahli surga, sesungguhnya
kalian sekarang hidup dan tidak akan mati selama-lamanya. Hai ahli neraka,
kekallah kalian dan tidak ada kematian lagi.
Di
dalam sebuah hadis sahih disebutkan:
"فَيُقَالُ يَا
أَهْلَ الْجَنَّةِ، إِنْ لَكُمْ أَنْ تَعِيشُوا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ
أن تشبوا فلا تهْرَموا أبدا، وإن لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا،
وَإِنَّ لَكُمْ أن تنعموا فلا تبَأسوا أبدا"
Maka
dikatakan, "Hai ahli surga, hiduplah kalian dan kalian tidak akan mati
selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap mudalah kalian, dan kalian tidak akan
tua selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap sehatlah kalian dan kalian tidak
akan sakit selama-lamanya. Dan sesungguhnya tetap bersenang-senanglah kalian
dan kalian tidak akan sengsara selama-lamanya
Hud, ayat 109-111
{فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ
مِمَّا يَعْبُدُ هَؤُلاءِ مَا يَعْبُدُونَ إِلا كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ مِنْ
قَبْلُ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ (109) وَلَقَدْ
آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ
رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ (110)
وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا
يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (111) }
Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang
disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang
mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan
secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun. Dan
sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu
diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang
telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara
mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan
yang menggelisahkan terhadap Al-Qur'an. Dan sesunggguhnya kepada masing-masing (mereka
yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan)
pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Firman
Allah Swt.:
{فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ
هَؤُلاءِ}
Maka
janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh
mereka. (Hud: 109)
Yakni
orang-orang musyrik itu; sesungguhnya perbuatan itu adalah batil, bodoh, dan
sesat. Mereka hanyalah menyembah apa yang dahulu disembah oleh bapak-bapak
mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai sandaran dalam mengerjakan apa
yang mereka lakukan itu, melainkan hanyalah mengikuti kebodohan bapak-bapak
mereka dahulu. Kelak Allah akan melakukan pembalasan kepada mereka atas hal
tersebut dengan balasan yang sempurna. Karena itu, kelak Dia akan mengazab
mereka dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun. Dan jika
mereka mempunyai kebaikan-kebaikan, maka Allah telah menunaikan balasannya di
dunia sebelum mereka memasuki alam akhirat.
Sufyan
As-Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami pasti akan
menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka
dengan tidak dikurangi. (Hud: 109) Yaitu apa yang telah dijanjikan kepada
mereka berupa balasan kebaikan dan balasan keburukan.
Abdur
Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan
menimpakan pembalasan yang setimpal kepada mereka tanpa dikurangi."
Kemudian
Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia telah memberikan Kitab Taurat kepada Musa,
lalu umatnya memperselisihkannya. Di antara mereka ada yang beriman kepadanya,
dan di antara mereka ada pula yang kafir kepadanya. Maka engkau, hai Muhammad,
mempunyai teladan dari kalangan para nabi sebelummu. Karena itu, janganlah
sekali-kali kamu marah bila mereka mendustakanmu, janganlah pula hal tersebut
menggoyahkanmu.
{وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ
لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ}
Dan
seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah
ditetapkan hukuman di antara mereka. (Hud:
110)
Ibnu
Jarir mengatakan, "Seandainya tidak ada takdir-Nya yang terdahulu yang
memutuskan bahwa Dia menangguhkan azab-Nya sampai kepada waktu yang telah
ditentukan, niscaya Allah menetapkan hukuman di antara mereka."
Dapat
pula diartikan bahwa Allah tidak akan mengazab seseorang melainkan sesudah
tegaknya hujah atas orang itu dan rasul telah diutuskan kepadanya, seperti yang
disebutkan di dalam firman Allah Swt.:
{وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ
رَسُولا}
dan
Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)
Dan
sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman dalam ayat yang lainnya, yaitu:
{وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ
لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ}
Dan
sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak
ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab
itu) menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan. (Thaha:
129-130)
Kemudian
Allah Swt. menceritakan bahwa kelak Dia akan menghimpunkan orang-orang yang
terdahulu dan yang kemudian dari kalangan semua umat, lalu Dia memberikan
balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Jika amal
perbuatannya baik, maka balasannya baik; dan jika amal perbuatannya buruk, maka
balasannya buruk pula. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:
{وَإِنَّ كُلا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ
رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Dan
sesungguhnya kepada masing-masing (mereka
yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup (balasan)
pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
(Hud: 111)
Yakni
Allah Maha Mengetahui semua amal perbuatan mereka yang mulia dan yang rendah
serta yang besar dan yang kecil. Sehubungan dengan ayat ini banyak riwayat yang
menceritakan qiraatnya, tetapi maknanya kembali kepada apa yang telah kami
sebutkan dalam tafsir firman-Nya:
{وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا
مُحْضَرُونَ}
Dan
setiap mereka semuanya dikumpulkan lagi kepada Kami. (Yasin: 32)
Hud, ayat 112-113
{فَاسْتَقِمْ كَمَا
أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
(112) وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا
لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113) }
Maka tetaplah kamu dalam jalan yang benar, sebagaimana
diperintahkan kepadamu dan (juga)
kepada orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui
batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah
kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh
api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain
dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.
Allah
Swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman agar
bersikap teguh dan tetap berjalan pada jalan yang lurus. Karena hal tersebut
merupakan sarana yang membantu untuk memperoleh kemenangan atas musuh dan
menangkal semua perlawanan mereka. Lalu Allah melarang bersikap melampaui
batas, karena sesungguhnya sikap ini mendatangkan kehancuran diri, sekalipun
dalam bersikap terhadap orang musyrik.
Allah
Swt. memberitahukan pula bahwa Dia Maha Melihat semua amal perbuatan
hamba-hamba-Nya, Dia tidak akan lalai terhadap sesuatu pun dan tidak ada
sesuatu pun yang samar bagi-Nya.
Firman
Allah Swt.:
{وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا}
Dan
janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim. (Hud: 113)
Ali
ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna latarkanu,
bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kalian bersikap diplomasi.
Al-Aufi
telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah cenderung
kepada kemusyrikan.
Abul
Aliyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah janganlah kamu rela terhadap
perbuatan mereka.
Ibnu
Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah
janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang aniaya. Pendapat ini cukup
baik, yang maksudnya ialah janganlah kalian meminta pertolongan kepada
orang-orang yang aniaya, karena jadinya seakan-akan kalian rela kepada amal
perbuatan mereka.
{فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ
دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ}
yang
akibatnya kalian akan disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak
mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan
diberi pertolongan. (Hud: 113)
Maksudnya,
kalian tidak akan mempunyai seorang penolong pun yang dapat menyelamatkan diri
kalian; dan tidak akan mempunyai seorang pelindung pun yang dapat membebaskan
kalian dari azab Allah selain Allah sendiri.
Hud, ayat 114 – 115
{وَأَقِمِ الصَّلاةَ
طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114) وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا
يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (115) }
Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan
malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah
karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
kebaikan.
Ali
ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna
firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang. (Hud: 114)
Yakni salat Subuh dan salat Magrib. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan
dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Al-Hasan
telah mengatakan dalam suatu riwayat dari Qatadah dan Ad-Dahhak serta
lain-lainnya, bahwa yang dimaksud ialah salat Subuh dan salat Asar.
Mujahid
mengatakan, yang dimaksud dengan salat pada permulaan siang adalah salat Subuh,
tetapi di lain kesempatan ia mengatakan salat Lohor dan salat Asar.
{وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ}
dan
pada bagian permulaan malam. (Hud:
114)
Ibnu
Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud
adalah salat Isya.
Al-Hasan
dalam riwayat Ibnul Mubarak dari Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan, bahwa
yang dimaksud dengan firman-Nya: dan pada bagian permulaan malam. (Hud:
114) Maksudnya adalah salat Magrib dan salat Isya.
Rasulullah
Saw. telah bersabda:
"هُمَا زُلْفَتَا
اللَّيْلِ: الْمَغْرِبُ وَالْعَشَاءُ"
Keduanya
berada pada bagian permulaan malam hari, yaitu salat Magrib dan salat Isya.
Hal
yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Muhammad ibnu Ka'b, Qatadah, dan
Ad-Dahhak, bahwa yang dimaksud adalah salat Magrib dan salat Isya.
Tetapi
dapat pula diartikan bahwa ayat ini diturunkan sebelum salat lima waktu
difardukan pada malam isra. Karena sesungguhnya salat yang diwajibkan saat itu
hanyalah salat sebelum matahari terbit dan salat sebelum tenggelamnya,
sedangkan salat qiyam di malam hari dianjurkan atas Nabi, juga atas
umatnya. Kemudian kewajiban atas umatnya melakukan qiyamul lail di-mansukh, tetapi
wajib atas Nabi Saw. Tetapi menurut suatu pendapat lain, kewajiban melakukan qiyamul
lail atas Nabi pada akhirnya di-mansukh pula.
Firman
Allah Swt.:
{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ}
sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (Hud: 114)
Sesungguhnya
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik itu dapat menghapuskan dosa-dosa yang
terdahulu, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan para pemilik kitab Sunnah melalui Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu
Talib yang mengatakan, "Aku apabila mendengar dari Rasulullah Saw. suatu
hadis secara langsung, maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengan melaluinya
menurut apa yang dikehendaki-Nya. Yakni aku mengamalkannya secara langsung.
Tetapi apabila aku mendengar suatu hadis dari orang lain, maka terlebih dahulu
aku sumpahi orang itu untuk kebenarannya. Apabila orang itu mau bersumpah
kepadaku, maka aku baru mempercayainya (dan mengamalkannya). Telah
menceritakan kepadaku Abu Bakar, dan benarlah Abu Bakar dengan apa yang
diceritakannya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"مَا مِنْ مُسْلِمٍ
يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، إِلَّا غَفَرَ
لَهُ"
'Tidak
sekali-kali seorang mukmin melakukan suatu dosa (kecil), lalu ia melakukan wudu dan salat dua rakaat,
melainkan diberikan ampunan baginya (atas dosanya itu)'."
Di
dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Amirul Mu’minin
Usman ibnu Affan, bahwa dia berwudu di hadapan mereka seperti wudu yang
dilakukan oleh Rasulullah Saw., kemudian ia mengatakan, "Demikianlah wudu
yang pernah aku lihat Rasulullah Saw. melakukannya, lalu Rasulullah Saw.
bersabda (sesudahnya):
"مَنْ تَوَضَّأَ
نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّث فِيْهِمَا
نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"
'Barang
siapa yang melakukan wudu seperti wuduku ini, kemudian mengerjakan salat dua
rakaat tanpa berbicara kepada dirinya sendiri dalam dua rakaatnya (yakni ia lakukan keduanya dengan khusyuk), maka
diberilah ampunan baginya atas dosa-dosanya yang terdahulu'."
Imam
Ahmad dan Abu Ja'far ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Abu Uqail
Zahrah ibnu Ma'bad, bahwa ia pernah mendengar Al-Haris maula Usman mengatakan,
"Pada suatu hari Usman duduk, dan kami duduk bersama-sama dengannya, lalu
juru azan salat datang kepadanya, maka Usman meminta air dalam sebuah wadah.
Menurut pendapatku (perawi), air itu sebanyak satu mud. Kemudian Usman
melakukan wudu dan berkata, bahwa ia pernah melihat Rasulullah Saw. melakukan
wudu seperti wudu yang diperagakannya itu, setelah itu Rasulullah Saw.
bersabda:
"مَنْ تَوَضَّأَ
وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى صَلَاةَ الظُّهْرِ، غُفِر لَهُ مَا كَانَ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ صَلَاةِ الصُّبْحِ، ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ غُفِرَ لَهُ مَا
بَيْنَهُ وَبَيْنَ صَلَاةِ الظُّهْرِ، ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ غُفِرَ لَهُ مَا
بَيْنَهُ وَبَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ صَلَّى الْعَشَاءَ غُفِرَ لَهُ مَا
بَيْنَهُ وَبَيْنَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ، ثُمَّ لَعَلَّهُ يَبِيتُ يَتَمَرَّغُ
لَيْلَتَهُ، ثُمَّ إِنْ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى الصُّبْحَ غُفِرَ لَهُ مَا
بَيْنَهَا وَبَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ، وَهُنَّ الْحَسَنَاتُ يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ"
'Barang
siapa yang melakukan wudu seperti wuduku ini, kemudian ia bangkit dan
mengerjakan salat Lohor, maka diampunilah baginya semua dosa yang dilakukannya
antara salat Lohor dan salat Subuhnya. Kemudian (bila) ia melakukan salat Asar, maka diampunilah baginya
dosa yang ia lakukan antara salat Asar dan salat Lohornya. Kemudian (bila) ia
salat Magrib, maka diampunilah baginya semua dosa yang ia lakukan antara salat
Magrib dan salat Asarnya. Kemudian (bila) ia salat Isya, maka
diampunilah baginya dosa yang ia lakukan antara salat Isya dan salat Magribnya.
Kemudian barangkali ia tidur lelap di malam harinya; dan jika ia bangun, lalu
wudu dan melakukan salat Subuh, maka diampunilah baginya semua dosa yang ia
kerjakan antara salat Subuh dan salat Isyanya. Semuanya itu adalah
perbuatan-perbuatan baik yang dapat menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan
buruk.”
Di
dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan melalui Abu Hurairah, dari
Rasulullah Saw., disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"أَرَأَيْتُمْ لَوْ أن بِبَابِ أَحَدِكُمْ
نَهْرًا غَمْرًا يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يُبقي مِنْ
دَرَنِهِ شَيْئًا؟ " قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: قَالَ:
"وَكَذَلِكَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الذُّنُوبَ
وَالْخَطَايَا"
"Bagaimanakah
pendapat kalian seandainya di depan rumah seseorang di antara kalian terdapat
sebuah sungai yang airnya berlimpah, lalu ia mandi lima kali sehari di dalamnya
setiap harinya, apakah masih ada yang tersisa dari kotoran yang ada pada
tubuhnya?” Mereka menjawab, "Tidak, wahai
Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, "Demikian pula halnya salat lima
waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dengannya."
Imam
Muslim di dalam kitab Sahih-nya mengatakan, telah menceritakan kepada
kami AbutTahir, yaitu Ibnu Sa'id; keduanya mengatakan, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Wahb, dari AbuSakhr, bahwa Umar ibnu Ishaq maula Zaidah pernah
menceritakan hadis berikut dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ،
وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَات مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ
الْكَبَائِرُ"
Salat
lima waktu dan salat Jumuah hingga salat Jumu'ah berikutnya, dan bulan Ramadan
sampai dengan bulan Ramadan berikutnya dapat menghapuskan semua dosa yang
dilakukan di antaranya, selagi dosa-dosa besar dihindari.
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi', telah
menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abbas, dari Damdam ibnu Zur'ah, dari
Syuraih ibnu Ubaid, bahwa Abu Rahm As-Sam'i pernah menceritakan hadis berikut
kepadanya: Abu Ayyub Al-Ansari pernah menceritakan hadis berikut kepadanya,
dari Rasulullah Saw., bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"إِنَّ كُلَّ
صَلَاةٍ تَحُطُّ مَا بَيْنَ يَدَيْهَا مِنْ خَطِيئَةٍ"
Sesungguhnya
setiap salat dapat menghapuskan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Abu
Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu
Ismail, telah menceritakan kepada kami Ubay, dari Damdam ibnu Zur'ah, dari
Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik Al-Asy'ari yang mengatakan bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"جُعِلَتِ
الصَّلَوَاتُ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ؛ فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ: {إِنَّ
الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ}
Salat-salat
itu dijadikan sebagai penghapus dosa yang dilakukan di antaranya. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. (Hud: 114)
Imam
Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa'id, telah
menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu
Usman An-Nahdi, dari Ibnu Mas'ud, bahwa pernah ada seorang lelaki mencium
seorang wanita, lalu ia datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan apa yang telah
dilakukannya itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu
pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. (Hud: 114) Lalu lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah,
apakah hal ini khusus bagiku?" Rasulullah Saw. menjawab:
"لِجَمِيعِ أُمَّتِي
كُلِّهِمْ".
Untuk
seluruh umatku.
Demikianlah
menurut riwayat Imam Bukhari di dalam Kitabus Salatnya.
Imam
Bukhari mengetengahkannya pula di dalam kitab Tafsir-nya dari Musaddad,
dari Yazid ibnu Zurai' dengan lafaz yang semisal. Imam Muslim dan Imam Ahmad
serta para penulis kitab Sunnah —kecuali Abu Daud— telah meriwayatkannya
melalui berbagai jalur dari Abu Usman An-Nahdi yang nama aslinya Abdur Rahman
ibnu Mal dengan sanad yang sama.
Imam
Ahmad, Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir telah
meriwayatkannya—dengan lafaz seperti berikut— melalui berbagai jalur dari Samak
ibnu Harb: Ia pernah mendengar Ibrahim Ibnu Yazid menceritakannya dari Alqamah
ibnu Aswad, dari Ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang
menghadap Rasulullah Saw., lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya
aku menjumpai seorang wanita di dalam sebuah kebun, lalu aku melakukan segala
sesuatu terhadapnya, hanya aku tidak menyetubuhinya. Aku menciuminya dan
memeluknya, lain itu tidak; maka hukumlah aku menurut apa yang engkau
sukai." Rasulullah Saw. tidak menjawab sepatah kata pun, lalu lelaki itu
pergi. Dan Umar berkata, "Sesungguhnya Allah memaafkannya jika dia
menutupi perbuatan dirinya (yakni tidak menceritakannya)." Pandangan
Rasulullah Saw. mengikuti kepergian lelaki itu, kemudian beliau bersabda,
"Panggillah lelaki itu untuk menghadap kepadaku." Lalu mereka
memanggilnya, dan Rasulullah Saw. membacakan kepadanya ayat berikut, yaitu
firman Allah Swt.: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114) Mu'az
mengatakan menurut riwayat yang lainnya, bahwa Umar berkata, "Wahai
Rasulullah, apakah hal ini khusus baginya, ataukah bagi semua orang?"
Rasulullah Saw. menjawab:
"بَلْ لِلنَّاسِ
كَافَّةً"
Tidak,
bahkan bagi semua orang.
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah
menceritakan kepada kami Aban ibnu Ishaq, dari As-Sabbah ibnu Muhammad, dari
Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ
قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ
اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ
إِلَّا مَنْ أَحَبَّ. فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ،
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يُسْلِمَ قَلْبُهُ
وَلِسَانُهُ، وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ". قَالَ:
قُلْنَا: وَمَا بَوَائِقُهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؟ قَالَ: "غِشُّهُ
وَظُلْمُهُ، وَلَا يكسِبُ عَبْدٌ مَالًا حَرَامًا فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ
لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُهُ خَلْفَ
ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زادَه إِلَى النَّارِ، إِنَّ اللَّهَ لَا يَمْحُو
السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ، وَلَكِنَّهُ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ، إِنَّ
الْخَبِيثَ لَا يَمْحُو الْخَبِيثَ"
Sesungguhnya
Allah telah membagi di antara kalian akhlak kalian sebagaimana Dia membagi di
antara kalian rezeki kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada
orang yang disukai-Nya dan orang yang tidak disukai-Nya. Tetapi Dia tidak
memberi agama kecuali kepada orang yang disukai-Nya. Maka barang siapa yang
diberi agama oleh Allah, berarti Allah menyukainya. Demi Tuhan yang jiwaku berada
di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah seorang hamba menjadi muslim sebelum
hati dan lisannya Islam, dan tidaklah seorang hamba menjadi mukmin sebelum
tetangganya aman dari perbuatan jahatnya. Kami
(para sahabat) bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah yang dimaksud dengan bawaiq-nya
(perbuatan jahatnya)?" Rasulullah Saw. bersabda: Yaitu menipu dan
menganiayainya. Dan tidaklah seorang hamba menghasilkan sejumlah harta haram,
lalu ia membelanjakannya dan diberkati baginya dalam belanjaannya itu; dan
tidaklah ia menyedekahkannya), lalu diterima sedekahnya. Dan tidaklah ia
meninggalkan harta haramnya itu di belakang punggungnya (untuk ahli
warisnya), melainkan akan menjadi bekalnya di neraka. Sesungguhnya Allah
tidak menghapus keburukan dengan keburukan, tetapi Dia menghapuskan keburukan
dengan kebaikan. Sesungguhnya hal yang buruk itu tidak dapat menghapuskan yang
buruk.
Ibnu
Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Saib, telah menceritakan
kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Ibrahim yang mengatakan,
"Fulan ibnu Mu'tib adalah seorang lelaki dari kalangan ansar, ia pernah
bertanya, 'Wahai Rasulullah, saya pernah menggauli seorang wanita dan
memperoleh darinya seperti apa yang diperoleh seorang lelaki dari istrinya,
hanya saya tidak menyetubuhinya.' Rasulullah Saw. tidak mengetahui jawaban apa
yang harus dikatakan kepadanya, hingga turunlah ayat ini: Dan dirikanlah
salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian
permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat. (Hud: 114) Maka Rasulullah Saw. memanggil lelaki itu dan membacakan
ayat ini kepadanya."
Menurut
riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, lelaki itu bernama Amr ibnu Gazyah
Al-Ansari At-Tammar. Menurut Muqatil, lelaki itu adalah Abu Nafil alias Amir
ibnu Qais Al-Ansari. Al-Khatib Al-Bagdadi menyebutkan bahwa lelaki itu adalah
Abul Yusr alias Ka'b ibnu Amr.
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus dan Affan; keduanya
mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad (yakni Ibnu Salamah),
dari Ali ibnu Zaid. Dan Affan mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali
ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang
kepada Umar, lalu ia bertanya, "Sesungguhnya pernah ada seorang wanita
datang kepadaku untuk melakukan jual beli denganku, lalu aku memasukkannya ke
dalam kemah, maka aku mengerjainya selain bersetubuh." Umar berkata,
"Celakalah kamu, barangkali suaminya sedang pergi berjihad di jalan
Allah." Lelaki itu menjawab, "Memang benar." Umar berkata,
"Datanglah kepada Abu Bakar dan bertanyalah kepadanya!" Lalu lelaki
itu datang kepada Abu Bakar. Abu Bakar berkata, "Barangkali dia adalah
wanita yang ditinggal suaminya pergi berjihad di jalan Allah." Ternyata
Abu Bakar mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Umar. Lelaki
itu datang kepada Nabi Saw. Nabi pun mengatakan hal yang sama, yaitu:
"Barangkali dia sedang ditinggal pergi berjihad di jalan Allah oleh
suaminya." Lalu turunlah firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu pada
kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. (Hud: 114), hingga akhir ayat. Lelaki itu bertanya, "Wahai
Rasulullah, apakah hal ini khusus bagiku, ataukah umum bagi semua orang?"
Maka Umar memukul dadanya dengan tangannya dan berkata, "Tidak, tidak,
bahkan untuk semua orang." Dan Rasulullah Saw. bersabda, "Benarlah
apa yang dikatakan Umar."
Imam
Abu Ja'far ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Qais ibnur Rabi', dari
Usman ibnu Mauhid Musa ibnu Talhah, dari Abul Yusr Ka'b ibnu Amr Al-Ansari yang
mengatakan, "Pernah ada seorang wanita datang kepadaku untuk membeli buah
kurma sebanyak satu dirham. Lalu aku berkata kepadanya bahwa sesungguhnya di
dalam rumah terdapat sejumlah buah kurma yang jauh lebih baik daripada ini.
Wanita itu masuk ke dalam rumah, lalu aku memeluk dan menciuminya. Setelah itu
aku datang menemui Umar dan bertanya kepadanya mengenai masalah itu. Maka Umar
berkata, 'Bertakwalah kamu kepada Allah, dan tutupilah perbuatanmu itu, jangan
kamu ceritakan kepada seorang pun.' Tetapi aku tidak sabar, lalu aku datang
kepada Abu Bakar untuk menanyakan hal itu kepadanya. Abu Bakar menjawab,
'Bertakwalah kamu kepada Allah, tutupilah perbuatanmu itu, dan jangan sekali-kali
kamu menceritakannya kepada seorang pun.' Aku tidak sabar, maka aku datang
kepada Nabi Saw. dan menceritakan hal itu kepadanya. Rasulullah Saw. bersabda:
“Apakah kamu berani berbuat demikian terhadap keluarga seorang lelaki yang
sedang pergi berjihad di jalan Allah?' Sehingga aku menduga bahwa diriku
termasuk ahli neraka, dan aku berangan-angan seandainya saja aku baru masuk
Islam saat itu. Rasulullah Saw. menundukkan kepalanya sesaat, dan Jibril
turun." Abul Yusr mengatakan bahwa lalu ia datang menghadap Rasulullah
Saw. (di lain waktu). Maka Rasulullah Saw. membacakan kepadanya ayat berikut: Dan
dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada
bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (Hud: 114) Lalu
ada seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus baginya
ataukah umum bagi semua orang?" Rasulullah Saw. menjawab, "Umum
bagi semua orang."
Al-Hafiz
Abul Hasan Ad-Daruqutni mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain
ibnu Sahl Al-Muhamili, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah
menceritakan kepada kami Jarir, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abdur Rahman
ibnu Abu Laila, dari Mu'az ibnu Jabal, bahwa ketika ia sedang duduk di hadapan
Nabi Saw., tiba-tiba datang menghadap kepada Nabi Saw. seorang lelaki dan
bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang
lelaki yang mengerjai wanita yang tidak halal baginya; dia tidak menyia-nyiakan
suatu kesempatan ini barang sedikit pun, perihalnya sama seperti apa yang
dilakukan oleh seorang lelaki terhadap istrinya, hanya saja dia tidak
menyetubuhinya?" Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya: Lakukanlah wudu
dengan baik lalu berdirilah dan kerjakanlah salat. Maka Allah Swt.
menurunkan firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang). (Hud: 114) Lalu Mu'az bertanya, "Apakah ayat ini khusus
baginya ataukah bagi seluruh kaum muslim?" Nabi Saw. menjawab, "Tidak,
bahkan buat seluruh kaum muslim."
Ibnu
Jarir telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abdul Malik ibnu Umair
dengan sanad yang sama.
Abdur
Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu muslim, dari
Amr ibnu Dinar, dari Yahya ibnu Ja'dah, bahwa seorang lelaki dari kalangan
sahabat Nabi Saw. teringat akan seorang wanita. Saat itu lelaki tersebut sedang
duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu lelaki itu meminta izin kepada Rasulullah
Saw. untuk suatu keperluannya, dan Rasulullah Saw. mengizinkannya. Kemudian
lelaki itu pergi mencari wanita yang diingatnya tadi, tetapi tidak
menjumpainya. Lelaki itu kembali dengan maksud akan memberitahukan kepada Nabi
Saw. berita gembira akan datangnya hujan. Di tengah perjalanan ia menjumpai
wanita itu sedang duduk di atas pancuran air. Lalu ia mendorong wanita itu
hingga telentang dan menindihinya di antara kedua kakinya, sehingga penisnya
lemas seperti ujung kain (karena telah mengeluarkan air mani). Kemudian ia
bangkit dengan rasa menyesali perbuatannya, dan ia langsung pergi hingga datang
ke hadapan Nabi Saw., menceritakan apa yang telah diperbuatnya itu. Maka Nabi
Saw. bersabda kepadanya: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan kerjakanlah salat
empat rakaat! Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Nabi Saw. membacakan
firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bagian permulaan malam. (Hud: 114), hingga akhir ayat.
Ibnu
Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Ahmad ibnu
Sibawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan
kepadaku Amr ibnul Haris, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Salim, dari
Az-Zubaidi Salim ibnu Amir; ia pernah mendengar Abu Umamah mengatakan bahwa sesungguhnya
pernah ada seorang lelaki datang menghadap kepada Nabi Saw., lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, laksanakanlah hukuman had Allah atas
diriku," sebanyak sekali atau dua kali, tetapi Rasulullah Saw. berpaling
darinya. Tidak lama kemudian salat didirikan; dan setelah Rasulullah Saw.
merampungkan salatnya, beliau bertanya, "Ke manakah orang yang tadi
meminta agar aku menegakkan hukuman had Allah atas dirinya?" Lelaki
itu menjawab, "Inilah saya." Rasulullah Saw. bersabda, "Apakah
engkau telah melakukan wudumu dengan baik dan salat bersama kami tadi?"
Lelaki itu menjawab, "Ya." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Maka
sesungguhnya engkau (telah dibersihkan) dari dosa-dosamu seperti pada
hari engkau dilahirkan oleh ibumu, maka janganlah kamu ulangi perbuatan itu! Dan
Allah Swt. menurunkan atas Rasul-Nya firman berikut: Dan dirikanlah salat
itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan
malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114)
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan
kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid,
dari Abu Usman yang mengatakan bahwa ketika ia sedang bersama Salman Al-Farisi
di bawah sebuah pohon, lalu Salman mengambil salah satu dari rantingnya yang
kering dan ia menggoyah-goyahkannya sehingga berguguranlah dedaunannya.
Kemudian Salman berkata, "Hai Abu Usman, mengapa engkau tidak bertanya
kepadaku tentang apa yang aku lakukan tadi?" Ia bertanya, "Mengapa
engkau melakukannya?" Salman menjawab, bahwa demikianlah ia pernah melihat
Rasulullah Saw. melakukannya, lalu Rasulullah Saw. bersabda:
"إِنَّ الْمُسْلِمَ
إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ صَلَّى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ،
تَحَاتَّتْ خَطَايَاهُ كَمَا يَتَحَاتُّ هَذَا الْوَرَقُ.
Sesungguhnya
orang muslim itu apabila berwudu dan ia lakukan wudunya itu dengan baik, lalu
mengerjakan salat lima waktunya, maka berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana
dedaunan ini berguguran.
Lalu
Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan dirikanlah salat itu pada kedua
tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114)
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan
kepada kami Sufyan, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Maimun ibnu Abu Syabib,
dari Mu'az, bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:
"يَا مُعَاذُ،
أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ"
Hai
Mu'az, ikutilah amal yang buruk dengan amal yang baik, amal yang baik itu dapat
menghapuskannya; dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan
kepada kami Sufyan, dari Habib, dari Maimun ibnu Abu Syabib, dari Abu Zar,
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"اتَّقِ اللَّهَ
حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ
النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ"
Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah amal yang buruk dengan
amal yang baik, niscaya amal baik itu menghapus dosanya, dan berakhlaklah
kepada manusia dengan akhlak yang baik
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Syamr Ibnu Atiyyah, dari guru-gurunya,
dari Abu Zar yang menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi Saw.,
"Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." Rasulullah Saw. menjawab:
"إِذَا عَمِلْتَ
سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا". قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، أَمِنَ الْحَسَنَاتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: "هِيَ
أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ"
Apabila
kamu berbuat suatu keburukan, maka iringilah ia dengan perbuatan yang baik,
niscaya perbuatan yang baik itu menghapus (dosa)nya.
Abu Zar kembali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kalimah 'Tidak ada
Tuhan selain Allah' termasuk amal yang baik?" Rasulullah Saw. bersabda: Kalimah
itu adalah amal baik yang paling utama.
Al-Hafiz
Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Huzail ibnu
Ibrahim Al-Jumani, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman
Az-Zuhr (salah seorang putra Sa'd ibnu Abu Waqqas), dan Az-Zuhri, dari Anas
ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"مَا قَالَ عَبْد:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، إِلَّا طَلَست
مَا فِي الصَّحِيفَةِ مِنَ السَّيِّئَاتِ، حَتَّى تَسْكُنَ إِلَى مِثْلِهَا مِنَ
الْحَسَنَاتِ"
Tidak
sekali-kali seorang hamba mengucapkan 'Tidak ada Tuhan selain Allah' dalam
suatu saat dari malam atau siang hari melainkan dihapuskan semua dosa yang ada
dalam buku catatan amalnya, lalu di bubuhkan kepadanya catatan amal kebaikan
yang semisal dengannya.
Usman
ibnu Abdur Rahman yang dikenal dengan nama julukan Al-Waqqasi orangnya agak
daif.
Al-Hafiz
Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam
dan Zaid ibnu Akhram; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami
Ad-Dahhak ibnu Makhlad, telah menceritakan kepada kami Mastur ibnu Abbad, dari
Sabit, dari Anas, bahwa pernah ada seorang lelaki berkata, "Wahai
Rasulullah, aku belum pernah membiarkan suatu keperluan pun, tidak pula sesuatu
hal pun." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Apakah kamu bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?"
Lelaki itu menjawab, "Ya." Rasulullah Saw. bersabda:
"فَإِنَّ هَذَا
يَأْتِي عَلَى ذَلِكَ"
Sesungguhnya
yang ini menghapus yang tadi.
Mastur
meriwayatkan hadis ini secara munfarid melalui jalur ini.
Hud, ayat 118-119
{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ
لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلا
مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ
جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119) }
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat
Tuhanmu (keputusan-Nya) telah
ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan
manusia (yang durhaka) kesemuanya.
Allah
Swt. menyebutkan bahwa Dia berkuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai
umat yang satu dalam hal keimanan atau kekufurannya. Perihalnya sama dengan apa
yang disebutkan-Nya dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي
الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا}
Dan
jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi
seluruhnya. (Yunus: 99)
Adapun
firman Allah Swt.:
{وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ
رَحِمَ رَبُّكَ}
tetapi
mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat
oleh Tuhanmu. (Hud: 118-119)
Maksudnya,
perselisihan masih tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan
akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.
Ikrimah
mengatakan bahwa mereka masih tetap berselisih pendapat dalam hal petunjuk.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka berselisih pendapat dalam masalah rezeki;
sebagian dari mereka menguasai sebagian yang lain. Tetapi pendapat yang
terkenal dan yang sahih adalah yang pertama tadi.
Firman
Allah Swt.:
{إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ}
kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud:
119)
Artinya,
kecuali orang-orang yang diberi rahmat dari kalangan para pengikut rasul-rasul;
yaitu mereka yang tetap berpegang teguh kepada perintah-perintah agama yang
diwajibkan atas diri mereka dan disampaikan oleh rasul-rasul Allah kepada
mereka. Demikianlah keadaan mereka secara terus-menerus hingga datanglah Nabi
Saw. sebagai akhir dari para rasul dan para nabi, lalu mereka mengikutinya,
membenarkan dan membantu perjuangannya. Akhirnya mereka beruntung karena meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat, mereka adalah golongan yang diselamatkan;
seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam
kitab-kitab musnad dan kitab-kitab sunnah melalui berbagai jalur yang sebagian
darinya memperkuat sebagian yang lain, yaitu:
"إِنَّ الْيَهُودَ افترقت على إِحْدَى
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَإِنَّ النَّصَارَى افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا فِرْقَةَ وَاحِدَةً". قَالُوا:
وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "مَا أَنَا عَلَيْهِ
وَأَصْحَابِي".
Sesungguhnya
orang-orang Yahudi itu telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan,
dan sesungguhnya orang-orang Nasrani itu telah berpecah belah menjadi tujuh
puluh dua golongan. Dan kelak umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh
puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Lalu para sahabat bertanya, "Siapakah mereka yang satu
golongan itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: (Orang-orang
yang) mengerjakan apa yang aku dan sahabat-sahabatku mengerjakannya.
Imam
Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini.
Ata
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa
berselisih pendapat. (Hud: 118) Yakni orang-orang Yahudi, orang-orang
Nasrani, dan orang-orang Majusi. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh
Tuhanmu. (Hud: 119) Yaitu orang-orang yang memeluk agama yang hanif (agama
Islam).
Qatadah
mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama'ah,
sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka berbeda-beda. Dan
orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat
tinggal dan kebangsaan mereka sama.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ}
Dan
untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud:
119)
Al-Hasan
Al-Basri —menurut suatu riwayat yang bersumberkan darinya— menyebutkan bahwa
makna ayat ini ialah 'mereka diciptakan untuk berselisih pendapat'.
Makki
ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan
mereka dalam keadaan berpecah belah, yakni berbeda-beda. Pengertiannya sama
saja dengan firman Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ}
maka
di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105)
Menurut
suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan mereka untuk
dirahmati.
Ibnu
Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu
Najih, dari Tawus, bahwa pernah ada dua orang lelaki bersengketa kepadanya
dengan persengketaan yang sengit. Lalu Tawus berkata, "Kalian sering
bertengkar dan berselisih pendapat." Salah seorang di antara keduanya
menjawab, "Memang demikianlah kita diciptakan.' Tawus berkata, "Kamu
dusta." Lalu lelaki itu berkata, "Bukankah Allah Swt. telah berfirman:
'tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud:
118-119)?" Tawus berkata, "Allah tidaklah menciptakan mereka agar
mereka berselisih pendapat, tetapi Dia menciptakan mereka agar bersatu dan
untuk dirahmati." Seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakam ibnu Aban,
dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk
dirahmati, bukan untuk diazab.
Hal
yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah. Kesimpulan
pendapat ini merujuk kepada pengertian yang terkandung di dalam firman Allah
Swt.:
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا
لِيَعْبُدُونِ}
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)
Menurut
pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa untuk rahmat dan perselisihan
Allah menciptakan mereka.
Seperti
yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumberkan
darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa
berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan
untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119) Bahwa manusia itu
senantiasa berselisih pendapat dalam masalah agamanya hingga terbagi-bagi
menjadi berbagai macam pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh
Tuhanmu. (Hud: 119) Maka barang siapa yang dirahmati oleh Tuhanmu, berarti
dia tidak berselisih pendapat. Ketika dikatakan kepadanya, "Untuk itulah
Allah menciptakan mereka." Al-Hasan Al-Basri menjawab, "Allah menciptakan
sebagian dari mereka untuk surganya, sebagian yang lainnya untuk neraka-Nya,
dan sebagian yang lain untuk azab-Nya."
Hal
yang sama telah dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-A'masy.
Ibnu
Wahb pernah mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Malik tentang makna
firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan
mereka. (Hud: 118-119) Malik menjawab bahwa segolongan dimasukkan ke dalam
surga dan segolongan yang lain dimasukkan ke dalam neraka sa'ir. Pendapat
ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan Abu Ubaid Al-Farra.
Dari
Malik, menurut apa yang telah kami riwayatkan darinya di dalam kitab Tafsir sehubungan
dengan makna firman Allah Swt.: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud:
119) Disebutkan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati. Sedangkan suatu kaum
dari kalangan ulama mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk berselisih.
*******************
Firman
Allah Swt.:
{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ
جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ}
Kalimat
Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan
bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang
durhaka) kesemuanya. (Hud: 119)
Allah
Swt. menyebutkan bahwa telah ditetapkan di dalam qada dan takdirNya
berkat pengetahuan-Nya yang Maha Sempurna dan kebijaksanaanNya yang
Mahaperiksa, bahwa di antara makhluk yang diciptakan-Nya ada yang berhak
mendapat surga, ada pula yang berhak mendapat neraka. Dan sudah merupakan suatu
kepastian bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahanam dari kedua jenis makhluknya,
yaitu jin dan manusia. Allah mempunyai hujah yang kuat dan kebijakan yang
sempurna dalam semua perbuatan-Nya. Di dalam kitab Sahihain disebutkan
dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"اخْتَصَمَتِ
الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ الْجَنَّةُ: مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا
ضَعَفَةُ النَّاسِ وسَقطُهم؟ وَقَالَتِ النَّارَ: أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ
وَالْمُتَجَبِّرِينَ. فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلْجَنَّةِ، أَنْتِ
رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْتَ عَذَابِي،
أَنْتَقِمُ بِكِ مِمَّنْ أَشَاءُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا.
فَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا فَضْلٌ، حَتَّى يُنْشِئَ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا
يَسْكُنُ فَضْلَ الْجَنَّةِ، وَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَزَالُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ
مَزِيدٍ؟ حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ رَبُّ الْعِزَّةِ قَدمه، فَتَقُولُ: قَطْ قَطٍ،
وَعَزَّتِكُ"
Surga
dan neraka mengadu (kepada Allah). Surga berkata,
"Mengapa aku, tiada yang memasuki aku kecuali hanya orang-orang yang lemah
dan orang-orang yang rendah?” Neraka berkata, "Aku dipilih untuk tempat
orang-orang yang angkuh dan orang-orang yang kelewat batas.” Maka Allah Swt.
berfirman kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati orang yang Aku
kehendaki denganmu.” Dan berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah azab-Ku, Aku
membalas denganmu terhadap orang yang Aku kehendaki. Dan bagi masing-masing
dari kamu berdua Aku akan memenuhinya.” Adapun surga, maka di dalamnya masih terus-menerus
terjadi lebihan hingga Allah menciptakan baginya suatu ciptaan yang membuat
lebihan surga menjadi terisi. Sedangkan neraka, maka ia masih terus mengatakan,
"Apakah masih ada tambahan lagi, " hingga Allah meletakkan padanya
telapak kaki kekuasaan-Nya; maka saat itu barulah neraka mengatakan
"Cukup, cukup, demi keagungan-Mu.”
Hud, ayat 120
{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ
مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ
الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (120) }
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah
kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah
datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman.
Allah
Swt. menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya
masing-masing sebelum engkau (Muhammad) Kami ceritakan kepadamu perihal mereka.
Juga perihal pertentangan dan permusuhan yang dilancarkan oleh mereka terhadap
nabinya masing-masing, dan pendustaan serta gangguan mereka yang dilancarkan
terhadap para nabinya. Lalu Allah menolong golongan orang-orang yang beriman
dan menghinakan musuh-musuh-Nya yang kafir. Semuanya itu diceritakan untuk
meneguhkan hatimu, hai Muhammad. Dan agar engkau mempunyai suri teladan dari
kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu.
Firman
Allah Swt.:
{وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ}
dan
dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran. (Hud: 120)
Yakni
di dalam surat ini. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan sejumlah ulama
Salaf.
Menurut
suatu riwayat yang bersumber dari Al-Hasan dan Qatadah disebutkan di dalam
dunia ini. Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan di dalam surat ini
yang mengandung kisah-kisah para nabi. Bagaimana Allah menyelamatkan mereka
bersama orang-orang yang beriman kepada mereka, lalu Allah membinasakan
orang-orang yang kafir. Surat ini disampaikan kepadamu yang di dalamnya
terkandung kisah-kisah yang benar dan berita yang benar serta sebagai pelajaran
untuk membuat jera orang-orang kafir, juga sebagai peringatan buat orang-orang
yang beriman.
{وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا
يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ (121) وَانْتَظِرُوا
إِنَّا مُنْتَظِرُونَ (122) }
Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman,
"Berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya kami pun berbuat (pula).” Dan tunggulah (akibat perbuatan
kalian), sesungguhnya kami pun menunggu (pula).”
Allah
Swt. berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada
orang-orang yang tidak beriman kepada apa yang telah disampaikan olehnya dari
Tuhannya dengan nada ancaman:
{اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ}
Berbuatlah
menurut kemampuan kalian. (Hud: 121)
Yakni
menurut cara dan metode kalian sendiri.
{إِنَّا عَامِلُونَ}
sesungguhnya
kami pun berbuat (pula). (Hud: 87)
Yaitu
menurut cara dan metode Kami sendiri.
{وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ}
Dan
tunggulah (akibat perbuatan kalian); sesungguhnya
kami pun menunggu (pula)." (Hud: 122)
Dengan
kata lain seperti apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lainnya,
yaitu:
فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Kelak
kalian akan mengetahui, siapakah (di
antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.
Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan. (Al-An'am:
135)
Allah
menunaikan kepada Rasul-Nya janji yang telah diutarakan-Nya, dan Allah
mendukungnya serta menjadikan kalimah-Nya tinggi dan menjadikan kalimah
orang-orang yang kafir rendah dan hina. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Hud, ayat 123
{وَلِلَّهِ غَيْبُ
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ
وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (123) }
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan
bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang
kalian kerjakan.
Allah
Swt. menyebutkan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang gaib yang terdapat di
langit dan di bumi, dan hanya kepada-Nyalah semuanya akan dikembalikan. Lalu
Dia akan memberikan kepada setiap orang apa yang diamalkannya selama di dunia
kelak pada hari perhitungan amal perbuatan. Dan hanya milik Dialah semua
makhluk serta semua urusan. Allah telah memerintahkan agar diri-Nya disembah
dan sebagai sandaran untuk bertawakal, karena sesungguhnya Dia akan memberikan
kecukupan kepada siapa yang bertawakal dan kembali kepada-Nya.
Firman
Allah Swt.:
{وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ}
Dan
sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan. (Hud: 123)
Maksudnya,
tiada sesuatu pun yang samar dari apa yang disembunyikan oleh orang-orang yang
mendustakanmu, hai Muhammad. Bahkan Dia Maha Mengetahui semua sikap dan ucapan
mereka. Maka kelak Dia akan memberikan balasannya kepada mereka dengan balasan
yang sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti mereka dengan balasan yang
sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti. Dan Allah akan menolongmu bersama
golonganmu dalam menghadapi mereka di dunia dan akhirat.
Ibnu
Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan
kepada kami Zaid ibnul Hubab, dari Ja'far ibnu Sulaiman, dari Abu Imran
Al-Jauni, dari Abdullah ibnu Rabah, dari Ka'b yang telah mengatakan bahwa
penutup kitab Taurat sama dengan penutup surat Hud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar